FOKUSJATENG.COM-SRAGEN – Perkumpulan Pengusaha Gading Sukowati (P2GS) menggelar pelantikan kepengurusan baru untuk periode 2026–2029. Dalam kepengurusan periode ini, Sri Rahayu, S.T.P., M.M. yang akrab disapa mbak Yayuk Yako resmi terpilih sebagai Ketua P2GS usai melalui proses pemilihan langsung oleh seluruh anggota pada Juni lalu.
Sebagai ketua terpilih yang menaungi sekitar 362 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Kabupaten Sragen, Yayuk mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang dihadapi para pelaku usaha saat ini adalah masalah pemasaran dan makin ketatnya persaingan produk. Kondisi pasar yang sedang lesu turut berdampak pada penurunan daya beli masyarakat.
”Tantangan terberat ke depan adalah persaingan produk dan pemasaran. Sekarang pasar sifatnya bebas, banyak produk masuk dari luar daerah maupun luar pulau. Karena itu, kami mendorong anggota UMKM Gading Sukowati untuk terus berinovasi tanpa mengesampingkan cita rasa khas produk yang sudah ada,” kata Yayuk Rabu (30/9/2026).
Selain itu, untuk periode 2026-2029, beberapa prioritas program kerja yang akan dikembangkan antara lain
1. Melanjutkan dan memperkuat program MENJAMAN menjadi masyarakat mandiri melalui sosialisasi, edukasi, pelatihan, pendampingan, monitoring, evaluasi, dan pengembangan secara berkelanjutan.
2. Penguatan kapasitas UMKM melalui pelatihan produksi, manajemen usaha, pengemasan, branding, pemasaran, digitalisasi, serta peningkatan mutu dan daya saing produk.
3. Pendampingan legalitas dan kelembagaan usaha, antara lain NIB, sertifkasi halal, serta kebutuhan administrasi usaha sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Memperkuat 20 Koordinator Kecamatan sebagai ujung tombak organisasi agar pembinaan semakin dekat dengan anggota dan kelompok UMKM di seluruh wilayah Kabupaten Sragen.
5. Membangun sistem monitoring dan evaluasi kelompok binaan agar perkembangan, kendala, kebutuhan, dan potensi setiap kelompok dapat dipetakan serta ditindaklanjuti.
6. Memperluas kemitraan dengan Pemerintah Kabupaten Sragen, lembaga keuangan, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, media, serta berbagai pihak yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan UMKM.
7. Membuka dan memperluas akses pasar melalui pameran, promosi, pemasaran digital, jejaring usaha, kemitraan pemasaran, serta penguatan branding produk lokal.
8. Mendorong keterhubungan antara UMKM, potensi lokal, ketahanan pangan, lingkungan, dan penguatan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari semangat kemandirian.
“Kami ingin P2GS tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang untuk bergerak, belajar, berkolaborasi, dan menghasilkan manfaat. Karena itu, keberhasilan program tidak akan hanya diukur dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa jauh kegiatan tersebut menghasilkan perubahan dan kemandirian bagi anggota. Prinsip kami sederhana yang sudah baik, kita lanjutkan yang belum sempurna, kita perbaiki; yang belum terjangkau kita dekati dan yang belum terwujud, kita perjuangkan bersama,” bebernya.
Rencananya, P2GS akan menjalin kerja sama dengan pusat toko oleh-oleh yang tersebar di wilayah Jawa Tengah dan luar Jawa Tengah. Langkah ini diperkuat oleh keterlibatan Yayuk dalam Asosiasi Pengusaha Oleh-Oleh (Aspo) Jawa Tengah. ”Kami akan berkolaborasi dengan jaringan sesama anggota Aspo se-Jawa Tengah untuk memasok produk-produk UMKM dari Sragen,” terangnya.
Optimalisasi digitalisasi dan dukungan pemerintah di samping pemasaran jaringan (offline), P2GS mendorong optimalisasi pemasaran digital melalui berbagai platform e-commerce dan media sosial. Menurut Yayuk, pelaku UMKM generasi milenial sebagian besar sudah memanfaatkan platform digital untuk berjualan.
Mengenai digitalisasi, Yayuk menambahkan bahwa sebagian besar pelaku UMKM generasi muda (milenial) di kelompoknya sudah mulai mahir memanfaatkan platform e-commerce dan media sosial. Namun, pendampingan untuk pelaku UMKM senior yang masih mengandalkan penjualan offline akan terus dilakukan agar tidak tertinggal arus perubahan pasar.
Dalam menjalankan usahanya, para pelaku UMKM di Sragen juga mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah, mulai dari fasilitasi perizinan usaha, sertifikasi halal, pelatihan literasi digital, hingga penyediaan stan pameran gratis di berbagai ajang lokal maupun luar daerah.
Mengenai iklim usaha di Sragen, Yayuk memastikan kondisinya sangat kondusif dan bebas dari praktik pungutan liar maupun premanisme. Terkait perpajakan, para pelaku UMKM skala kecil masih mengacu pada regulasi pemerintah yang membebaskan pajak omzet bagi usaha dengan kriteria pendapatan di bawah Rp500 juta per tahun.Dalam kegiatan ini juga turut dihadiri Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen, Hargiyanto. (hr)
