Fokus Jateng-BOYOLALI,- Puluhan siswa dan 3 guru SMP Negeri 6 Boyolali, Kabupaten Boyolali, yang diduga mengalami gejala keracunan makan bergizi gratis (MBG) kini sudah sehat. Pada Senin 24 Agustus 2026, mereka kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) di sekolah.
Guru PJOK SMPN 6 Boyolali, Yupendi, memastikan seluruh siswa yang sebelumnya izin sakit sejak Jumat 22 Agustus 2026 kini telah mengikuti KBM seperti biasa
“Seluruh siswa saat ini sudah kembali masuk sekolah dan KBM berjalan normal. Terkait dugaan keracunan kemarin, sekolah sudah didatangi tim khusus dan pihak Puskesmas. Namun, kami masih menunggu hasil resmi dari Dinas Kesehatan dan laboratorium karena sekolah tidak berwenang memberikan kesimpulan medis,” ujar Yupendi ditemui wartawan, Senin.
Dijelaskan, setelah divalidasi, tidak semua dari 26 siswa tersebut mengalami gejala akibat keracunan. Sebagian memang mengeluhkan sakit perut dan demam, namun ada pula yang izin karena alasan lain.
“Dari total data yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan (Dinkes), terdapat 26 siswa izin sakit dan sekitar 16 siswa yang sempat diperiksa di lingkungan sekolah,” katanya.
Akibat kejadian ini, penyaluran program MBG di SMPN 6 Boyolali dihentikan sementara sambil menunggu instruksi dan arahan lebih lanjut dari Satgas terkait.
Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali, Muharyati mengatakan, menegaskan bahwa tim Dinkes bersama Puskesmas Boyolali 1 langsung bergerak ke lokasi sesaat setelah menerima laporan pada Jumat lalu.
“Menurut data pihak sekolah, awal mulanya ada 96 murid yang melaporkan gejala seperti mual, muntah, dan pusing. Sebanyak 17 murid langsung diperiksa oleh petugas Puskesmas Boyolali 1, sedangkan siswa lainnya sudah terlebih dahulu pulang dijemput orang tua,” jelas Muharyati.
Dia memastikan seluruh siswa yang diperiksa hanya menjalani rawat jalan dan tidak ada yang sampai dirujuk ke IGD maupun menjalani rawat inap di rumah sakit.
“Jadi untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut, sampel makanan telah dikirim ke Balai Laboratorium Kesehatan (Labkes) Provinsi Jawa Tengah di Semarang. Hasil pengujian diperkirakan keluar dalam waktu 10 hingga 14 hari,” katanya. ( yull/**)
