Fokus Jateng, MAGETAN—Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Sebelas Maret (LPPM UNS) Surakarta mendampingi pengelola Taman Wisata Genilangit di Desa Genilangit, Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, untuk mengembangkan potensi wisata dan ekonomi kreatif masyarakat.
Pendampingan dilakukan di antaranya melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), antara lain dengan membantu pengembangan animasi untuk mendukung promosi wisata serta memberikan stimulan peralatan usaha bagi pengelola.
Perwakilan Tim Pengabdian LPPM UNS Surakarta, Eny Lestari, mengatakan pendampingan dilakukan dari program KKN dalam beberapa periode. Mahasiswa dan tim pendamping membantu karang taruna bersama pemerintah desa mengembangkan potensi wisata agar lebih menarik dan memiliki daya dukung ekonomi bagi masyarakat.
Menurut Eny, pengembangan desa wisata tidak hanya bertumpu pada objek wisata alam, tetapi juga membutuhkan dukungan kreativitas dan usaha masyarakat. Karena itu, pendampingan turut diarahkan pada pengembangan animasi serta peningkatan usaha yang dikelola warga.
Selain itu, LPPM UNS memberikan bantuan mesin pembuat kopi atau coffee maker sebagai stimulan untuk mengembangkan usaha kantin di kawasan wisata.
Kepala Desa Genilangit, Pardi, mengatakan masyarakat mengembangkan berbagai produk yang memanfaatkan potensi lokal. Salah satunya adalah olahan labu siam menjadi keripik. Komoditas tersebut dipilih karena sesuai dengan karakteristik wilayah yang menghasilkan beragam sayuran.
Masyarakat juga mengembangkan batik dengan motif yang terinspirasi dari labu siam dan sayuran. Upaya tersebut diharapkan dapat memperkenalkan potensi pertanian desa melalui produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Menurut Pardi, keberadaan wisata turut membuka peluang usaha bagi warga. Ketika jumlah pengunjung meningkat, warung-warung di desa ikut merasakan dampaknya. Pengembangan wisata juga mendorong masyarakat yang sebelumnya mengandalkan sektor pertanian dan peternakan untuk mengembangkan usaha di bidang pariwisata tanpa meninggalkan pekerjaan utama mereka.
“Dampak yang langsung kepada masyarakat, kami bisa menumbuhkan UMKM. Ada batik, makanan olahan, kemudian warung-warung di desa,” ujar Pardi saat kunjungan Tim LPPM UNS ke Taman Wisata Genilangit, Rabu, 7 Oktober 2026.
Mengembangkan Wisata di Luar Spot Foto
Taman Wisata Genilangit mulai dirintis pada 2014–2015. Wisata yang memanfaatkan kawasan hutan tersebut sempat mengalami perkembangan pesat pada 2018–2019 hingga sebelum pandemi Covid-19. Pada periode itu, pengunjung ramai mendatangi sejumlah spot foto yang menjadi daya tarik utama.
Sekretaris Karang Taruna Genilangit sekaligus perwakilan dari Pengelola Taman Wisata Genilangit, Joko Sucipto, mengatakan perubahan minat pengunjung setelah pandemi membuat pengelola perlu mencari alternatif kegiatan wisata. Menurut dia, wisatawan kini lebih tertarik pada aktivitas seperti berkemah, pendakian, dan pertemuan komunitas.
“Setelah pandemi, minat pengunjung berbeda. Dulu orang senang berfoto dan bersantai, sekarang lebih ke aktivitas seperti camping, pendakian, dan kopdar komunitas,” kata Joko.
Pengelola kemudian mengembangkan potensi lain di sekitar kawasan wisata, salah satunya Gunung Kendil. Menurut Joko, pengembangan kawasan pendakian tersebut telah berjalan sekitar satu tahun dan memberikan dampak positif bagi pengelola.
Pengembangan ini menjadi salah satu upaya untuk mempertahankan keberlangsungan wisata Genilangit di tengah perubahan tren kunjungan. Pengelola tetap mempertahankan daya tarik alam dan spot foto yang sudah ada sembari menambah pilihan kegiatan bagi wisatawan.
Kepala Desa Genilangit, Pardi, mengatakan pengembangan wisata ke depan juga diarahkan untuk memanfaatkan potensi pendakian menuju Bukit Kendil. Kawasan tersebut dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan seiring dengan minat wisatawan terhadap aktivitas alam.
Animasi dan Pengembangan Usaha Kopi
Pendampingan LPPM UNS juga menyasar pengembangan kreativitas untuk mendukung pengelolaan desa wisata. Eny Lestari mengatakan mahasiswa yang mengikuti program KKN turut mendampingi karang taruna dalam membuat animasi sebagai bagian dari upaya mengembangkan wisata Genilangit.
Pendampingan tersebut berjalan beriringan dengan pengembangan usaha masyarakat dan fasilitas pendukung wisata. Menurut Eny, bantuan mesin pembuat kopi diberikan sebagai stimulan agar pengelola dapat mengembangkan layanan kantin dan membuka peluang usaha baru.
Joko mengatakan bantuan mesin kopi menjadi kesempatan bagi pengelola untuk mempelajari pengolahan dan penyajian kopi. Sebelumnya, pengetahuan pengelola mengenai peralatan dan proses pembuatan kopi masih terbatas.
Pengelola kemudian menjalin kolaborasi dengan SMK Poncol untuk memperoleh pendampingan mengenai cara mengoperasikan alat dan membuat kopi. Kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi warga Desa Genilangit untuk mengembangkan keterampilan di bidang tersebut.
Pardi berharap pendampingan perguruan tinggi dapat terus berlanjut, baik melalui program KKN maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Menurut dia, dukungan tersebut dibutuhkan agar pengelola dan masyarakat dapat mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Ia juga berharap Taman Wisata Genilangit dapat menjadi salah satu tujuan wisata pendukung di Kabupaten Magetan, yang selama ini dikenal dengan objek wisata Telaga Sarangan. Dengan pengembangan wisata alam dan ekonomi kreatif, masyarakat diharapkan memperoleh peluang usaha yang lebih beragam. (*Thia/***)
