Fokus Jateng, SURAKARTA—Seorang pemain Punakawan tiba-tiba turun dari panggung Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, Rabu malam, 23 September 2026. Ia berjalan menghampiri SISKS Pakubuwono XIV (KGPH Hangabehi) atau PB XIV yang tengah duduk menyaksikan pertunjukan bersama keluarga, sentono dalem, dan abdi dalem.
Pemain tersebut kemudian bersalaman dengan PB XIV. Aksi spontan di tengah pementasan itu sontak mengundang tawa penonton sekaligus membuat suasana gedung pertunjukan menjadi lebih cair.
PB XIV merespons momen tersebut dengan santai. Raja Karaton Surakarta Hadiningrat itu tetap menyaksikan jalannya pertunjukan hingga selesai.
Kehadiran PB XIV malam itu juga bukan sekadar sebagai penonton. Gedung Wayang Orang Sriwedari memiliki kaitan dengan perjalanan panjangnya di dunia seni pertunjukan sebelum dirinya bertakhta.
Seusai pementasan, PB XIV menghampiri para pemain. Ia berbincang dengan sejumlah seniman dan memberikan semangat kepada mereka.
Pertemuan tersebut sekaligus mempertemukan kembali PB XIV dengan sejumlah pelaku seni yang pernah berada satu panggung dengannya ketika masih bergelar GPH Mangkubumi dan kemudian KGPH Hangabehi.
Koco, salah seorang pemain Wayang Orang Sriwedari sekaligus abdi dalem Karaton Surakarta, mengatakan dirinya pernah satu panggung dengan PB XIV pada masa tersebut.
Menurut Koco, salah satu peran yang pernah dimainkan PB XIV adalah tokoh buto atau raksasa. Mereka pernah tampil bersama dalam sejumlah pementasan di Karaton Surakarta, kawasan Prambanan, hingga Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.
“Dulu pernah satu panggung dengan beliau. Salah satunya saat beliau memainkan tokoh buto,” ujar Koco.
Dalam sejumlah pementasan itu, Koco juga pernah tampil bersama BRM Parikesit Suryo Roseno atau Bobby serta BRM Bimo Rantas yang kini bergelar KRMH Djoyo Adilogo. Keduanya merupakan cucu SISKS Pakubuwono XII.
Koco mengatakan pertemuan kembali di Sriwedari mengingatkannya pada masa ketika mereka masih bersama-sama terlibat dalam pementasan seni.
PB XIV Bicara Pelestarian Budaya
Dalam kesempatan tersebut, PB XIV menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan kebudayaan Jawa. Seni pertunjukan dinilai menjadi salah satu ruang penting untuk membuat budaya tetap hadir di tengah masyarakat.
PB XIV juga menyinggung keterkaitan seni dan budaya dengan pariwisata serta ekonomi kreatif. Pertunjukan seni dapat menjadi daya tarik wisata yang kemudian ikut menggerakkan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Sektor kuliner, kerajinan, transportasi, hingga UMKM dapat ikut berkembang ketika aktivitas seni dan budaya mampu menarik masyarakat maupun wisatawan.
Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari malam itu juga dihadiri penonton dari kalangan milenial dan Gen Z. Mereka menyaksikan langsung seni tradisi yang telah menjadi bagian dari sejarah budaya Surakarta.
Wayang Orang Sriwedari memadukan seni peran, tari, musik, dan cerita yang bersumber antara lain dari kisah Mahabharata dan Ramayana.
Jejak Panjang Wayang Orang Sriwedari
Wayang Orang Sriwedari memiliki perjalanan panjang dalam perkembangan seni pertunjukan di Surakarta. Kelompok tersebut berkaitan dengan para mantan abdi dalem Pura Mangkunegaran yang sebelumnya memiliki pengalaman memainkan wayang orang di lingkungan istana.
Setelah tidak lagi menjadi abdi dalem, mereka membentuk kelompok pertunjukan dan tampil secara berkeliling. Perkembangannya kemudian mendapat dukungan Gan Kam, pengusaha keturunan Tionghoa yang melihat potensi ekonomi dari kesenian tersebut.
Pertunjukan kemudian berkembang di kawasan Taman Sriwedari yang pada masa itu dikenal sebagai Kebon Rojo. Kawasan tersebut dibangun pada masa pemerintahan SISKS Pakubuwono X.
Gedung Wayang Orang Sriwedari selanjutnya menjadi salah satu ruang penting bagi keberlangsungan pertunjukan wayang orang di Surakarta. Popularitas kesenian tersebut juga berkembang melalui siaran radio Solosche Radio Vereeniging pada 1926.
Kini, Gedung Wayang Orang Sriwedari tetap menjadi salah satu ruang pertunjukan seni tradisi di Kota Surakarta.
Malam itu, kehadiran PB XIV menghadirkan cerita tersendiri. Ia datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi justru mendapat sapaan langsung dari seorang Punakawan yang meninggalkan panggung dan menghampirinya.
Batas antara pemain dan penonton pun sejenak mencair di tengah pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. (*Thia/***)
