Fokus Jateng – BOYOLALI – Di tengah prediksi kemarau ekstrem akibat El Nino kuat, justru mendatangkan berkah tersendiri bagi petani tembakau. Sebab, saat panen seperti sekarang ini, dalam produksinya membutuhkan pemanasan alami maksimal. Sehingga hasil produksi tembakau menjadi semakin berkualitas.
Untuk mendapatkan pemanasan alami yang maksimal, para petani ini menjemur tembakau tidak di daerahnya, mereka tak segan harus turun gunung. Seperti yang dilakukan petani di lereng Merapi-Merbabu Kecamatan Selo dan Cepogo.
“Kalau tidak ke lahan kosong ya lapangan,” kata Mujiyono (43), warga Desa Genting, Kecamatan Cepogo, saat menjemur tembakau di lahan terbuka Desa Karanggeneng Boyolali. Selasa 6 Oktober 2026.
Belasan mobil pikap milik petani dari Selo dan Cepogo berdatangan membawa tembakau rajangan untuk dikeringkan. Tembakau rajangan tersebut sudah diletakkan di widig atau anyaman bambu tempat menjemur tembakau.
“Saya kebetulan membawa 75 widig dengan menggunakan mobil pikap,” tuturnya.
Dia mengaku sengaja membawa turun tembakau karena cuaca di desanya tidak menentu. Padahal, tembakau rajangan harus bisa kering dalam sehari agar kualitasnya bagus. Jika tidak, maka kualitas anjlok karena tembakau menjadi berwarna kehitaman.
‘Alhamdulillah teriknya matahari ini membuat daun tembakau lebih memiliki kualitas. Karena panas tersebut menghasilkan aroma yang lebih kuat dan getahnya semakin pekat,” imbuhnya.
Ia menambahkan, dampak panas itulah yang membuat daun tembakaunya bisa memiliki bobot dan kualitas yang lebih baik. Bahkan, panasnya terik matahari juga mempersingkat waktu penjemuran
“Dengan panas yang sekarang ini, kita jemur 2-3 hari sudah bisa diangkat dan keringnya sudah merata,” jelasnya.
Mereka juga berharap prediksi kemarau panjang benar-benar berpihak pada mereka. Bagi petani tembakau, kondisi kering yang konsisten bukanlah ancaman, melainkan peluang untuk menghasilkan kualitas terbaik. (Yull/**)
