Kemarau Panjang, Debit Air Waduk Bade dan Cengklik Surut

Ilustrasi (Dok /Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-BOYOLALI-Memasuki puncak kemarau yang ditandai minimnya curah hujan membuat debit air yang masuk ke Waduk Cengklik, dan Waduk Bade Kabupaten Boyolali mengalami penurunan signifikan.

Terhitung sejak 5 bulan ini , debit air di kedua waduk menyusut hingga mencapai 50 persen. Kondisi tersebut membuat permukaan air waduk mulai menyusut dan sejumlah bagian tepian waduk yang sebelumnya terendam kini mulai mengering dan tanah terlihat merekah. Lahan tersebut kemudian dimanfaatkan warga untuk dijadikan area pertanian.

“Iya, ketersediaan air di dua waduk utama di Boyolali mengalami penurunan signifikan. kondisi ini menuntut penyesuaian pola tanam bagi para petani, serta penertiban pemanfaatan lahan waduk yang mengering,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Boyolali, Suyanta, Rabu 30 September 2026.

Dijelaskan bahwa dua waduk utama yang berada di bawah kewenangan provinsi, yakni Waduk Bade di Kecamatan Klego dan Waduk Cengklik kini menghadapi penurunan debit dan volume air yang cukup tajam.

Berdasarkan data Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Semarang, Waduk Bade memiliki daerah layanan irigasi seluas kurang lebih 1.353 hektare* yang mengairi sejumlah desa di Kecamatan Andong dan Klego.

“Dengan menurunnya ketersediaan air, seluruh areal layanan tersebut perlu diantisipasi melalui pemilihan pola tanam yang tepat agar ketersediaan air tetap mencukupi,” katanya.

Merujuk Keputusan Bupati Boyolali tentang Pedoman Pelaksanaan Pola Tanam dan Tata Tanam pada Daerah Irigasi di Waduk Bade, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) merekomendasikan petani untuk menanam palawijapada Musim Tanam III, serta petani tidak dianjurkan menanam padi demi menghindari krisis air.

“Jika ingin memanfaatkan lahan tersebut, warga harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan pengelola waduk untuk memastikan pemanfaatannya aman dan sesuai ketentuan,” pungkasnya. ( yull/**)