Ratusan Remaja di Boyolali Ajukan Dispensasi Nikah

Kepala Kantor Menteri Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah, Musta'im Ahmad bersama Bupati Boyolali M. Said Hidayat di Boyolali (/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI- Calon pengantin yang mengajukan pernikahan selama PPKM terbilang cukup tinggi. Sedangkan dalam menikahkan, Kementrian Agama tetap berpegang aturan yang ada. Termasuk bagi anak usia di bawah 19 tahun.
“Bagi anak di bawah umur dan belum masuk usia menikah. Maka kami arahkan untuk meminta dispensasi nikah dulu ke PA Boyolali. Selama PPKM ini ada empat pasangan pengantin dengan dispensasi nikah,” kata Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Teras Mahmuduzzaman saat ditemui di Kantor Bupati Boyolali, Rabu (29/12/2021).
Sehingga, pernikahan akan ditunda sampai syarat nikah terpenuhi. Termasuk dikabulkannya dispensasi nikah yang dikeluarkan oleh PA, bagi calon pengantin yang masih di bawah umur. Selanjutnya pihaknya juga akan memberikan edukasi mengenai pendidikan pra nikah.
Panitera Muda Hukum Pengadilan Agama (PA) Boyolali, Mubarak menjelaskan angka pemohon dispensasi nikah masih tinggi. Sampai pada Juli 2021 ada 233 pemohon dispensasi nikah. Sedangkan proses permohonan juga membutuhkan proses. Ditambah lagi pemohon dispensasi nikah didominasi karena hamil duluan.
Ia menegaskan, batasan nikah anak boleh menikah minimal usia 19 tahun bagi laki-laki. Untuk perempuan jika sudah menginjak 16 tahun. Jika kurang dari usia tersebut, harus ada dispensasi nikah yang diputus oleh PA setempat. Data dari PA Boyolali pada Januari, ada 59 pemohon, sedangkan yang diputus pengadilan baru 24. Februari ada 32 pemohon dan diputus pengadilan 34, Maret 26 pemohon dengan kasus diputus 15, April 17 pemohon dengan kasus diputus 17.
Kemudian pada Mei ada 28 pemohon dengan kasus diputus 14, Juni ada 42 pemohon dengan kasus diputus 14 dan Juli ada 29 pemohon dengan kasus yang diputus 39. Mubarak menjelaskan angka pemohon dispensasi nikah masih cukup tinggi. Tak terkecuali pada 2020 total pemohon dispensasi nikah yang sudah diputus pengadilan mencapai 430 kasus.
“Untuk pemohon dispensasi nikah tertinggi pada Januari yang mencapai 59 pemohon. Angka ini termasuk paling tinggi selama dua tahun terakhir,” ujarnya.
Sementara, Kepala Kantor Menteri Agama (Kemenag) Provinsi Jawa Tengah, Musta’im Ahmad menerangkan angka anak penerima dispensasi nikah cukup stagnan. Untuk Jateng berkisar pada 2,5 -3 persen tiap tahunnya, atau 2,5-3 persen anak dari 290 ribu pernikahan yang mengajikan dispensasi. Atau sekitar 8.700 anak yang mengajukan dispensasi nikah selama satu tahun. Angka ini cukup tinggi, kendati pemetaan sebaran tertinggi masih dilakukan. Angka ini cenderung stagnan jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
“Alasan paling banyak untuk pengajuan dispensasi nikah adalah menghindari perzinahan. Jadi alasan mereka mengajukan usia nikah muda karena itu. Padahal kalau dilihat dari kematangan usia, fisik dan mental seharunya diusia 21 tahun. Maka ketika sudah ada dispensasi dari pengadilan, kami (Kemenag,red) hanya menjalankan saja,” jelasnya.