Fokus Jateng, MAGETAN-Pendampingan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta membantu Bank Sampah Sapu Jagad (BSSJ) di Kabupaten Magetan, Jawa Timur meningkatkan kapasitas pengolahan sampah sekaligus mengembangkan produk bernilai ekonomi.
Bank sampah yang berada di Sumberrejo RT 03/RW 03, Desa Ringinagung, Kecamatan Magetan, itu mengolah berbagai jenis sampah kering menjadi produk kerajinan dan furnitur. Salah satu produk yang dikembangkan adalah sofa ecobrick dari botol plastik.
Direktur BSSJ, Juli Kuswanto mengatakan pendampingan UNS telah berlangsung sejak bank sampah tersebut mulai berkembang. Selain memberikan pendampingan, UNS memberikan sejumlah peralatan untuk mendukung kegiatan produksi dan pengelolaan administrasi.
“UNS sudah berkenan membimbing kami dari nol hingga sekarang bisa dikenal di mana-mana. Kami juga mendapat bantuan peralatan, mulai komputer, mesin produksi, hingga peralatan lainnya,” kata Juli saat menerima kedatangan tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS meninjau lokasi BSSJ, Rabu, 7 Oktober 2026.
BSSJ berdiri pada 10 Januari 2014. Pada awal berdiri hingga sekitar 2018, sampah yang diterima sebagian besar masih berupa sampah campuran. Pengelola harus mengambil sampah dari rumah warga menggunakan kendaraan pikap sebelum melakukan pemilahan secara manual.
Seiring edukasi dan sosialisasi, warga mulai memilah sampah dari rumah. Sampah yang disetorkan ke BSSJ kini lebih banyak dalam kondisi sudah terpilah.
“Sekarang masyarakat sudah mulai memilah sampah dari rumah. Jadi, sampah yang dibawa ke sini sudah dalam kondisi terpilah. Ini merupakan hasil edukasi dan sosialisasi yang terus kami lakukan,” ujar Juli.
Menurut dia, edukasi menjadi bagian penting dari kegiatan BSSJ. Pengelola memberikan sosialisasi kepada pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah, kelompok ibu-ibu PKK, dan masyarakat lainnya.
Sampah yang terkumpul kemudian diolah menjadi berbagai produk, seperti sofa dari botol plastik, tempat pensil, tas, tempat penyimpanan kantong plastik, dan kerajinan lainnya.
Produk sofa ecobrick BSSJ telah dipasarkan ke sejumlah daerah, antara lain Surabaya, Sukoharjo, dan Kalimantan. BSSJ juga menerima kunjungan dari masyarakat maupun kelompok dari daerah lain yang ingin belajar mengenai pengelolaan sampah.
Juli mengatakan bantuan peralatan dari UNS turut meningkatkan kapasitas produksi. Sebelumnya, BSSJ hanya mampu menghasilkan sekitar satu hingga dua set produk per hari. Kini kapasitas produksi dapat mencapai sekitar lima set per hari.
“Satu set produk bisa bernilai sekitar Rp2 juta. Dengan adanya bantuan peralatan dari UNS, proses produksi menjadi lebih cepat dan kapasitas kami meningkat,” katanya.
Selain menjual produk, BSSJ memanfaatkan media sosial untuk pemasaran, di antaranya melalui TikTok dan Instagram Rumah Kreatif BSSJ. Kegiatan pelatihan dan edukasi di sejumlah daerah juga menjadi salah satu sarana memperkenalkan produk mereka.
Juli mengatakan pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan keuntungan ekonomi. Menurut dia, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya membantu pemerintah menangani persoalan sampah melalui pemilahan, pengolahan, dan pemanfaatan kembali.
“Harapan kami, gerakan ini bisa terus berkembang dan semakin banyak masyarakat yang sadar bahwa sampah yang dikelola dengan baik dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Perwakilan LPPM UNS, Prof. Dr. Eng. Ir. Syamsul Hadi, S.T., M.T., mengatakan pendampingan BSSJ merupakan bagian dari upaya perguruan tinggi meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengelola sampah.
Menurut dia, dukungan kepada BSSJ tidak hanya berupa pemberian peralatan. UNS juga melakukan pendampingan sesuai kebutuhan mitra dan kapasitas program yang tersedia.
“Pendampingan yang dilakukan UNS tidak hanya berupa bantuan peralatan. Ketika mitra membutuhkan mesin atau peralatan pendukung lainnya, UNS berupaya membantu sesuai kebutuhan,” kata Syamsul.
Ia mengatakan kerja sama perguruan tinggi dengan masyarakat perlu diarahkan pada peningkatan kapasitas dan kemandirian mitra. Pengelolaan sampah, menurut dia, dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Syamsul mengatakan pengembangan BSSJ juga sejalan dengan konsep ekonomi sirkular. Sampah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah dapat diolah kembali menjadi barang yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi.
UNS berharap pendampingan terhadap BSSJ dapat terus berkembang sehingga praktik pengelolaan sampah berbasis masyarakat tersebut dapat diterapkan di wilayah lain. /*Thia
