FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Gunung Lawu yang megah kini tengah menguji ketangguhan kita bersama. Kobaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lereng Kabupaten Karanganyar kian meluas hingga diperkirakan mencapai 100 hektar pada Sabtu (17/10/2026).
Di tengah ujian alam ini, Polda Jawa Tengah bergerak cepat merangkul seluruh pemangku kepentingan. Bukan sekadar memadamkan api, kehadiran jajaran kepolisian dan tim gabungan di lapangan adalah wujud kepedulian bersama untuk melindungi ekosistem hutan dan keselamatan warga sekitar.
Menggandeng Pemerintah Pusat demi Bantuan Udara
Hembusan angin kencang serta vegetasi yang mengering akibat kemarau ekstrem membuat api merambat cukup cepat ke arah Taman Hutan Raya (Tahura) Ngargoyoso. Berdasarkan pantauan udara menggunakan drone thermal, titik api aktif sempat melonjak dari 4–6 titik menjadi 11 titik.
Melihat eskalasi tersebut, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Pol. Roy Hardi Siahaan, turun langsung meninjau Posko Penanganan Karhutla di Gondosuli, Tawangmangu. Polda Jateng kini tengah berkoordinasi intensif untuk mengusulkan penetapan status darurat bencana agar Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dapat memimpin langsung operasi penanganan berskala besar, termasuk menghadirkan armada water bombing.
“Medan lereng gunung sangat terjal sehingga upaya pemadaman konvensional memiliki keterbatasan yang besar. Kami telah berkoordinasi secara vertikal dengan Mabes Polri, Baharkam, hingga BNPB untuk memohon bantuan helikopter water bombing,” tutur Irjen Pol. Roy dengan penuh kehangatan dan ketegasan.
Kemanusiaan di Medan Terjal: Ratusan Personel Gabungan Bahu-Membahu
Di balik kepulan asap di lereng Lawu, ada cerita perjuangan pantang menyerah dari ratusan pahlawan kemanusiaan. Sebanyak 304 personel gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, hingga relawan se-Solo Raya menyatukan langkah demi menghadang laju api.
Strategi pemadaman dibagi ke dalam dua titik utama:
- Posko Utama (Candi Cetho/Cemorokandang): Disiagakan 244 personel, di mana 145 di antaranya telah mendaki dan menerjang medan terjal demi mendekati titik api.
- Posko II (Jalur Pendakian Tambak, Desa Berjo): Menerjunkan 60 personel, dengan 45 relawan tangguh yang bertarung langsung di garis depan.
Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, mengungkapkan bahwa pemadaman darat mengandalkan kerja keras dan kebersamaan melalui teknik gepyok serta pembuatan jalur sekat bakar (firebreak).
“Di area tengah gunung, keterbatasan alat modern menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, cara-cara tradisional seperti pembuatan sekat bakar menjadi tumpuan utama agar api tidak melompat mendekati permukiman warga maupun jalur pendakian,” jelas Adhe.
Edukasi Penjagaan Alam dan Langkah Jangka Panjang
Hingga saat ini, pihak berwenang memastikan bahwa asap maupun kobaran api belum berdampak pada kawasan permukiman di dataran rendah. Namun, demi keselamatan bersama, seluruh jalur pendakian Gunung Lawu resmi ditutup total untuk sementara waktu.
Bencana ini juga menjadi refleksi mendalam bagi kita semua tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Meskipun BPBD Karanganyar menduga api bermula dari gesekan serasah dedaunan kering akibat cuaca terik, Polda Jateng yang sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) mengindikasikan adanya dugaan potensi kelalaian manusia (human error).
Polda Jateng terus mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bersama: satu percikan api kecil dari kelalaian dapat mengancam ribuan hektar ruang hidup flora, fauna, dan masyarakat di sekitar gunung.
Sebagai bentuk pembelajaran dan antisipasi jangka panjang, Pemkab Karanganyar juga telah merencanakan pembangunan infrastruktur tandon dan bak penampungan air berskala besar di kawasan lereng pada tahun anggaran 2027 mendatang. Langkah strategis ini diharapkan dapat mempermudah pasokan air jika tantangan serupa kembali terjadi di masa depan.
Melalui sinergi ketat antara petugas, relawan, dan kepedulian masyarakat, harapan untuk memulihkan kembali keasriannya Gunung Lawu kini terus diperjuangkan bersama. ( bre )
