Pengelola Skyhill Kemuning Penuhi Tuntutan Warga Kawasan Jembatan Kaca

FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – konflik warga kemuning  dengan pengelola   pengelola Kawasan jembatan kaca kemuning, Ngargoyoso akhirnya menemukan jalan terang. Pihak Skyhill Kemujing menutup loket tiket masuk menuju ke kawasan Jembatan Kaca, yang sebelumnya di protes oleh sejumlah warga lantaran berdampak terhadap akses warga dan perekonomian sejumlah pedagang yang ada di kawasan destinasi wisata tersebut.

Awalnta kawasan Jembatan Kaca atau Skyhill Kemuning sejak  bulan Januari 2023, pengunjung yang akan masuk ke kawasan tersebut ditarik per orang Rp 10.000, kemudian untuk motor Rp 3.000 dan Mobil Rp 10.000.

Pembebasan  tiket masuk ke kawasan kemuning tersebut dilakukan setelah adanya musyawarah  atau audiensi yang dilakukan oleh sejumlah warga Kemuning yang berdagang di  kawasan Jembatan Kaca, PT Rumpun Sari Kemuning (RSK), PT The Lawu Grub, sebagai pengembang kawasan lokasi wisata, pemerintah desa, Pemerintah kecamatan dan perwakilan dari pemerintah Kabupaten Karanganyar yang diwakili oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Karanganyar Titis Sri Jawoto, Kamis (30/3) siang.

Saat dikomfirmasi  usai musyawarah bersama dengan warga, Titis yang merupakan mantan kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karanganyar tersebut mengatakan, selain menutup dan membebaskan semua warga atau pengunjung masuk ke kawasan kebun teh kemuning.

Musyawarah pada siang hari tersebut juga menghasilkan kesepakatan yakni untuk proses pengecoran jalan, kemudian pemilik warung yang ada di kawasan Jembatan Kaca bebas memilih apakah tetap menempati kiosnya masing – masing, atau menempati kios yang baru dibuat oleh pihak pengembang jembatan kaca.

“Ya ada beberapa kesepakatan tadi, yang paling utama adalah untuk menutup loket tiket masuk kawasan Jembatan Kaca. Sedangkan untuk masuk ke jembatan kaca tetap diberlakukan. Selanjutnya untuk pembangunan jalan, kemudian warga atau pedagang kita bebaskan akan tetap berjualan di warungnya atau menempati warung yang disediakan oleh The Lawu Grub, sebagai pengembang wisata,” kata Titis.

Disisi lain, Direktur Utama The Lawu Grup Parmin Sastro, saat ditemui sejumlah wartawan mengungkapkan, pemberlakuan terhadap tarif tiket masuk kawasan kemuning tersebut dilakukan sejak tanggal 1 Januari 2023, setelah Bupati melakukan soft launching terhadap pembukaan jembatan kaca di malam pergantian tahun 2022/2023.

Jika memang ditutup dan sudah tidak diberlakukan lagi untuk tarif tiket masuk kawasan. Maka hal tersebut akan merugikan bagi pemerintah kabupaten dan pemerintah desa setempat. Hal itu lantaran pemerintah kabupaten Karanganyar mendapatkan bagi hasil dari pembelian tiket masuk kawasan Rp 500 per pengunjung, dan untuk pemerintah desa setempat mendapatkan Rp 250.

“Ya kalau kalau ada kesepakatan dan warga menghendaki hal itu silahkan, tapi otomatis untuk sharing bagi hasil dengan pemerintah kabupaten dan desa juga sudah tidak ada,” ungkapnya.

Sementara itu, salah satu ketua Paguyuban Pedagang Kawasan Wisata Kemuning Rejeki Sempulur Suharno, mengaku memang setelah diberlakukannya tarif tiket masuk ke kawasan jembatan Kaca, penghasilan pemilik warung yang ada di kawasan Jembatan Kaca mengalami penurunan yang cukup drastis.

“Ya kalau mereka yang punya usaha sampingan kecuali warung masih bisa bertahan mungkin mas. Tapi untuk yang usahanya cuma warung ya turun mas penghasilannya, karena wisatawan itu masuk sudah di tarik biaya Rp 10.000 sekaligus uang parkir Rp 3.000 per motor dan Rp 5.000 per mobil,” terang Harno. (Gdr/bre)