Tak Sekadar Pentas, FMTI 2026 Bangun Ekosistem Musik Tradisi

Fokus Jateng, SOLO — Musik tradisi Indonesia tak sekadar menyimpan cerita masa lalu. Di tangan para seniman dan komunitas, musik tradisi terus tumbuh, beradaptasi, dan menemukan bentuk baru sesuai perkembangan zaman.

Semangat itulah yang dibawa Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026. Tahun ini, FMTI hadir di 10 kota dengan mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”.

Sepuluh daerah tersebut yakni Bogor, Wonosobo, Maumere, Makassar, Kuningan, Aceh, Mataram, Pontianak, Bengkulu, dan Batusangkar.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengatakan musik tradisi merupakan sumber kreativitas yang terus berkembang di tengah masyarakat. Karena itu, keberadaannya perlu dirawat sekaligus diberi ruang untuk berkembang.

“Melalui Festival Musik Tradisi Indonesia, kami ingin memperluas ruang bagi komunitas, seniman, generasi muda, dan masyarakat di berbagai daerah untuk terus merawat sekaligus mengembangkan musik tradisi,” ujar Fadli Zon melalui video saat jumpa pers di Surakarta, Kamis 24 September 2026.

Menurut dia, keberlanjutan musik tradisi tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk yang sudah ada. Musik tradisi juga perlu diberi ruang untuk berdialog dengan perkembangan zaman dan kreativitas generasi baru.

Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra mengatakan FMTI tidak ditempatkan semata sebagai panggung pertunjukan.

“FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik tradisi secara menyeluruh,” katanya.

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan melalui pendekatan yang berbeda di setiap daerah. Komite FMTI Suban Sipakatau mengatakan festival berupaya membangun ekosistem musik tradisi yang berangkat dari kekuatan komunitas lokal.

“Jadi sebenarnya kita mau membangun ekosistem daerah. Misalnya Wonosobo, kita bangun dari potensi yang ada di Wonosobo,” kata Suban.

Dengan pendekatan itu, setiap kota tidak harus menghadirkan bentuk festival yang seragam. Potensi kesenian, komunitas, serta karakter musik tradisi setempat menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan FMTI.

Direktur Kreatif FMTI Joko Suranto atau Joko S. Gombloh menyebut konsep tersebut sebagai Root vs. Route atau Akar vs Rute.

Konsep ini membuka ruang bagi musik tradisi untuk menjelajah berbagai kemungkinan baru tanpa harus kehilangan akar budayanya. Proses “merajut” menjadi gambaran bagaimana beragam tradisi musik Nusantara yang tersebar di berbagai daerah dapat saling terhubung.

Direktur Festival FMTI Gondrong Gunarto menambahkan, musik tradisi memiliki posisi penting sebagai sumber pengembangan karya. Karena itu, festival diharapkan tidak berhenti ketika panggung pertunjukan selesai.

Sebaliknya, jejaring yang terbentuk antara seniman, komunitas, generasi muda, dan pelaku budaya diharapkan terus berkembang di masing-masing daerah.

Rangkaian FMTI 2026 akan dimulai di Bogor pada 3 Oktober 2026. Selanjutnya festival digelar di Wonosobo pada 17 Oktober, kemudian Maumere pada 23-24 Oktober dan Makassar pada 28-29 Oktober 2026.

Pada November, FMTI berlanjut ke Kuningan pada 7 November serta Aceh pada 14-15 November. Setelah itu, festival menyambangi Mataram pada 5 Desember 2026.

Rangkaian FMTI kemudian berlanjut pada 2027. Pontianak menjadi tuan rumah pada Januari, disusul Bengkulu pada 16-17 April, dan Batusangkar pada Mei 2027.

Pemilihan 10 daerah tersebut bukan tanpa alasan. Masing-masing wilayah memiliki potensi musik tradisi yang berkembang bersama masyarakatnya.

Dari sanalah FMTI 2026 mencoba memulai perjalanan: bukan sekadar menghadirkan musik tradisi ke atas panggung, tetapi mempertemukan akar budaya dengan rute perjalanan baru agar musik Nusantara tetap hidup, tumbuh, dan menemukan pendengarnya di setiap generasi. (AN/***)