FOKUS JATENG-BOYOLALI-Para peternak susu sapi perah di Boyolali mengaku mulai kesulitan dan kewalahan memenuhi permintaan perusahaan produsen susu.
“Di masa pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) ini, semakin sulit memenuhi permintaan perusahaan produsen susu,” kata Wartono salah satu peternak sapi perah di Dukuh Bendosari, Desa Karangkendal, Kecamatan Tamansari. Jumat (1/4/2021).
Dia menuturkan, sejak masa pandemi perusahaan menetapkan kualitas A atas susu dari peternak, sementara peternak selama ini kebanyakan hanya mampu menyediakan kualitas B. Dia menyebut bahwa selama pandemi, pabrik yang biasanya menerima susu sapi darinya meminta kualitas yang bagus karena pabrik tersebut mengalami kesulitan untuk produk jadinya.
“Untuk permintaan pasar agak susah karena dari pabrik minta kualitas yang bagus. Kualitas yang bagus harus sampai kurang lebih [angka] 12, padahal untuk suplai makanan kurang bagus nanti hasilnya kurang bagus,” ungkapnya.
Adapun untuk harga, sejauh ini harga susu akan mengikuti kualitas susu yang dihasilkan. “Saat pandemi kalau produksi dari punya kami itu normal-normal saja. Tapi kalau harga mengikuti kualitas,” imbuhnya.
Apabila kualitas susu sapi dengan kualitas A harganya mampu mencapai Rp 6.000 per liter. Sedangkan untuk harga susu kualitas B dihargai Rp 5.000 sampai Rp 5.500 per liter. Dengan biaya pakan ternak sapi perah sebesar Rp 2,5 juta selama 10 hari untuk lima sapi perah.
Sementara itu, Kepala Desa Karangkendal, Selamat Sunarno mengungkapkan bahwa mayoritas warganya merupakan peternak sapi perah. Dari total penduduk 3.256 sebanyak 80 persen penduduk merupakan peternak sapi yang menghasilkan susu sapi. Akan tetapi, meski di tengah pandemi gempuran seperti sekarang, warganya masih beraktivitas seperti biasa.
“Memang menggalakkan terkait dengan UMKM dan desa sendiri menyupayakan. Dengan adanya pandemi masyaraat tidak terlalu kena dampak dengan adanya pandemi seperti ini. Tetap eksis,” tandasnya.