FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Citra anak motor yang identik dengan kecepatan dan bisingnya jalanan seketika luntur di lereng Gunung Lawu, Sabtu (10/10/2026). Akhir pekan ini, raungan mesin sepeda motor berganti menjadi harmoni alam yang menyejukkan lewat gelaran Lawu Motocamp – Collaboration Ride & Camp 2026.
Alih-alih adu cepat di jalanan, sebanyak 342 rider dari Karanganyar dan berbagai daerah justru diajak menikmati keindahan alam secara santai dan santun. Langkah ini menjadi cermin kolaborasi ciamik antara Pemerintah Kabupaten Karanganyar dan komunitas otomotif dalam mengemas hobi menjadi ajang green tourism (wisata ramah lingkungan) yang menyejahterakan warga lokal.
Menikmati Jalur tanpa Merusak Alam
Event yang berlangsung selama dua hari (10–11 Oktober 2026) ini mengusung konsep touring santai dan eksplorasi lingkungan. Tidak ada istilah tancap gas atau saling salip. Seluruh peserta bergerak tertib menyusuri rute sepanjang 130 kilometer yang membelah keasrian Tawangmangu, kebun teh Kemuning, hingga ketenangan Ngargoyoso.
Panitia membagi perjalanan menjadi dua karakter rute yang edukatif dan aman:
- Jalur Umum (80% Aspal/Cor): Ramah untuk sepeda motor harian maupun matik, cocok bagi rider yang ingin menikmati pemandangan dengan rileks.
- Jalur Enduro (80% Tanah): Ditujukan bagi pencinta tantangan medan tanah tanpa harus merusak ekosistem sekitar.
Untuk memastikan ketertiban dan tidak mengganggu pengguna jalan lain, pelepasan peserta dilakukan secara bertahap. Menariknya, Bupati Karanganyar H. Rober Christanto, S.E., M.M., tak hanya melepas rombongan pertama bersama Dandim 0727/Karanganyar Letkol Kav. Dhanang Prasetyo Kurniawan dan Kadisparpora Yopi Eko Jati Wibowo, tetapi juga ikut melebur menunggangi motor di rombongan paling belakang.
Dari Aspal Jalanan Menuju Tenda Camping
Eksplorasi alam ini tidak berhenti di stang motor. Setelah melintasi keindahan Bumi Intanpari, para peserta diajak “melunakkan hati” dengan berkemah bersama di kawasan Bukit Mongkrang hingga Minggu (11/10/2026). Sebelumnya, peserta luar kota juga diajak menginap di kawasan bersejarah De’Tasikmadoe Heritage.
Melalui konsep motocamp ini, para rider belajar untuk menyatu kembali dengan alam—menikmati malam di bawah langit Lawu, saling bertukar cerita di area kamping, dan mempraktikkan cara berwisata yang bertanggung jawab terhadap kebersihan lingkungan.
“Keindahan alam di Kabupaten Karanganyar sangat luar biasa. Monggo dinikmati, ajak semua keluarga. Nanti akan kita dampingi untuk menikmati destinasi wisata di Bumi Intanpari,” tutur Bupati Rober hangat saat menyapa para peserta.
Senyum Warga di Sepanjang Rute Touring
Sudut pandang terpenting dari event ini bukanlah seberapa jauh jarak yang ditempuh, melainkan dampak riil bagi isi dompet warga lokal. Kedatangan ratusan rider dari berbagai daerah menjadi “berkah dadakan” bagi ekosistem UMKM di lereng Lawu.
Warung makan kelontong, pedagang minuman hangat, penyedia jasa lokal, hingga pengelola kawasan wisata merasakan langsung perputaran ekonomi dari event ini. Fasilitas peserta seperti konsumsi dan area berkemah pun turut melibatkan potensi lokal sekitar.
Upaya ini menjadi bukti nyata semangat Sesarengan Mbangun Karanganyar—bahwa membangun daerah tak selalu lewat proyek besar, tetapi bisa dimulai dari ruang-ruang hobi yang disinergikan dengan potensi alam dan ekonomi kerakyatan.
Bupati Rober berharap Lawu Motocamp bisa terus konsisten digelar setiap tahun dan masuk dalam agenda resmi pariwisata Karanganyar. Jika dikelola secara berkelanjutan, motocamp berbasis wisata lingkungan ini diyakini mampu mengubah wajah dunia otomotif: dari sekadar hobi jalanan, menjadi gerakan melestarikan alam dan menyejahterakan masyarakat. ( bre )
