S2 Pendidikan Sains, S2 Pendidikan Fisika dan S2 Pendidikan Kimia Berkolaborasi Selenggarakan SNPS 2026

Fokus Jateng,SURAKARTA– Program studi (prodi) S2 Pendidikan Sains, prodi S2 Pendidikan Fisika dan prodi S2 Pendidikan Kimia berkolaborasi selenggarakan Seminar Nasional Pendidikan Sains (SNPS) 2026. Acara SNPS 2026 dihadiri ketua prodi S2 Pendidikan Sains, Dr. Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D, ketua prodi S2 Pendidikan Kimia, Prof. Dr. Sri Retno Dwi Ariani, S.Si, M.Si, ketua prodi S2 Pendidikan Fisika, Dewanto Harjuno Wibowo, S.Si, M.Si, Ph.D, para dosen dan mahasiswa dari masing-masing prodi.

Kolaborasi 3 (tiga) prodi Magister Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sebelas Maret ((UNS) Surakarta mengambil tema “Transformasi Pendidikan Kimia, Fisika, dan IPA di Era Kecerdasan Buatan : Mengintegrasikan Pendekatan STEM, Literasi AI, dan Teknologi imersif Untuk pembelajaran Sains Masa Depan”, Sabtu, 26 September 2026.

Dalam sambutannya, ketua Panitia SNPS 2026 dari kolaborasi S2 Pendidikan Sains, S2 Pendidikan Fisika dan S2 Pendidikan Kimia FKIP UNS Surakarta, Dr. Puguh Karyanto, S.Si, M.Si, Ph.D. mengatakan bahwa seminar ini digagas sebagai wadah sinergi ketiga program studi untuk merespons cepat perkembangan kecerdasan buatan yang berdampak langsung pada praktik pembelajaran sains di berbagai jenjang pendidikan. Kolaborasi lintas program studi ini sengaja dirancang agar perspektif pendidikan sains, fisika, dan kimia dapat saling melengkapi dalam merumuskan strategi pembelajaran berbasis STEM, literasi AI, dan teknologi imersif secara lebih utuh.

“Kami berharap SNPS 2026 saat ini tidak sekadar menjadi forum diskusi satu arah saja, melainkan dapat melahirkan gagasan konkret dan membuka peluang kolaborasi lanjutan antar peserta, baik dalam bentuk penelitian bersama maupun pengembangan bahan ajar inovatif, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan dunia pendidikan sains di Indonesia,” paparnya.

 Selanjutnya kegiatan SNPS 2026 dibuka Wakil Dekan Bidang Akademik dan Penelitian FKIP UNS, Prof. Dr.paed. Nurma Yunita Indriyanti, M.Si., M.Sc yang dalam menegaskan pentingnya integrasi kecerdasan buatan, pendekatan STEM, dan teknologi imersif dalam pembelajaran sains untuk mempersiapkan calon pendidik yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

 

*Meratakan Literasi AI*

Pada kegiatan SNPS 2026 disampaikan materi yang sangat inspiratif dan komprehensif yang mengupas tuntas tentang integrasi STEM dengan literasi AI dan teknologi immersif sebagai fondasi pendidikan di masa depan. Materi pertama disampaikan Prof. Dr. Nadi Suprapto, S.Pd., M.Pd., Ph.D. merupakan dosen dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Pada pemaparan materi disampaikan bahwa dengan mengkaitkan tradisi lokal berkonsep sains ke tingkat global melalui pendekatan STREAM-STEM-STREM yang memungkinkan guru bisa menghubungkan materi IPA dengan lingkungan sekolah untuk membentuk keterampilan 4C (Critical Thinking, Creativity, Collaboration, Communication) siswa.

“Proses belajar ini makin optimal berkat teknologi imersif yang memberi ruang bagi siswa untuk bereksperimen secara langsung dan mandiri,” katanya.

Lebih jauh, di tengah pesatnya perkembangan AI dan kemajuan teknologi, penting bagi pendidik untuk memastikan praktik pedagogi terus bertransformasi dan tidak berjalan di tempat. Materi yang dipaparkan terkait tradisi lokal berkonsep sains yang dibawa pada tingkat global dengan pendekatan STREAM-STEM-STREM memberikan insipirasi kepada semua bahwa melalui metodologi yang tepat, sinergi antara kearifan lokal dan sains terbukti mampu menembus panggung internasional.

Narasumber kedua, Arif Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd., Ph.D. yang juga dosen Universitas Negeri Semarang, menyampaikan pembelajaran mendalam yang bermakna (meaningful learning) yang dirancang agar siswa dapat menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari sekaligus bersiap menghadapi era robotik dan kecerdasan buatan (AI). Pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) hadir sebagai solusi melalui tiga ciri utamanya: pemecahan masalah nyata, praktikum sains dan rekayasa engineering, serta integrasi lintas disiplin ilmu.

Dijelaskan, untuk menunjang hal ini, kompetensi guru perlu ditingkatkan secara bertahap melalui pemahaman STEM melalui kesadaran (awareness), perancangan (design), pengembangan (development), penerapan (implementation), refleksi (reflection) hingga inovasi (innovation). Guru juga dapat mengintegrasikan AI secara praktis dalam penyusunan ide proyek, desain awal, modul ajar, LKPD, hingga instrumen evaluasi. Meski demikian, tantangan integrasi AI dalam pendidikan IPA tetap perlu diantisipasi, terutama terkait literasi AI yang belum merata, risiko ketergantungan teknologi, serta isu etika penggunaannya di masa depan. “Pemanfaatan teknologi imersif yang melibatkan siswa secara aktif tidak hanya membantu mereka memecahkan masalah konkret di era AI dan robotik, tetapi juga melatih kesadaran emosional dan nalar kritis untuk memanfaatkan kecerdasan buatan tersebut secara bijak dan bertanggung jawab,” terang Arif.

 

*Mitra Pembelajaran*

Selanjutnya, pemaparan materi dari narasumber terakhir disampaikan Dr. Irwanto, S.Pd, M.Pd, dosen Universitas Negeri Jakarta menyampaikan penggunaan teknologi imersif seperti Virtual Reality (VR) labs aktif melibatkan siswa dalam proses pembelajaran, sementara Augmented Reality (AR) yang dipadukan Inquiry Learning membantu siswa memahami tiap tahapan pemecahan masalah. Pemanfaatan AR terbukti bermanfaat nyata meningkatkan pencapaian (achievement), kemampuan kognitif, serta motivasi belajar siswa, dimana studi Systematic Literature Review (SLR) menunjukkan tren penelitian STEM global saat ini masih didominasi oleh Amerika Serikat.

Menurutnya, implikasinya bagi pendidik, pengalaman berbasis teknologi ini harus selaras dengan tujuan pembelajaran, tetap menghadirkan bimbingan guru serta menyeimbangkan penggunaan VR/AR dengan metode pembelajaran secara terintegrasi mengoptimalkan keterampilan siswa. Selain itu, dalam sesi tanya jawab ditekankan pentingnya penggunaan AI secara bijak dan proporsional, yang disertai pemaparan tips publikasi internasional mengenai strategi manfaatkan integrasi teknologi memperbesar peluang menembus jurnal bereputasi.

“Pada akhirnya, pemanfaatan teknologi imersif melibatkan siswa secara aktif dan tidak hanya membantu memecahkan masalah konkret, tetapi juga melatih kesadaran memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak dan bertanggung jawab,” papar Dr. Irwanto, S.Pd, M.Pd.

Ketiga pemaparan ini, menegaskan satu pandangan yang sama, yakni teknologi imersif dan kecerdasan buatan bukan sekadar alat bantu, melainkan mitra pembelajaran yang bila dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab, mampu melatih siswa memecahkan masalah nyata sekaligus menumbuhkan kesadaran kritis menghadapi era digital. Melalui SNPS 2026 FKIP UNS Surakarta berharap sinergi tiga program studi magisternya terus melahirkan gagasan dan kolaborasi nyata bagi kemajuan pendidikan sains di Indonesia. Di akhir acara dilanjutkan dengan sesi paparel, dikuti 35 orang pemakalah, dimana masing-masing mempresentasikan artikelnya. (ist/***)