BEI Ingatkan Investor Muda Tak Asal Ikut Tren Saham

Kepala Perwakilan BEI Jawa Tengah 2/Solo Raya dan Madiun Raya, M Wira Adibrata memberikan penjelasan dalam Workshop Wartawan Daerah BEI di New Rivermoon Klaten, 26 Agustus 2026. (*thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-KLATEN- Nilai transaksi pasar modal di wilayah Solo Raya terus meningkat sepanjang 2026. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat nilai transaksi mencapai Rp 26 triliun selama Januari-Mei 2026, di luar Kabupaten Klaten.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Jawa Tengah 2/Solo Raya dan Madiun Raya, M. Wira Adibrata, mengatakan rata-rata transaksi bulanan di Solo Raya kini berada di kisaran Rp5 triliun. Angka tersebut meningkat dibandingkan rata-rata sebelumnya yang sekitar Rp3 triliun per bulan.

Menurut Wira, pertumbuhan transaksi tersebut berjalan seiring dengan bertambahnya jumlah investor, termasuk dari kalangan generasi Z yang banyak memanfaatkan platform investasi digital. Namun, ia mengingatkan peningkatan minat tersebut perlu diikuti kemampuan memahami risiko dan membaca kondisi pasar.

“Kami sangat mengapresiasi tingginya minat Gen Z di platform digital. Namun, kami berharap mereka tidak asal membeli saham karena tergiur promosi media sosial yang belum tentu benar informasinya,” kata Wira dalam Workshop Wartawan Daerah BEI di New Rivermoon, Klaten, Rabu, 26 Agustus 2026.

Ia menilai fenomena Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai. Investor, terutama investor pemula, sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya karena melihat saham tertentu sedang ramai dibicarakan di media sosial atau mengikuti rekomendasi influencer.

Wira mengatakan investor perlu memahami instrumen yang dibeli serta menggunakan informasi yang terukur sebelum melakukan transaksi. Analisis pergerakan harga, volume transaksi, hingga kondisi fundamental perusahaan dapat menjadi pertimbangan agar keputusan investasi tidak semata-mata berdasarkan spekulasi.

Di Kota Surakarta, BEI mencatat sekitar 89.000 investor pasar modal hingga Mei 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 48.000 merupakan investor yang secara spesifik memiliki instrumen saham.

BEI juga memperluas edukasi pasar modal melalui Galeri Investasi. Jumlah Galeri Investasi di wilayah Solo Raya kini mencapai 50 lokasi, bertambah dari sebelumnya 46 lokasi.

Empat galeri baru telah bekerja sama dan berjalan pada tahun ini, yakni di RSU PKU Muhammadiyah, Universitas Sugeng Hartono, SMA Negeri 2 Sukoharjo, dan SMK Negeri 1 Sragen. BEI juga tengah memproses pembukaan galeri di SMA Negeri 5 Surakarta dan SMK Negeri Jatiroto Wonogiri.

Wira mengatakan perluasan edukasi ke sekolah dan perguruan tinggi diharapkan dapat mengenalkan pengelolaan keuangan dan investasi kepada generasi muda sejak dini. Edukasi tersebut sekaligus menjadi salah satu upaya mengarahkan anak muda pada aktivitas finansial yang lebih sehat di tengah maraknya tawaran investasi dan perjudian online.

“Kami terus menyasar anak-anak muda, Gen Z, kemudian kampus karena di lingkungan itulah harapan kita diskusi tentang memikirkan masa depan sudah dimulai dari usia dini,” ujarnya.

Terkait koreksi pasar saham yang terjadi belakangan, Wira meminta masyarakat tidak terburu-buru mengaitkan pergerakan indeks dengan satu isu tertentu. Menurut dia, harga saham dipengaruhi banyak faktor, termasuk kebijakan ekonomi, kondisi politik, serta berbagai sentimen lainnya.

“Sangat-sangat dini ketika kita menyampaikan respons pasar hari ini adalah karena satu isu. Banyak hal yang mempengaruhi pergerakan saham kita, salah satunya memang kebijakan, politik, dan lain-lain,” kata dia. /*Thia