Dari Kunyit Menjadi Batik: Siswa SD N 1 Suwatu Belajar Berkarya dengan Bahan Sederhana

Oleh: Nabilla Hasna Muaszaro dan Mustika Aji Nugroho
Mahasiswa  Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Fokus Jateng- SRAGEN – Kunyit yang selama ini dikenal sebagai bumbu dapur ternyata dapat menjadi media menarik untuk belajar seni. Hal tersebut dibuktikan melalui kegiatan Sosialisasi Batik Asam Basah Kertas yang dilaksanakan mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta bersama siswa kelas 3 SD N 1 Suwatu, Desa Suwatu, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen.
Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 29 Juli 2026 pukul 09.00 WIB ini menjadi pengalaman belajar yang berbeda bagi para siswa. Mereka tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai teknik membatik, tetapi juga diajak langsung membuat karya menggunakan bahan sederhana seperti kertas, kunyit, air, dan deterjen.
Belajar Seni dengan Cara yang Menyenangkan
Kegiatan tersebut merupakan Program Kerja Individu KKN PPM Universitas Slamet Riyadi Surakarta dengan judul “Sosialisasi Batik Asam Basah Kertas di SD N 1 Suwatu.”
Mahasiswa memperkenalkan batik asam basah kertas sebagai salah satu bentuk kegiatan seni yang sederhana dan mudah dipraktikkan oleh siswa sekolah dasar. Penggunaan bahan yang mudah ditemukan membuat kegiatan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Salah satu hal yang menarik perhatian siswa adalah penggunaan kunyit sebagai pewarna alami. Bahan yang biasa mereka temui di dapur diperkenalkan dalam konteks yang berbeda, yaitu sebagai bagian dari proses menghasilkan karya seni.
Setelah mendapatkan penjelasan, siswa melihat demonstrasi yang diberikan mahasiswa sebelum kemudian mencoba membuat karya secara berkelompok. Mereka diberi kesempatan menentukan motif sesuai dengan kreativitas masing-masing.
Kreativitas Siswa Mulai Bermunculan
Memasuki tahap praktik, suasana kelas semakin aktif. Siswa mulai berdiskusi menentukan motif, berbagi tugas, menggunakan alat secara bergantian, dan saling membantu dalam menyelesaikan karya.
Setiap kelompok menghasilkan karya dengan motif yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi gambaran bahwa setiap siswa memiliki ide dan cara berekspresi yang beragam.
Kegiatan ini tidak hanya bertujuan menghasilkan karya seni. Siswa juga dilatih untuk mengembangkan kreativitas, ketelitian, kesabaran, tanggung jawab, keberanian mencoba, dan kemampuan bekerja sama.
Antusiasme Siswa Jadi Tantangan Sekaligus Kekuatan
Antusiasme siswa yang tinggi membuat suasana kelas sempat menjadi lebih ramai ketika praktik berlangsung. Selain itu, terdapat perbedaan tingkat pemahaman dan keaktifan antarsiswa.
Untuk mengatasinya, mahasiswa memberikan instruksi secara bertahap, melakukan demonstrasi langsung, membagi peran dalam kelompok, serta memberikan pendampingan secara bergiliran. Dengan cara tersebut, siswa tetap dapat mengikuti kegiatan sesuai kemampuan masing-masing.
Meskipun terdapat beberapa kendala, kegiatan secara keseluruhan berjalan dengan baik. Siswa mampu mengikuti tahapan praktik dan menghasilkan karya batik asam basah kertas secara berkelompok.
Membuktikan Pembelajaran Bisa Berawal dari Hal Sederhana
Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembelajaran seni tidak selalu membutuhkan bahan dan peralatan yang mahal. Bahan sederhana yang ada di sekitar dapat menjadi media untuk menumbuhkan kreativitas dan rasa ingin tahu siswa.
Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru untuk belajar melalui praktik langsung. Bagi sekolah, kegiatan dapat menjadi alternatif pembelajaran seni yang kreatif dan menyenangkan. Sementara bagi mahasiswa, kegiatan menjadi pengalaman dalam menerapkan pengetahuan pendidikan sekaligus menjalankan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta berharap siswa semakin berani mencoba, berkreasi, dan melihat lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. ( ist/**)