Fokus Jateng, SURAKARTA—Tim produksi termasuk aktor dan artis pemeran dalam film Piye To Kih? menyambangi Mall Solo Paragon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, dalam rangkaian roadshow promosi film tersebut pada Minggu, 25 Oktober 2026. Surakarta atau Solo menjadi kota keempat dari 17 kota yang dijadwalkan dikunjungi sebelum film produksi MIRACLE Pictures itu tayang serentak di bioskop Indonesia pada 19 November 2026.
Film bergenre drama komedi supranatural ini berkisah tentang Mukidi, seorang lelaki yang berusaha membuktikan bahwa dirinya pantas untuk menikah. Namun, berbagai persoalan justru membuat kehidupannya berantakan. Di tengah kegagalan tersebut, ia bertemu dengan Sukma, perempuan misterius yang berasal dari alam berbeda.
Pertemuan keduanya berkembang menjadi hubungan yang rumit. Perbedaan mereka bukan hanya menyangkut dunia tempat mereka berada, melainkan juga keyakinan yang dianut. Keruwetan hubungan itu tergambar dalam ungkapan, “Udah beda alam, beda agama pula… piye to kih?”

Sutradara bersama aktor dan artis pemeran dalam film Piye To Kih? menyambangi Mall Solo Paragon, Kota Surakarta, Jawa Tengah, dalam rangkaian roadshow promosi film tersebut pada Minggu, 25 Oktober 2026. /*Thia
Cerita Piye To Kih? tidak hanya berpusat pada hubungan romantis Mukidi dan Sukma. Persahabatan Mukidi dengan Gendut dan Penyok turut mewarnai perjalanan hidupnya. Keduanya bukan sekadar menjadi sumber kelucuan, tetapi juga bagian dari proses yang harus dilalui Mukidi untuk memperbaiki diri. Keluarga pun menjadi salah satu fondasi emosional yang membuat Mukidi berhadapan dengan pilihan dan konsekuensi hidupnya.
Melalui perpaduan drama, komedi, dan unsur supranatural, film ini mengangkat persoalan cinta, persahabatan, keluarga, kehilangan, kejujuran, serta upaya seseorang untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sutradara Piye To Kih?, Ito Mavin, mengatakan film ini mengangkat persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, yakni perjuangan cinta dan usaha seseorang memantaskan diri. Ia ingin menyampaikan pesan tersebut melalui cerita yang ringan dan menghibur tanpa membuat penonton merasa sedang digurui.
“Pesan tentang perjuangan cinta dan memantaskan diri sebenarnya hidup di semua lapisan masyarakat, baik kelas atas, menengah, maupun bawah,” kata Ito saat wawancara dalam kegiatan roadshow tersebut, Minggu, 25 Oktober 2026.
Menurut Ito, tantangan dalam menggarap film ini adalah menyampaikan pesan yang telah dirancang sejak awal pengembangan cerita agar mudah dipahami penonton. Ia berharap penonton tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga menemukan pelajaran yang relevan dengan kehidupan masing-masing.
Karena itu, ia memilih memadukan drama, komedi, dan unsur supranatural. Ito ingin menghadirkan tontonan yang mudah dinikmati, tetapi tetap menyimpan makna.
“Saya tidak mau membuat film yang berat. Ingin menjemput penonton dengan sesuatu yang ringan-ringan saja, yang mudah dinikmati, tetapi kita bisa mendapatkan sesuatu dari film itu sendiri,” ujarnya.
Ito mengatakan cerita tersebut tidak diangkat dari kisah nyata tertentu. Sejak awal, ia ingin membuat film dengan cerita sederhana yang bisa dinikmati berbagai kalangan sekaligus menyampaikan pesan mengenai hubungan antarmanusia dan proses seseorang memperbaiki diri.
Dalam memilih pemain, Ito mengaku tidak melakukan casting seperti yang lazim dilakukan dalam produksi film. Ia sudah memiliki gambaran mengenai aktor yang dianggap sesuai untuk menghidupkan setiap karakter.
Salah satunya Dara Sarasvati, yang memerankan Sukma. Ito merasa karakter tersebut hanya bisa dihidupkan oleh Dara sehingga ia meminta tim produksi menunggu sampai aktris itu bisa dihubungi. Saat itu, Dara sedang melakukan aktivitas menyelam atau diving.
“Saya memang sudah menentukan bahwa Sukma hanya bisa hidup melalui Dara. Saya bilang kepada tim casting, jangan cari orang lain, tunggu Dara Sarasvati sampai ketemu,” tutur Ito.
Ia menerapkan pendekatan serupa terhadap pemain lain, termasuk Gabriella Desta. Setelah menentukan pemain, Ito melakukan screen test untuk melihat pembawaan mereka dan memastikan kesesuaiannya dengan karakter dalam film.
Pengambilan gambar Piye To Kih? dilakukan di sejumlah lokasi di wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Setelah Surakarta, rangkaian roadshow akan berlanjut ke kota-kota lain. Pemutaran perdana dijadwalkan berlangsung di Kediri pada 6 November 2026, disusul gala premiere di Jakarta pada 12 November 2026.
Bagi Heri Chandra, pemeran Mukidi, Piye To Kih? menjadi pengalaman pertamanya memainkan adegan drama yang menuntutnya mengekspresikan emosi melalui tangisan. Ia mengaku sempat gugup ketika harus menjalani adegan tersebut.
“Yang jelas, ini film pertama. Saya ndredek, tegang, karena disuruh adegan drama nangis. Sebelumnya belum pernah kurang lebih seperti itu,” kata Heri.
Salah satu adegan yang paling membekas baginya adalah ketika Mukidi berpelukan dengan Sukma. Menurut Heri, adegan itu menjadi momen paling menyentuh selama ia memerankan karakter tersebut.
Ia juga merasa memiliki pengalaman yang beririsan dengan Mukidi, terutama dalam hal keinginan untuk mencapai sesuatu. Heri menilai karakter itu memiliki dorongan kuat untuk mendapatkan apa yang diinginkannya meskipun harus menghadapi berbagai persoalan dalam perjalanan hidup.
Bagi Heri, salah satu pesan utama film ini adalah pentingnya menjadi diri sendiri daripada berusaha menjadi orang lain.
Selama proses syuting, Heri juga mengaku mengalami kejadian yang menurutnya tidak biasa. Ia menceritakan kemunculan siluet yang menyerupai sosok kuntilanak pada sebuah gambar ketika berada di lokasi syuting. Namun, ia mengaku tidak terlalu takut karena hanya melihat siluet.
Sementara itu, Dara Sarasvati menghadapi tantangan berbeda ketika memerankan Sukma, perempuan misterius yang berasal dari alam berbeda dengan Mukidi. Ia harus membangun gestur dan pembawaan karakter yang tidak sama dengan manusia biasa.
Dara mengatakan pengalaman tersebut menjadi hal baru baginya karena ia belum pernah memainkan karakter sebagai entitas atau makhluk astral.
“Tantangannya di gestur. Gestur makhluk astral dan manusia kan berbeda. Jadi, bagaimana caranya mengendalikan emosi dan ego ketika menyampaikan dialog, supaya tidak berlebihan sampai akhirnya tidak ada bedanya antara makhluk astral dan manusia,” ujar Dara.
Untuk mendalami karakter tersebut, ia berlatih bersama acting coach dan mempelajari referensi dari sejumlah film dengan karakter yang memiliki kemiripan. Latihan juga dilakukan sebelum proses syuting dimulai sehingga ia dapat memahami alur karakter dan lebih terbiasa ketika berada di lokasi.
Selain membangun gestur, Dara sempat menghadapi persoalan kenyamanan kostum. Pakaian yang dikenakannya terasa agak longgar sehingga ia perlu menyesuaikan diri selama menjalani adegan.
Dara menyebut suasana kerja yang kondusif turut membantu proses pendalaman karakter. Para pemain dan kru terbuka untuk berdiskusi, bertukar pendapat, serta saling mendukung ketika menghadapi kesulitan.
Ia juga menceritakan kejadian saat pengambilan gambar adegan di sebuah kafe. Menurut Dara, ada seorang teman yang mengalami kesurupan ketika mereka menjalani adegan menari. Namun, ia mengaku tidak mengalami kejadian serupa ketika syuting di lokasi yang dikenal sebagai rumah angker.
Adapun pemeran tokoh Bunga, Gabriella Desta, mengaku tertarik bergabung setelah membaca skenario yang ditawarkan penulis Endik Koeswoyo. Menurut dia, cerita Piye To Kih? memiliki persoalan yang kompleks, tetapi dikemas dengan sejumlah pesan moral.
Desta mengatakan menikmati proses syuting, termasuk kesempatan berkenalan dan bekerja sama dengan para pemain lain yang sebelumnya belum pernah ia temui secara langsung.
“Waktu saya baca skenarionya, wah, ini sangat menarik ceritanya. Kompleks, tetapi memang banyak pesan moral yang bisa disampaikan di situ. Makanya saya mau mengambil film ini,” ujar Desta.
Ia menilai penonton dapat menemukan pesan yang berbeda-beda sesuai pengalaman dan persoalan yang sedang mereka hadapi. Namun, ada beberapa hal yang menurutnya menjadi inti cerita, antara lain pentingnya memantaskan diri, belajar ikhlas, dan menjadi diri sendiri.
“Cara memantaskan diri itu penting banget dalam kehidupan. Ikhlas dalam kehidupan juga penting banget, harus jadi diri sendiri. Udahlah, enggak usah kakehan polah,” kata Desta.
Rangkaian acara roadshow di Kota Surakarta juga disemarakkan dengan meet and greet pada aktor dan artis pemeran film Piye To Kih? tersebut yaitu Heri Chandra, Dara Saraswati, dan Gabriella Desta.
Film Piye To Kih? dibintangi Heri Chandra sebagai Mukidi dan Dara Sarasvati sebagai Sukma. Keduanya beradu peran dengan Sutrisno Agung sebagai Gendut, Eko Dunung sebagai Penyok, Gabriella Desta sebagai Bunga, serta Wiyono, Rizka Oktavia, TJ Ruth, Ibnu Gundul, Marwoto, Ivonne Dahler, Devina Aureel, Lorenzo Gibbs, Yono Bakrie, dan pemain lainnya.
MIRACLE Pictures meluncurkan poster resmi dan trailer resmi film tersebut pada 19 Oktober 2026 di Halease Hub Co Working Space, Thamrin City Mall, Jakarta Pusat. Film ini telah lulus sensor untuk penonton berusia 13 tahun ke atas dan dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 19 November 2026. (*Thia/***)
