Fokus Jateng, KARANGANYAR — Usaha anggrek di kawasan Kemuning, Karanganyar, mulai berkembang tidak sekadar sebagai kegiatan budidaya dan jual beli tanaman. Pendampingan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta mendorong pelaku usaha mengembangkan pembibitan, memperbaiki tata kelola, hingga merancang konservasi dan diversifikasi tanaman hias sesuai permintaan pasar.
Salah satunya dilakukan Kemuning Orchid yang dikelola Yanuar Mahir Hermawan. Usaha tersebut kini mengembangkan pembibitan anggrek menggunakan teknologi kultur jaringan, setelah sebelumnya menghadapi keterbatasan fasilitas produksi, modal, dan pengetahuan teknis.
Yanuar mengatakan pendampingan UNS membuat pengembangan usahanya lebih terarah. Ia tidak lagi hanya mengandalkan percobaan secara mandiri, tetapi mulai menggunakan data dan pengetahuan yang diperoleh selama proses pendampingan.
“Setelah mendapatkan pendampingan dari UNS, perubahan yang kami rasakan cukup besar. Kami menjadi lebih terarah. Banyak sharing data, pengalaman, dan pengetahuan yang kami dapatkan,” ujar Yanuar.
Kemuning Orchid mengembangkan sejumlah jenis anggrek, terutama Dendrobium dan Cattleya. Dalam proses produksi, usaha tersebut mendapat dukungan sejumlah peralatan seperti LAF (Laminar Air Flow), enkas, shaker, autoklaf, greenhouse, timbangan analitik, dehumidifier, air purifier, magnetic stirrer, serta bahan kimia untuk pembuatan media pertumbuhan.
Tambahan fasilitas tersebut membantu meningkatkan kapasitas produksi. Menurut Yanuar, pembibitan anggrek membutuhkan waktu cukup panjang sehingga ketersediaan ruang produksi dan penyimpanan menjadi bagian penting dalam menjaga sirkulasi usaha.
Perubahan juga terjadi dalam pengelolaan keuangan. Melalui pendampingan UNS, Kemuning Orchid mulai memisahkan keuangan usaha dan pribadi serta menghitung biaya produksi dan penggunaan bahan secara lebih terukur.
“Dari situ kami mulai bisa memisahkan antara keuangan pribadi dan keuangan usaha. Kami juga menjadi lebih tahu berapa biaya produksi sebenarnya, bagaimana penggunaan bahan, dan bagaimana melakukan efisiensi supaya biaya produksi bisa ditekan,” katanya.
Pengembangan usaha anggrek juga dilakukan Pabongan Orchid yang dikelola Miftakhussurur. Dalam kunjungan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS, Kamis, 1 Oktober 2026, dibahas pengembangan usaha yang tidak hanya bertumpu pada anggrek.
Pabongan Orchid berencana menambah jenis tanaman hias lain untuk merespons permintaan pasar. Salah satu tanaman yang dipertimbangkan adalah bromelia. Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari inovasi usaha agar pilihan tanaman yang ditawarkan kepada konsumen semakin beragam.
Di sisi lain, Miftakhussurur juga menyiapkan pengembangan anggrek dengan konsep konservasi. Sejumlah spesies akan dikembangkan secara lebih khusus sehingga Pabongan Orchid tidak hanya menjadi tempat produksi tanaman hias, tetapi juga memiliki fungsi untuk menjaga dan mengembangkan keragaman jenis anggrek.
Rencana tersebut menjadi salah satu bentuk pengembangan usaha yang diarahkan agar kegiatan ekonomi dan upaya konservasi dapat berjalan bersamaan. Anggrek tetap dikembangkan sebagai komoditas, sementara jenis-jenis tertentu mendapat ruang untuk dikembangkan dan dipelihara secara khusus.
Kunjungan ke Kemuning Orchid dan Pabongan Orchid dilakukan tim LPPM UNS yang dipimpin Kepala Seksi Peraihan Dana Pengabdian Masyarakat Eksternal dan Pengembangan Pusat Studi LPPM UNS, Sarjiyanto, S.E., MBA., Ph.D., CSRS, bersama Tim Pengabdian kepada Masyarakat UNS yang diketuai Prof. Dr. Okid Parama Astirin, M.S.
Okid mengatakan pendampingan kepada para pelaku usaha anggrek merupakan bagian dari sejumlah program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara berkelanjutan, di antaranya PDB, PTTI, dan PMKI.
Menurut dia, setiap program memiliki sasaran dan fokus berbeda sehingga dukungan yang diberikan kepada mitra dapat saling melengkapi. Pendampingan juga disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pelaku usaha.
“Program-program tersebut bukan merupakan duplikasi dalam pengadaan peralatan, tetapi saling melengkapi. Kemuning Orchid lebih banyak mengembangkan anggrek dalam bentuk botolan atau bibit, sedangkan mitra sasaran lainnya lebih berfokus pada pengembangan anggrek dewasa,” ujar Okid.
Ia mengatakan pembibitan anggrek secara kultur jaringan membutuhkan keterampilan khusus. Selain bahan dan peralatan, proses tersebut membutuhkan ketelitian serta pengalaman yang diperoleh melalui pendampingan secara berkelanjutan.
Selama sekitar tiga tahun pendampingan, Kemuning Orchid mulai menunjukkan perkembangan dalam produktivitas maupun pemasaran. Usaha tersebut juga mengembangkan sekolah anggrek dan sekolah pembenihan anggrek yang dapat dimanfaatkan mahasiswa maupun masyarakat untuk belajar budidaya.
Menurut Okid, saat ini terdapat enam fasilitas atau ruang yang dapat digunakan untuk kegiatan produksi, magang, dan pembelajaran. Fasilitas tersebut dibangun secara bertahap melalui sejumlah program pengabdian sesuai kebutuhan mitra dan ketersediaan anggaran.
“Yang mengembangkan unit usaha adalah mitra yang kami dampingi. Dosen memiliki tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Melalui kegiatan pengabdian ini, kami berupaya membantu masyarakat agar semakin mandiri dan sejahtera,” kata Okid.
Pendampingan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan produksi. Pengembangan diversifikasi tanaman, pembibitan, hingga konservasi anggrek menjadi bagian dari upaya membangun usaha tanaman hias yang memiliki nilai ekonomi sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat di kawasan Kemuning. (*Thia/Bre)
