Fokus Jateng, KARANGANYAR — Pendampingan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membantu UMKM Gethuk Bu Sri di Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar, meningkatkan efisiensi produksi sekaligus memperluas pemasaran. Teknologi tepat guna yang diterapkan membuat pengolahan adonan lebih cepat dan memungkinkan produk dikirim ke konsumen di luar daerah.
Pendampingan dilakukan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS melalui Riset Group (RG) Manajemen Inovasi dan Agribisnis. Program tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari pengembangan produk gethuk dan timus hingga penerapan mesin pengaduk, teknologi pengemasan vakum, serta pendampingan pemasaran.
Kepala Seksi Peraihan Dana Pengabdian Masyarakat Eksternal dan Pengembangan Pusat Studi LPPM UNS, Sarjiyanto, mengatakan evaluasi dilakukan untuk memastikan program pengabdian perguruan tinggi memberikan dampak bagi masyarakat.
“Harapannya, kami dari perguruan tinggi tentunya ingin memberikan dampak kepada masyarakat,” ujar Sarjiyanto saat mengunjungi Omah Produksi Gethuk Bu Sri, Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut dia, teknologi yang diberikan kepada mitra merupakan bagian dari hilirisasi teknologi tepat guna yang dikembangkan di lingkungan UNS. Teknologi tersebut dirancang agar dapat digunakan UMKM tanpa menimbulkan beban biaya perawatan yang tinggi.
“Teknologi tepat guna yang ditransfer diharapkan murah dan ramah energi, sehingga perawatannya tidak membebani mitra,” katanya.
Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Ir. Mohamad Harisudin, mengatakan teknologi tersebut diberikan setelah tim UNS memetakan kebutuhan dan persoalan yang dihadapi Gethuk Bu Sri. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah proses pengadukan adonan timus yang membutuhkan tenaga cukup besar dan waktu lama.
“Saat itu kami berpikir, ketika formula timusnya sudah siap bersaing, ada keresahan karena tenaga untuk mengaduk cukup besar dan membutuhkan waktu lama. Maka kami mencoba mengenalkan teknologi tepat guna untuk pengadukan adonan,” ujar Harisudin.
Mesin pengaduk membantu mengolah adonan dalam jumlah lebih besar dengan hasil yang lebih merata. UNS juga memberikan mesin vakum untuk mendukung pengemasan produk agar lebih aman ketika dikirim ke luar daerah.
Pendampingan tidak hanya berupa pemberian alat. Tim UNS turut membantu menentukan jenis plastik, tekanan, serta waktu vakum yang sesuai untuk masing-masing produk.
“Kadang alat tidak mesti langsung sesuai dengan permasalahan. Karena itu, kami tetap mendampingi dan mencari solusi sampai akhirnya teknologi tersebut dapat digunakan dengan baik oleh mitra,” kata Harisudin.
Pemilik Gethuk Bu Sri, Tatik Setyaningsih, mengatakan mesin pengaduk membuat proses produksi jauh lebih efisien. Satu adonan dengan berat sekitar 20 kilogram kini dapat diproses sekaligus dalam waktu sekitar 15 menit.
“Sebelumnya harus dilakukan sedikit demi sedikit sehingga membutuhkan waktu lebih lama,” ujar Tatik.
Dengan waktu produksi yang lebih singkat, kapasitas usaha yang sebelumnya hanya sekitar dua hingga tiga adonan per hari dapat ditingkatkan. Efisiensi tersebut juga dinilai penting karena sebagian besar pekerja di Gethuk Bu Sri merupakan perempuan.
Teknologi vakum juga mengubah pola pemasaran produk. Gethuk, timus, dan sejumlah produk lainnya kini dapat dikemas dan dikirim kepada konsumen di luar kota dengan kondisi yang lebih terjaga.
“Sekarang gethuk, timus, dan produk yang lain sudah kami vakum. Sampai di tempat tujuan juga lebih aman, baik bentuk maupun kualitasnya. Masa simpannya juga menjadi lebih panjang,” kata Tatik.
Pemasaran Gethuk Bu Sri kini tidak hanya mengandalkan satu kios di depan Pasar Kemuning. Produk juga dijual dari rumah produksi, melalui penjualan daring, serta disalurkan ke sejumlah restoran dan kafe.
Perluasan pasar tersebut turut meningkatkan omzet usaha. Tatik menyebut kenaikan omzet mencapai lebih dari 50 persen setelah jangkauan pemasaran bertambah.
“Kalau omzet juga naik. Kalau dihitung, lebih dari 50 persen karena jangkauannya lebih luas,” ujarnya.
Kembangkan Wisata Edukasi
Gethuk Bu Sri berdiri sejak 2018. Usaha tersebut awalnya hanya melayani penjualan secara daring melalui WhatsApp dengan sistem cash on delivery (COD). Sekitar tujuh bulan kemudian, usaha berkembang dengan membuka tempat berjualan di depan Pasar Kemuning.
Seiring bertambahnya pelanggan, Tatik mengembangkan rumah produksi dan memperluas jenis produk. Selain gethuk dan timus, Gethuk Bu Sri kini memproduksi kroket, risol mayo, tahu bakso, pastel, hingga singkong beku.
Usaha tersebut juga dikembangkan menjadi wisata edukasi. Kelompok ibu-ibu PKK dan pelajar dari wilayah Soloraya dapat melihat sekaligus mempraktikkan pembuatan gethuk dan timus.
“Banyak pengunjung yang datang dan meminta edukasi bagaimana cara membuat gethuk dan timus. Akhirnya kami membuka wisata edukasi, khususnya untuk gethuk dan timus,” tutur Tatik.
Dalam pengembangan produk, Gethuk Bu Sri tetap menggunakan singkong lokal jenis Jarak Towo yang berasal dari kawasan lereng Gunung Lawu. Harisudin mengatakan karakter bahan baku lokal tersebut turut memengaruhi cita rasa produk.
“Produk yang dibuat dari bahan yang berbeda tentu memiliki karakter rasa yang berbeda. Karena itu, Gethuk Bu Sri menggunakan singkong Jarak Towo yang berasal dari wilayah sekitar lereng Gunung Lawu,” katanya.
Tatik berharap pengembangan usaha bersama pendampingan UNS dapat membuat produk olahan singkong dan ubi jalar tersebut semakin dikenal. Ia juga ingin inovasi produk menjadi salah satu cara agar makanan tradisional tetap diteruskan ke generasi berikutnya.
“Harapan kami Gethuk Bu Sri semakin luas dikenal. Jangan sampai makanan tradisional ini berhenti pada generasi sebelumnya. Kami ingin terus berinovasi agar gethuk dan timus bisa menjadi sesuatu yang lebih berkembang,” ujar Tatik. (*Thia/Bre)
