GSI Youth Fest 2026 Apresiasi 35 Tokoh Muda Inspiratif

Gerakan Solusi Indonesia (GSI) memberikan penghargaan kepada 35 anak muda dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah di ajang GSI Youth Fest – Hero Summit 2026 di GOR Indoor Manahan, Surakarta, Minggu, 8 November 2026. ( /*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA–Gerakan Solusi Indonesia (GSI) memberikan penghargaan kepada 35 anak muda dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang dinilai berkontribusi dalam mendorong perubahan di daerah masing-masing. Apresiasi tersebut diberikan dalam ajang GSI Youth Fest – Hero Summit 2026 di GOR Indoor Manahan, Surakarta, Minggu, 8 November 2026.

Para penerima penghargaan yang disebut 35 Local Heroes itu berasal dari beragam latar belakang. Mereka bergerak di bidang kewirausahaan, pendidikan, sosial dan komunitas, lingkungan, hingga inovasi dan industri kreatif. Kisah perjalanan serta kontribusi mereka juga dihimpun dalam sebuah buku berjudul 35 Local Heroes yang diluncurkan dalam acara tersebut.

Dua penerima penghargaan dari sektor kewirausahaan berasal dari Kota Surakarta dan Kabupaten Sukoharjo. Mereka adalah Luki Adhi Sulaksono, pemilik PT Dua Naga Corporation, dan Machmud Lutfi Huzain, Komisaris Utama PT Brigit Biofarmaka Teknologi Tbk.

Luki mengaku bangga mendapat pengakuan sebagai salah satu tokoh muda yang berkontribusi bagi Kota Surakarta. Dia berharap pencapaiannya dapat mendorong anak muda lain untuk terus mengembangkan kreativitas dan tidak mudah menyerah dalam membangun usaha.

“Suatu kehormatan bagi saya dipilih menjadi local hero Kota Surakarta. Harapannya ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda penerus bangsa untuk pantang menyerah dalam berjuang dan berkreativitas,” ujarnya.

Adapun Machmud menunjukkan bahwa lokasi usaha di daerah bukan penghalang untuk mengembangkan bisnis hingga pasar internasional. Pabrik perusahaannya berada di Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. Dengan memanfaatkan pemasaran digital dan pengelolaan sumber daya manusia, perusahaan tersebut mampu memasarkan produk jamu ke berbagai negara hingga melantai di Bursa Efek Indonesia.

“Meskipun pabrik kami berada di Tawangsari, Sukoharjo, dengan memanfaatkan digital marketing dan pengelolaan SDM yang baik, kami bisa memasarkan produk jamu hingga ke seluruh mancanegara dan melaju ke Bursa Efek Indonesia,” kata dia.

Ketua Dewan Pembina GSI, Prof. Dr. Pujiyono Suwadi, mengatakan GSI Youth Fest diselenggarakan untuk memperluas peran generasi muda dalam pembangunan. Melalui festival bertema “Pemuda Adalah Solusi” tersebut, anak muda diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga terlibat langsung dalam menghasilkan solusi atas berbagai persoalan.

Menurut Pujiyono, festival ini berupaya mempertemukan pemuda dengan berbagai pihak yang dapat mendukung pengembangan potensi mereka. Mulai dari tokoh inspiratif, pelaku usaha, komunitas, hingga pemerintah daerah. Pertemuan tersebut diharapkan membuka peluang kolaborasi sekaligus memperluas jejaring generasi muda.

Selain penganugerahan 35 Local Heroes, GSI Youth Fest juga menghadirkan sejumlah kegiatan untuk mempertemukan anak muda dengan peluang kerja dan pengembangan usaha. Salah satunya melalui bursa kerja yang melibatkan 35 perusahaan dengan sekitar 2.000 lowongan pekerjaan.

Festival tersebut juga menggelar Youth Insight Leader Forum, pameran produk UMKM kuliner, serta panggung hiburan yang dapat dinikmati masyarakat secara gratis.

Ke-35 penerima penghargaan berasal dari berbagai bidang. Di sektor kewirausahaan, selain Luki dan Machmud, terdapat Eko Mulyo dari Demak yang mengembangkan usaha pengolahan limbah bambu hingga menembus pasar internasional, Ella Rizki Farihatul Maftuhah dari Magelang yang mengembangkan produk olahan nira kelapa untuk pasar ekspor, serta Fikky Arif Ardianta dari Klaten yang bergerak di bidang manufaktur melalui produk industri Futake.

Nama lainnya adalah Danang Bayu Setyawan dari Kudus melalui usaha kuliner Jahe Rempah Mbah Tolok, Bejo Prichatianto dari Batang sebagai perajin kayu jati, Achmad Luthfi Khakim dari Purworejo sebagai wirausahawan penyandang disabilitas, serta Akhmad Sobirin dari Banyumas yang mengembangkan gula semut organik berstandar ekspor.

Di bidang olahraga dan pertanian, terdapat Rafi Rizqullah Arifin dari Pati yang menggerakkan Persipa Pati dan Safin Pati Sports School. Adi Latif Mashudi dari Blora mengembangkan Girli Farm dengan budi daya melon, Wanda Julisna dari Boyolali memanfaatkan media sosial untuk pemasaran hasil peternakan, sedangkan Adhi Nurcholis dari Wonosobo mengembangkan inovasi kultur jaringan kentang Dieng. Taufiqur Rohman dari Grobogan juga dikenal sebagai pelopor pertanian modern dan hidroponik.

Kontribusi di bidang lingkungan antara lain dilakukan Marsella Wahyu Muntia dari Sragen melalui gerakan lingkungan sekolah Adiwiyata, Wulandari Lestari dari Pekalongan yang menggerakkan penanaman mangrove untuk mengurangi abrasi pesisir, serta Miftachurrobani dari Kota Semarang yang aktif dalam konservasi pesisir dan penghijauan.

Sementara itu, bidang pendidikan, literasi, dan sosial diwakili antara lain oleh Mar’atu Rosyada Al Fariz dari Kota Pekalongan, hafizah 30 juz Al-Qur’an; Hamidatus Sa’adah dari Rembang, penulis muda; Muhammad Arfian Hariz dari Temanggung, guru pengembang konten digital pendidikan; dan Nike Aditya Putri dari Brebes, pendidik yang mengembangkan pembelajaran digital bagi anak-anak di daerah pelosok.

Tokoh muda lainnya yang menerima penghargaan adalah Lucky Simarda dari Kota Tegal, akademisi dan penggerak kepeloporan pemuda; Lady Laduni Sayekti dari Banjarnegara, advokat yang bergerak di bidang sosial, pendidikan, dan hukum; Rofi Arif Robbani dari Cilacap, inovator dan peneliti muda; serta R.I. Damai Ka-sasi dari Jepara yang memiliki pengalaman kepemimpinan internasional.

Ada pula Juni Prayitno dari Kendal yang menciptakan aplikasi digitalisasi arsip pertanahan desa Protades, Faiz Alauddien Reza Mardhika dari Kebumen yang berprofesi sebagai dokter sekaligus penggerak sosial pengentasan kemiskinan, Tiko Juniarto dari Kota Magelang yang mendirikan Komunitas Sigrak Bawono untuk memberdayakan anak putus sekolah, serta Hardika Dwi Hermawan dari Purbalingga, pendiri yayasan Desamind yang mengembangkan potensi pemuda desa.

Penerima lainnya meliputi Ikhsan Naufal Dwilaksana dari Kota Salatiga di bidang usaha periklanan dan percetakan digital, Sis Budiyono dari Kabupaten Semarang yang mengembangkan usaha setelah melewati keterbatasan ekonomi, Brillianto Sulistyo dari Kabupaten Tegal yang bergerak di bidang teknologi lift dan eskalator, serta Yosep Bagus Adi Santoso dari Wonogiri sebagai pengusaha muda inovatif.

Melalui penghargaan tersebut, GSI berupaya memperkenalkan berbagai inisiatif anak muda di daerah sekaligus membuka ruang agar praktik baik yang telah mereka lakukan dapat dikenal lebih luas. (*Thia/***)