Fokus Jateng, BOYOLALI -DALAM dunia seni pahat di Jawa Tengah, jarang sekali ada nama perempuan permahat. Budaya patriarki yang memposisikan perempuan di bawah lelaki menjadi penyebab utama dalam upaya pembentukan karier perempuan. Lelaki, yang dianggap sebagai pencari nafkah lebih diutamakan dalam urusan pendidikan dan akses aktualisasi diri. Lebih jauh, hal itu juga menjauhkan perempuan dari akses pada pendidikan dan peralatan seni. Tak heran bila seni pahat begitu langka dengan kemunculan perempuan pemahat.
Namun seiring dengan perbaikan zaman, perlahan perempuan pemahat akhirnya muncul.
Salah satunya Sukamti warga Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Di kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu ini, kerajinan tembaga telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama beberapa generasi.
Perempuan berusia 57 tahun ini mengaku telah menekuni pekerjaan memahat tembaga sejak 1985. Selama sekitar 41 tahun, Sukamti tetap konsisten bekerja sebagai pemahat tembaga. Keterampilan itu diperolehnya dari orang tua dan kemudian terus diasah bersama mendiang suaminya, Widodo.
“Di Tumang ini dari 100 orang cuma saya yang perempuan,” katanya.
Sukamti juga mengenang pesan mendiang suaminya yang mendorong dirinya memiliki keterampilan dan mampu mencari penghasilan sendiri.
“Yang mengajari saya suami saya dulu, Pak Widodo. Walau saya perempuan, kamu harus bisa. Kamu harus bisa mencari nafkah,” tuturnya.
Pesan tersebut terus dipegang Sukamti hingga kini. Baginya, menjadi perempuan bukan alasan untuk bergantung sepenuhnya kepada orang lain.
“Ya, kan saya harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk biaya anak sekolah, ya apa keperluan di rumah. Saya kan jadi tulang punggung di rumah,” ujar Sukamti.
Keterampilan Sukamti menjadi bagian penting dalam proses produksi kerajinan tembaga di Muda Tama Gallery. Pemilik usaha, Agus Susilo, menilai kemampuan Sukamti dalam memahat tembaga tergolong langka.
Menurut Agus, pemahatan membutuhkan keterampilan khusus karena tidak semua pekerja mampu menghasilkan pahatan yang halus dan rapi.
“Jadi kalau Ibu Sukamti itu memang spesial untuk memahat tembaga ya. Memahat tembaga itu memang sangat bagus sekali. Sekarang itu untuk memahat memang jarang, tapi kalau Ibu Sukamti ini memang dari dulu keahliannya adalah memahat,” ujar Agus.
Keahlian tersebut membuat Sukamti tetap dipercaya mengerjakan bagian pemahatan yang membutuhkan ketelitian tinggi.
Menurut Agus, karya handmade yang dibuat melalui proses pemahatan sebenarnya memiliki peluang untuk dijual dengan nilai lebih tinggi. Persoalannya, pasar dan branding produk kerajinan tersebut belum sekuat karya seni yang telah memiliki nama.
Salah satu produk yang memiliki nilai jual tinggi adalah lampu hias. Proses pembuatannya membutuhkan waktu dan keterampilan, terutama pada bagian ukiran dan pahatan yang dikerjakan secara manual. ( yull/**)
