Nasyiatul Aisyiyah Dorong Kader Perempuan Muda Mandiri di Era Digital

Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Ariati Dina Puspitasari menyampaikan pidato pada Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jumat, 7 Agustus 2026. (Istimewa./*Thia/Fokusjateng.com)

Fokusjateng-SURAKARTA-Kemandirian ekonomi dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi perhatian utama Nasyiatul Aisyiyah dalam Muktamar ke-15 yang digelar di Ballroom Hotel Dwangsa Solo, Jumat, 7 Agustus 2026. Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Ariati Dina Puspitasari menilai perempuan muda perlu mengambil posisi lebih besar dalam menentukan arah pembangunan.

Hal itu disampaikan Ariati saat memberikan pidato iftitah dalam pembukaan Muktamar ke-15 yang mengangkat tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”. Menurut dia, bonus demografi harus menjadi peluang untuk memperkuat peran generasi muda, termasuk perempuan, bukan justru menjadi persoalan baru bagi pembangunan.

Berdasarkan data SUPAS 2025 yang dikutip Ariati, jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa. Sebanyak 68,98 persen di antaranya merupakan generasi muda. Besarnya jumlah tersebut, kata dia, harus diikuti dengan investasi pada pendidikan, kesehatan, serta perluasan ruang partisipasi perempuan.

“Perempuan muda tidak boleh lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi perancang, penggerak, sekaligus pengambil keputusan bagi masa depan bangsa,” kata Ariati dalam pidatonya.

Ariati juga menyoroti masih terbatasnya keterlibatan perempuan dalam sejumlah bidang strategis, terutama sains, teknologi, dan politik. Mengacu pada Global Gender Gap Report 2025, Indonesia berada di posisi ke-97 dari 148 negara.

Ia menyebut keterlibatan perempuan saat ini baru sekitar 27 persen di sektor teknologi baru, 35,7 persen di kalangan akademisi institut teknologi, serta 22,14 persen dalam politik. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya membuka lebih banyak akses bagi perempuan muda untuk berkembang dan mengambil peran kepemimpinan.

Selain persoalan kesenjangan gender, Nasyiatul Aisyiyah menempatkan krisis iklim sebagai tantangan yang tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan. Perempuan dinilai menjadi salah satu kelompok yang rentan terdampak bencana dan perubahan lingkungan.

Karena itu, Ariati mendorong penguatan kesadaran ekologis dalam gerakan Nasyiatul Aisyiyah. Ia menyebut pembangunan berkelanjutan harus dipandang sebagai tanggung jawab lintas generasi.

“Peradaban berkelanjutan bukanlah proyek jangka pendek, melainkan amanah lintas generasi. Memajukan perempuan muda bukan sekadar memperkuat peran perempuan, tetapi membangun masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan,” ujarnya.

Memasuki usia 95 tahun, Nasyiatul Aisyiyah menyiapkan sejumlah agenda strategis untuk memperkuat kemandirian kader. Di bidang ekonomi, organisasi tersebut mendorong konsep ecolivelihood, ekonomi hijau, ekonomi sirkular, ekonomi syariah, hingga penguatan ketahanan pangan keluarga.

Transformasi digital juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Nasyiatul Aisyiyah akan memperkuat literasi digital kader, mendorong pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI, meningkatkan branding organisasi, serta mengoptimalkan peran diaspora kader di ruang publik.

Menurut Ariati, agenda tersebut merupakan kelanjutan dari berbagai program yang telah dijalankan pada periode 2022–2026, antara lain PASHMINA, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, dan pelatihan paralegal.

“Seluruh fokus strategis ini bermuara pada penguatan ekosistem kepemimpinan perempuan muda yang melanjutkan keberhasilan program periode 2022–2026, dengan tetap berakar pada nilai tauhid dan akhlak,” kata dia.

Muktamar ke-15 diharapkan menjadi momentum bagi Nasyiatul Aisyiyah untuk melahirkan kepemimpinan baru yang mampu merespons perubahan zaman. Organisasi kader perempuan muda Muhammadiyah itu menargetkan gerakannya semakin adaptif saat memasuki abad kedua dengan tetap membawa nilai Islam berkemajuan. (Thia/**)