Bupati Boyolali Terima Gelar Kanjeng Raden Riya Arya dari Pengageng Lembaga Dewan Adat Karaton Kasunanan Surakarta

kekancingan

Ketua DPRD Boyolali menerima kekancingan atau gelar kebangsawanan oleh Pengageng Lembaga Dewan Adat Karaton Kasunanan Surakarta, menjadi Kanjeng Raden Riya Arya Marsono Wreksonagoro, SH. (/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG- BOYOLALI-Bupati/ Wakil Bupati hingga Ketua DPRD Boyolali menerima kekancingan atau gelar kebangsawanan oleh Pengageng Lembaga Dewan Adat Karaton Kasunanan Surakarta. Gelar Kanjeng Raden Riya Arya diberikan langsung oleh Gusti Kanjeng Ratu Koes Moertiyah Wandansari atau dikenal dengan Gusti Moeng di Ruang Merbabu Kantor Bupati Boyolali. Kamis (4/11/2021).
Dengan pemberian gelar ini nama Bupati Mohammad Said Hidayat menjadi Kanjeng Raden Riya Arya Mohammad Said Hidayat Notodiningrat,SH. Kemudian Wakil Bupati menjadi Kanjeng Raden Riya Arya Wahyu Irawan Reksodiningrat,SH. Sedangkan nama Ketua DPRD Boyolali menjadi Kanjeng Raden Riya Arya Marsono Wreksonagoro, SH. Serta nama Sekda Boyolali menjadi Kanjeng Raden Riya Arya Drs H Masruri Rumeksonagoro.
Keempat pejabat itu termasuk total 61 pejabat dan anggota masyarakat yang juga menerima gelar dari Karaton Surakarta.
Menurut Bupati M Said Hidayat, dengan diterimanya gelar dari keraton maka tanggungjawab pun semakin bertambah berat. Yaitu, tanggungjawab untuk turut serta nguri- uri budaya Jawa secara terus- menerus.
“Memang gelar ini menuntut tanggungjawab yang semakin berat,” katanya usai penyerahan gelar.
Dijelaskan, langkah yang telah dilakukan antara lain dengan mewajibkan seluruh ASN untuk mengenakan pakaian adat nasional setiap hari Kamis.
“Bukan hanya adat Jawa namun pakaian adat nusantara. Silahkan saja dipilih yang sesuai. Seyogyanya pula, setiap Kamis, ASN juga menggunakan bahasa Jawa,” ujarnya.
Sedangkan Gusti Moeng menjelaskan, Karaton Surakarta dulu sebagai pusat pemerintahan di wilayah Jawa. Sehingga para pejabat, termasuk bupati di Boyolali dahulu juga dari keraton, Pejabat memiliki kewajiban menjaga dan mengembangkan budaya Jawa yang bersumber dari keraton.
“Setelah keraton tak puya wilayah karena menjadi bagian NKRI maka penghargaan atau gelar diberikan tokoh masyarakat, pejabat dan cendikiawan. Mereka inilah bersama keraton terus menjaga dan mengembangkan budaya Jawa,” pungkasnya.