FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Paroki St. Pius X Karanganyar pada Senin (19/1). Bukan sekadar ibadah rutin, momen ini menjadi simbol kuatnya tali persaudaraan di Bumi Intanpari. Ratusan umat Kristiani dari berbagai denominasi berkumpul dalam balutan hangat acara Pekan Doa Sedunia bagi Kesatuan Umat Kristiani.
Hadirnya jajaran pucuk pimpinan daerah, Bupati Karanganyar Rober Christanto dan Wakil Bupati Adhe Eliana, kian mempertegas pesan bahwa kerukunan antarumat beragama adalah fondasi utama pembangunan di Karanganyar.
Satu Tubuh, Satu Roh
Mengusung tema dari Efesus 4:4, “Satu Tubuh dan Satu Roh”, kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan global yang merayakan persatuan dalam keberagaman. Ketua Panitia, Yulius Romi Kristiantoro, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran pemerintah di tengah-tengah umat.
“Melalui Pekan Doa Sedunia ini, kami berharap seluruh gereja dapat bersatu sebagai satu tubuh dan berkontribusi positif bagi kemajuan daerah,” ujar Yulius dalam laporannya.
Bagi umat yang hadir, tema ini bukan sekadar kutipan ayat, melainkan ajakan nyata untuk keluar dari sekat-sekat perbedaan dan mulai mengambil peran aktif dalam kehidupan bermasyarakat.
Komitmen Merawat Kebhinekaan
Bupati Karanganyar, Rober Christanto, dalam sambutannya memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Menurutnya, pemandangan kebersamaan lintas gereja dan unsur Forkopimda ini adalah potret asli Karanganyar yang harmonis.
“Doa bersama ini mencerminkan kebersamaan yang luar biasa. Pemerintah sangat menghargai peran seluruh umat beragama dalam menjaga persatuan,” tutur Rober dengan penuh hangat.
Ia juga menitipkan pesan agar semangat saling mendoakan ini tidak berhenti di dalam gedung gereja saja, tetapi dibawa keluar ke kehidupan sehari-hari. Tujuannya satu: menjaga Karanganyar tetap menjadi daerah yang aman, rukun, dan kondusif bagi siapa saja.
Lebih dari Sekadar Seremonial
Acara yang berlangsung penuh kekeluargaan ini juga menjadi ruang silaturahmi. Antara pendeta, pengurus Persekutuan Doa Ibadah Kristiani (PDIK), pejabat pemerintah, dan warga biasa, semuanya melebur dalam obrolan hangat pasca-doa.
Momen ini menjadi pengingat bahwa di tengah dinamika zaman, doa adalah kekuatan yang mempersatukan, dan toleransi adalah nafas yang menghidupkan kemajemukan di Kabupaten Karanganyar. ( rls/ bre )
