UNS Tuan Rumah Health Ecosystem Week, Dorong Hilirisasi Riset Kesehatan

Ketua Umum HIPELKI, Randy H. Teguh (empat dari kiri) menjelaskan tentang penyelenggaraan Health Ecosystem Week di Kampus Fakultas Teknik UNS Surakarta, Kamis (18/6/2026). (Thia /Fokusjateng.com)

Fokusjateng-SURAKARTA-Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Health Ecosystem Week yang digelar di Kampus Fakultas Teknik UNS pada Kamis, 18 Juni 2026. Forum ini mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, hingga komunitas dalam upaya memperkuat ekosistem inovasi kesehatan nasional, termasuk percepatan hilirisasi riset alat kesehatan.

Salah satu agenda utama kegiatan tersebut adalah Seminar Internasional yang menghadirkan sejumlah pembicara dari dalam dan luar negeri, di antaranya Prof. Evangelos Pappas dari RMIT University Australia, perwakilan HIPELKI, serta narasumber dari Kementerian Kesehatan dan lembaga inovasi kesehatan. Sejumlah pembicara dari kementerian terkait juga hadir secara daring.

Ketua Umum HIPELKI, Randy H. Teguh mengatakan ekosistem inovasi alat kesehatan di Indonesia berkembang signifikan sejak pandemi COVID-19, namun masih menghadapi tantangan pada tahap hilirisasi.

Ia menyebut sejumlah inovasi sudah lahir dari perguruan tinggi, termasuk UNS, seperti alat implan tulang ortopedi hingga pengembangan alat bantu napas yang sebelumnya masih bergantung pada impor.

“Kalau produk penelitian itu sudah cukup banyak, tetapi tantangannya ada di technology readiness level. Banyak yang belum sampai level siap masuk pasar. Ini PR kita bersama,” ujar Randy saat wawancara dengan wartawan.

Menurutnya, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah menjadi kunci agar hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat masuk ke pasar dan digunakan masyarakat.

Dari pihak perguruan tinggi, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Penelitian UNS, Fitria Rahmawati, menegaskan bahwa UNS berperan sebagai mitra strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi kesehatan.

Ia menekankan pentingnya transisi dari riset akademik menuju produk inovatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

“UNS tidak cukup hanya menghasilkan publikasi, tetapi harus menghasilkan produk inovatif yang bermanfaat. Selama ini memang ada gap antara riset dan hilirisasi, dan ini yang ingin kami jembatani melalui kolaborasi seperti ini,” kata Fitria.

Ia menambahkan, UNS saat ini juga tengah menginisiasi penguatan Science Techno Park untuk mempercepat proses hilirisasi, terutama di bidang kesehatan yang menjadi prioritas kampus.

Sementara itu, Kepala Pusat Kebijakan Sistem Sumber Daya Kesehatan BKPK Kementerian Kesehatan, Lupi Trilaksono, menekankan pentingnya pendekatan pentahelix dalam pengembangan ekosistem kesehatan.

Menurutnya, kerja sama antara akademisi, pemerintah, industri, komunitas, dan masyarakat diperlukan untuk memastikan inovasi kesehatan dapat menjawab kebutuhan nyata di lapangan.

“Yang paling penting adalah kebutuhan masyarakat. Kita harus memastikan teknologi kesehatan yang dikembangkan itu berkelanjutan dan mampu menjawab tantangan baru, mulai dari penyakit menular, tidak menular, hingga dampak perubahan iklim,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah berperan dalam menyediakan regulasi yang mendukung tumbuhnya inovasi dan mempercepat adopsi hasil riset.

Dari sisi inovasi dan jejaring, Direktur Network for Advancing Development and Innovation (NADI), Widyaretna Buenastity, menjelaskan bahwa tantangan utama dalam ekosistem inovasi adalah menjembatani bahasa riset, bisnis, dan kebijakan agar inovasi dapat diadopsi secara luas.

“NADI hadir untuk mengawal agar inovasi bisa diterjemahkan dari dunia riset ke kebijakan dan ke masyarakat. Walaupun semua sudah satu meja, tetap perlu ada yang menjembatani proses komunikasi itu,” katanya.

Dalam forum tersebut, Prof. Evangelos Pappas dari RMIT University menyoroti tantangan sistem kesehatan global yang dinilai tidak berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan hasil layanan kesehatan dengan biaya yang lebih efisien.

Ia juga menyoroti pentingnya teknologi layanan jarak jauh seperti telehealth, tele-rehabilitation, serta penggunaan sensor dan perangkat wearable untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil.

“Banyak populasi tinggal di wilayah remote. Karena itu, teknologi seperti telemedicine menjadi kunci agar layanan kesehatan dapat diakses secara merata,” ujarnya.

Para pembicara sepakat bahwa penguatan ekosistem kesehatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan, mulai dari riset, regulasi, industri, hingga pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas akses layanan kesehatan masyarakat. (*Thia/**)