FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Warisan sejarah tak selalu tersimpan rapat di museum berpendingin udara. Sering kali, jejak-jejak peradaban justru tersembunyi di sudut-sudut rumah warga, bertahan melewati waktu—bahkan selamat dari musibah.
Kisah inilah yang mewarnai langkah Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Kabupaten Karanganyar bersama masyarakat dalam menyelamatkan naskah-naskah kuno berharga peninggalan masa lalu.
Selamat dari Kebakaran, Dibawa Pulang ke Karanganyar
Salah satu naskah kuno yang kini berhasil teridentifikasi berasal dari kepemilikan Sita Ratih Pratiwi (53), warga Gaum, Tasikmadu, Karanganyar. Sita, yang merupakan keturunan abdi dalem Keraton Surakarta, menceritakan bahwa keberadaan dokumen tua tersebut ditemukan secara tidak sengaja saat membersihkan rumah orang tuanya pascakebakaran hebat pada tahun 2010 silam.
“Waktu itu rumah bapak saya di Jayengan, Solo, kebakaran tahun 2010. Saat bersih-bersih, saya menemukan sebagian naskah yang selamat, lalu saya sisihkan dan saya bawa ke Karanganyar sekitar tahun 2022 karena di rumah lama sudah tidak ada yang merawat,” ungkap Sita, Rabu (14/10/2026).
Sita menjelaskan, nenek buyutnya dahulu merupakan bagian dari keraton sekaligus pengusaha batik yang bermukim di Jayengan, kawasan bersejarah yang dahulu menjadi tempat tinggal prajurit khusus keraton. Kegemaran membaca dari generasi ayah dan kakeknya disinyalir menjadi alasan mengapa literatur-literatur tua tersebut tersimpan rapi.
Meski belum mengetahui detail isi naskah secara utuh, Sita memilih menyerahkan proses kajian fisik dan historisnya kepada tim ahli Disarpus Karanganyar agar nilai keilmuan yang terkandung di dalamnya dapat terungkap.
Khazanah Pengetahuan dalam Lembaran Kertas Tua
Pustakawan Disarpus Karanganyar, Priyanto, menjelaskan bahwa bundel naskah milik Sita memuat empat karya penting dalam satu dokumen bersampul karton setebal 200 halaman kertas folio bergaris. Naskah berukuran 31,6 x 20,9 sentimeter yang ditulis dengan aksara dan bahasa Jawa tersebut merangkum:
- Serat Waduaji: Catatan daftar nama dan tugas abdi dalem keraton.
- Serat Tatakrami Kadhaton: Panduan ragam bahasa dan etika lingkungan keraton.
- Serat Nitimani: Tuntunan hubungan keluarga/kamasutra Jawa.
- Serat Widyakirana: Pandangan dan pemikiran kosmologi Jawa.
Meski terdeteksi mengalami korosi tinta tingkat ringan, kondisi fisik naskah dinilai masih sangat memungkinkan untuk diselamatkan melalui proses penanganan khusus dan alih media digital.
Digitalisasi: Langkah Nyata Menjaga Nyawa Literasi
Sebagai bentuk penanganan cepat, Disarpus Karanganyar langsung merespons dengan memfasilitasi peminjaman sementara naskah untuk diproses digitalisasinya di kantor Disarpus. Langkah ini diambil guna memastikan salinan digital naskah aman dan dapat diakses untuk kepentingan pendidikan tanpa merusak dokumen aslinya.
Upaya ini melengkapi gerakan pelestarian yang telah berlangsung sejak awal pekan. Sebelumnya pada Senin (12/10/2026), tim Disarpus bersama peneliti dari Institut Studi Al-Qur’an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta serta ahli filologi Fakultas Ilmu Budaya UNS Surakarta juga mengidentifikasi lima buku naskah kuno era 1930-an milik Aprilia Tri Hananto, warga Tegalasri, Bejen, Karanganyar. Naskah tersebut memuat tulisan beraksara Jawa dan Latin dengan isi seputar catatan spiritual Rajah Kalacakra hingga karya sastra monumental Pujangga Ronggowarsito.
Mengembalikan History kepada Generasi Mendatang
Priyanto menegaskan bahwa semangat pelestarian naskah kuno bukan sekadar mengejar pengakuan formal atau sertifikasi—seperti keberhasilan empat naskah kuno Karanganyar yang lolos verifikasi dan bersertifikat resmi Perpusnas pada tahun 2025 lalu.
“Fokus utama program ini bukan sekadar mengejar sertifikasi. Banyak naskah kuno yang berada di genggaman masyarakat. Melalui pendataan dan digitalisasi ini, keterbukaan informasi sejarah tetap terjaga dan menjadi khazanah pengetahuan bagi generasi mendatang,” pukas Priyanto.
Melalui sinergi erat antara pemerintah, akademisi, dan kesadaran masyarakat pemilik naskah, lembaran-lembaran bisu dari masa lalu kini kembali bersuara—memberikan edukasi dan kearifan bagi generasi masa kini dan masa depan. ( bre )
