Wisuda UNIBA Surakarta, Dua Legislator Bawa Persoalan Birokrasi ke Meja Tesis

Wisuda Program Sarjana Angkatan KE-59, Program Magister Manajemen Angkatan KE-38 dan Magister Hukum Angkatan KE-5 Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 Universitas Islam Batik (UNIBA) berlangsung di Gedung Graha Saba Buana Surakarta, Rabu, 30 September 2026. (Istimewa/*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA-Persoalan sumber daya manusia dan lingkungan kerja di Sekretariat DPRD Kota Semarang dan Kabupaten Klaten dibawa ke ruang akademik oleh dua legislator Jawa Tengah. Dinda Ari Ayu Isnani dan Edy Sasongko menjadikan persoalan yang mereka temui dalam pekerjaan sehari-hari sebagai bahan penelitian tesis di Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta.

Dinda, anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, meneliti efektivitas sumber daya manusia dan motivasi kerja pegawai di lingkungan Sekretariat DPRD Kota Semarang. Penelitian itu berangkat dari perannya sebagai legislator yang bersinggungan dengan pelayanan administrasi dan dukungan terhadap tugas-tugas legislasi.

Perkuliahan Magister Manajemen di UNIBA, kata Dinda, memberinya ruang untuk menguji persoalan pekerjaan melalui pendekatan akademik.

“Pengalaman menempuh pendidikan S2 Magister Manajemen di UNIBA sangat luar biasa,” ujar Dinda saat mengikuti wisuda di Gedung Graha Saba Buana, Rabu, 30 September 2026.

Di tengah kesibukannya sebagai anggota DPRD, Dinda menyelesaikan penelitian mengenai faktor yang dapat meningkatkan motivasi kerja pegawai. Ia menyebut dukungan dosen dan diskusi dengan sesama mahasiswa membantu proses penyelesaian tesis.

Edy Sasongko membawa persoalan berbeda. Ketua DPRD Kabupaten Klaten itu meneliti pegawai Sekretariat DPRD Klaten dengan melihat pengaruh burnout, lingkungan kerja, budaya organisasi, dan work-life balance terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB).

Pengalaman sebagai kepala desa sebelum menjadi anggota legislatif selama empat periode membuat Edy bersinggungan dengan pengelolaan sumber daya manusia. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pijakan untuk penelitian akademiknya.

“Dalam riset tesis, kami meneliti secara mendalam bagaimana pengaruh burnout, lingkungan kerja, budaya organisasi, serta work-life balance terhadap Organizational Citizenship Behavior (OCB) para pegawai,” kata Edy.

Penelitian itu antara lain menghasilkan rekomendasi penataan tugas dan beban kerja berdasarkan kompetensi pegawai atau prinsip meritokrasi. Menurut Edy, pembagian pekerjaan sesuai kompetensi dapat membantu mengurangi tekanan kerja sekaligus membuka ruang kontribusi pegawai dalam organisasi.

Pada usia 56 tahun, Edy menyelesaikan pendidikan magisternya. Ia menilai pengalaman kerja dan jabatan tidak seharusnya menghentikan seseorang untuk kembali belajar.

“Dunia terus berubah dan tantangan perekonomian maupun tata kelola pemerintahan semakin kompleks. Untuk menjawabnya, kita membutuhkan SDM yang adaptif,” ujarnya.

Edy juga menjadi perwakilan wisudawan yang menyampaikan sambutan. Ia menyatakan para lulusan siap menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah sebagai sarana memberi manfaat dan membawa perubahan positif, dengan tetap menjaga nilai-nilai keislaman dalam kehidupan.

Kehadiran Dinda dan Edy menjadi bagian dari gambaran lebih luas para wisudawan UNIBA yang datang dari berbagai profesi. Selain legislator, terdapat kepala rumah sakit, lurah, anggota DPRD, hingga pengelola lembaga pelatihan kerja yang kembali menempuh pendidikan tinggi.

Di antara mereka adalah dr. Henny Puspitosari Utami, M.Si., Kepala RSUD Ir. Soekarno yang menyelesaikan Magister Manajemen. Ada pula Widodo, M.H., anggota DPRD Sragen, yang menyelesaikan Magister Hukum; Hardiman, M.Si., Lurah Parangjoro, dan Muhammad Hafidz, SE., M.Si., anggota Dewan Pembina Yapertib, yang menyelesaikan Magister Manajemen.

Alumni Fakultas Pertanian yang melanjutkan pendidikan Magister Manajemen, Edi Subagyo, SP., M.Si., juga mengikuti wisuda. Ia kini mengelola lembaga pelatihan kerja untuk penempatan tenaga kerja ke Korea.

Para profesional tersebut mengikuti Sidang Senat Terbuka Wisuda Semester Gasal Tahun Akademik 2026/2027 UNIBA Surakarta. Dalam wisuda Program Sarjana ke-59, Magister Manajemen ke-38, dan Magister Hukum ke-5 itu, UNIBA meluluskan 204 wisudawan, terdiri atas 141 lulusan sarjana dan 63 lulusan magister.

Sebanyak 144 lulusan meraih predikat cumlaude. Fakultas Hukum menyumbang 82 lulusan, Fakultas Ekonomi 81 lulusan, Fakultas Pertanian 22 lulusan, dan Fakultas Teknik 19 lulusan.

Fakultas Ekonomi mencatat 43 lulusan Magister Manajemen, 18 lulusan Manajemen, dan 20 lulusan Akuntansi. Sementara Fakultas Hukum meluluskan 62 mahasiswa Program Studi Hukum dan 20 mahasiswa Magister Hukum.

Setelah prosesi wisuda, UNIBA memberikan penghargaan kepada wisudawan terbaik serta pasangan orang tua dan anak. Penghargaan pasangan orang tua-anak diberikan kepada Nur Malasari, MH., bersama Qonitah Zalfa Primayudhana, SH., dan Muhammad Fakhrozi, S.Ak., serta Oscar Prasetyo Adhi, MH., bersama Fathah Oscar, MH.

Penghargaan juga diberikan kepada orang tua Mahendra Prasetya Indah Dermawan, mahasiswa Program Studi Hukum yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Ketua Senat UNIBA Surakarta Dr. Suhendro, SE, M.Si, Ak, memimpin sidang senat terbuka tersebut. Dalam amanatnya, Rektor UNIBA Surakarta Ipmawan Muhammad Iqbal, S.Ag, M.Ag, mengingatkan para wisudawan bahwa gelar akademik bukan akhir proses belajar.

Menurut Ipmawan, menjadi sarjana justru menjadi awal bagi lulusan untuk memberikan kontribusi nyata melalui keilmuan yang telah diperoleh.

“Jadilah pembawa solusi, bukan bagian dari masalah,” ujar Ipmawan.

Ia juga meminta para lulusan membangun sinergi dan tidak mengandalkan kemampuan secara individual. Menurut dia, tantangan saat ini membutuhkan kerja sama dan tim yang saling menguatkan.

“Tanggalkan ego, dan bangun sinergi. Zaman ini tidak lagi membutuhkan orang yang hebat sendirian,” katanya.

Selain kemampuan akademik dan kerja sama, Ipmawan mengingatkan pentingnya menjaga spiritualitas di tengah kehidupan digital. Ia meminta lulusan melibatkan nilai-nilai keagamaan dalam menentukan langkah dan menjalankan cita-cita.

“Bergabunglah dalam gerakan-gerakan kebaikan. Jangan berdiri sendiri, karena sejatinya kita ini diciptakan untuk hidup berjamaah, bukan berjalan seorang diri,” kata dia. (*Thia/***)