Lawan Kemalasan Membaca Gen Z, Tim Dosen USD Semai “Extensive Reading” di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta

 

FOKUSJATENG.COM, YOGYAKARTA — Pesatnya perkembangan teknologi digital bak pisau bermata dua bagi generasi muda di Indonesia. Kehadiran berbagai konten singkat nan instan kerap membuat para remaja terlena. Tanpa disadari, fenomena ini perlahan menumpulkan daya kritis serta mengikis budaya membaca yang seharusnya dipupuk sejak dini. Tak jarang, para pelajar merasa cepat lelah dan kesulitan memahami makna saat dihadapkan pada teks bacaan yang agak panjang.

Kondisi ini menyulut keprihatinan di kalangan orang tua dan pendidik. Merespons tantangan tersebut, tim dosen dari Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta mengambil langkah nyata melalui program pengabdian masyarakat berbasis strategi Extensive Reading.

Dipimpin oleh Thomas Wahyu PM, M.Pd., bersama Yuseva Ariyani Iswandari, Ph.D., Dr. Heri Priyatmoko, serta dukungan dari sejumlah mahasiswa, tim ini hadir merangkul para siswa di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta. Mengikuti kebutuhan era modern, bahan bacaan yang disajikan menggunakan bahasa Inggris yang dikemas menarik—memadukan wawasan pengetahuan global sekaligus muatan budaya lokal.

“Selain bertambah mahir penguasaan Bahasa Inggris, peserta didik ini juga tidak tercerabut dari identitas daerahnya dan berani bersaing di tingkat global,” jelas Thomas Wahyu selaku ketua tim pengabdian dosen USD.

Pendampingan Berkala dan Suasana Belajar yang Cair

Program ini tidak sekadar membagikan buku, melainkan dilakukan melalui pendampingan secara berkala di sekolah untuk menjaga antusiasme dan memantau perkembangan belajar para murid.

Yuseva Ariyani Iswandari, pakar pendidikan anak lulusan The Ohio State University, Amerika Serikat, menekankan pentingnya pendekatan yang tepat agar siswa tidak merasa terbebani.

“Aksi Extensive Reading menuntut kami mendampingi para murid secara berkala untuk mengelola rasa ketertarikan dan mengukur tingkat kemajuan mereka. Bacaan yang kami bawa dari kampus cukup mereka senangi. Kontennya tidak berat dulu,” tutur Yuseva.

Suasana kelas pun berlangsung cair dan interaktif. Raut antusiasme terlihat jelas dari para siswa selama sesi berlangsung pada Kamis (22/10/2026).

“Wah, pengetahuan global dan kosakata saya juga nambah nih,” ujar salah seorang siswa dengan gembira sembari menunjukkan buku bacaannya di kelas.

Siswa lainnya turut menimpali manfaat yang dirasakannya. “Kami pun diajari memahami makna kalimat yang benar tanpa harus tergesa-gesa,” ungkapnya.

Melalui gerakan pendampingan ini, tim pengabdian USD berharap “virus” kegemaran membaca dapat kembali bersemi kokoh dalam jiwa Generasi Z. Lebih dari sekadar kemampuan berbahasa, penguatan wawasan global yang berakar pada budaya lokal ini diharapkan menjadi modal berharga bagi para generasi muda dalam menghadapi persaingan di kancah global. ( rls/bre )