Fokus Jateng- BOYOLALI,-Pemkab Boyolali membangun fasilitas sumur bor untuk membantu mengatasi krisis air bersih dan pasokan air irigasi. Langkah ini diambil guna menjaga pasokan air irigasi sekaligus meningkatkan Indeks Pertanaman di wilayah terdampak.
“Untuk menghadapi kekeringan yang diperkirakan sampai Oktober, Boyolali mendapat bantuan sekitar 73 unit sumur dalam dari pemerintah pusat. Saat ini proses pembangunan sudah berjalan di Klego, Karanggede, dan beberapa kecamatan lain. Sumurnya sudah mulai berhasil,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Suyanta, Jumat 28 Agustus 2026.
Menurut, setiap unit sumur diproyeksikan mampu mengairi 7 hingga 10 hektar lahan pertanian. Dengan begitu, dampak kekeringan pada sektor pertanian dapat diminimalkan.
“Hingga akhir Agustus ini, realisasi fisik pembangunan sumur dalam telah mencapai hampir 60 persen. Meski secara umum berjalan lancar, kendala teknis sempat terjadi di Desa Jagoan karena tanah bagian dalam ambrol, Namun saat ini sedang proses rehabilitasi,” jelasnya.
Dijelaskan, proyek ini menggunakan alokasi anggaran tahun 2026 dari Kementerian Pertanian, dengan rata-rata biaya Rp110 juta hingga Rp150 juta per unit. Pemkab Boyolali juga berkontribusi pembangunan 3 unit sumur melalui anggaran daerah.
“Tujuan utamanya meningkatkan Indeks Pertanaman. Karena memperluas lahan sawah tidak memungkinkan, maka frekuensi tanamnya yang kita tingkatkan,” katanya.
Cuaca kering dan serangan hama sempat menekan produktivitas pertanian di Boyolali. Suyanta mengakui adanya penurunan hasil panen sekitar 3 persen. Meski demikian, Suyanta menegaskan ketahanan pangan daerah masih berada di posisi sangat aman.
“Hasil panen kita memang sempat berkurang sekitar 3 persen akibat serangan hama. Namun berdasarkan perhitungan, Boyolali masih memiliki surplus sekitar 7 ribu ton. Cadangan pangan kita aman setidaknya sampai Oktober mendatang,” ucapnya. (yull/***)
