Dhaup Ageng Mangkunegaran: Restu Keluarga Mengiringi Langkah Gusti Sura Jelang Pernikahan

Putri K.G.P.A.A. Mangkoenagoro IX, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura bersama ibunya, G.K.P. Mangkoenagoro IX. (Istimewa/*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA-Sebelum memasuki kehidupan rumah tangga, G.R.Aj. Ancillasura Marina Sudjiwo atau Gusti Sura terlebih dahulu melewati serangkaian prosesi adat yang sarat makna kekeluargaan. Izin dari kakak, doa para sesepuh, hingga kesiapan orang tua melepas putrinya menjadi bagian dari perjalanan Gusti Sura menuju pernikahan dengan K.P.H. F.X. Adimas Rosdian atau Kanjeng Dimas.

Dalam tradisi Dhaup Ageng Mangkunegaran, restu keluarga tidak sekadar menjadi pelengkap upacara. Setiap prosesi memiliki makna tersendiri, sekaligus menggambarkan hubungan antargenerasi yang tetap dijaga dalam lingkungan keluarga Mangkunegaran.

Salah satunya terlihat dalam prosesi Langkahan yang dijalani Gusti Sura di nDalem Ageng Pura Mangkunegaran, Kamis, 5 November 2026. Tradisi ini dilakukan karena Gusti Sura akan menikah lebih dahulu daripada kakaknya, G.P.H. Paundrakarna Jiwa Suryanegara.

Melalui Sungkeman, Gusti Sura memohon izin dan restu kepada sang kakak. Juru Bicara Dhaup Ageng, R.Ay. T. Ayu Rosetyastuti, menjelaskan Langkahan merupakan bentuk penghormatan seorang adik kepada kakaknya.

“Langkahan menjadi simbol permohonan izin Gusti Sura kepada kakaknya yang belum menikah. Restu tersebut mengiringi perjalanan kedua temanten dalam memasuki kehidupan rumah tangga,” ujar Ayu.

Makna kekeluargaan juga hadir dalam prosesi Siraman. Sebelum menjalani ritual tersebut, Gusti Sura melakukan Sungkeman kepada para sesepuh keluarga untuk memohon doa dan pangestu. Siraman menjadi bagian dari persiapan lahir dan batin calon temanten putri sebelum memasuki kehidupan baru.

Pada hari yang sama, Kanjeng Dimas juga menjalani Siraman di kediamannya. Kedua calon temanten menjalani prosesi tersebut bersama keluarga masing-masing.

Sementara itu, melalui Dodol Dawet, keluarga Gusti Sura menyampaikan kesiapan untuk melepas putrinya. Tradisi ini menggambarkan peran orang tua yang mengantarkan anaknya menuju kehidupan rumah tangga dengan doa dan restu.

“Dodol Dawet membawa makna bahwa orang tua Gusti Sura siap mengantarkan putrinya menuju kehidupan rumah tangga, dengan doa dan restu keluarga yang menyertainya,” kata Ayu.

Sebelum rangkaian tersebut, Gusti Sura juga telah menjalani Sungkeman kepada ibundanya, G.K.P. Mangkoenagoro IX, serta memasuki masa Sengkeran. Rangkaian tradisi itu memperlihatkan bahwa perjalanan menuju pernikahan tidak hanya melibatkan kedua calon temanten, tetapi juga keluarga besar yang memberikan doa dan dukungan.

Setelah melewati berbagai tahapan tersebut, Gusti Sura dan Kanjeng Dimas memasuki rangkaian pernikahan pada 6 November 2026. Di balik kemeriahan Hajad Dalem Dhaup Ageng, prosesi-prosesi keluarga itu menjadi bagian penting dari tradisi yang mengiringi langkah kedua temanten membangun kehidupan rumah tangga. (*Thia/**)