Revitalisasi Tiga Bangunan Keraton Surakarta di Keraton Kilen Dimulai

GKR Wandansari atau Gusti Moeng bersama tim teknis meninjau kawasan Keraton Kulon Karaton Surakarta Hadiningrat dalam rangka persiapan revitalisasi tiga bangunan bersejarah, Jumat, 16 Oktober 2026. Pelestarian keaslian arsitektur menjadi salah satu perhatian dalam pelaksanaan pekerjaan. . (Istimewa/*Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng, SURAKARTA-Revitalisasi tiga bangunan di area Keraton Kulon atau Keraton Kilen, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, mulai berjalan pada Jumat, 16 Oktober 2026. Pekerjaan tersebut mengutamakan pemulihan bangunan sesuai bentuk aslinya, termasuk memperbaiki bagian yang rusak dan memperkuat konstruksi yang rapuh tanpa menambah tembok baru.

Tiga bangunan yang menjadi sasaran revitalisasi adalah Bangsal Pradongga Lor, Bangsal Bujana, dan Bangsal Pradongga Kidul. Sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan lebih lanjut, tim terkait melakukan koordinasi dan peninjauan lokasi untuk menyesuaikan gambar desain dengan kondisi bangunan di lapangan.

KPH Eddy Wirabhumi, anggota tim hukum Keraton Surakarta Hadiningrat/Lembaga Dewan Adat, mengatakan koordinasi dimulai melalui rapat Pre Construction Meeting (PCM) secara daring yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi. Pertemuan tersebut dilanjutkan dengan pengecekan langsung ke kawasan Keraton Kulon pada Jumat sore.

“Per hari ini, revitalisasi Keraton Kulon dinyatakan dimulai sehingga peralatan dan kebutuhan yang diperlukan untuk pekerjaan sudah bisa mulai didatangkan ke lokasi,” kata Eddy dalam keterangan pers pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurut Eddy, peninjauan lapangan diperlukan untuk memastikan rencana pekerjaan sesuai dengan kondisi faktual bangunan. Dalam koordinasi tersebut, pihak keraton juga menyampaikan sejumlah masukan mengenai pelestarian arsitektur dan material bangunan bersejarah.

GKR Wandansari atau Gusti Moeng, Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta Hadiningrat, turut menyampaikan aspirasi terkait revitalisasi. Sinuhun Sri Susuhunan Pakubuwono XIV atau PB XIV, yang sebelumnya dikenal sebagai KGPH Hangabehi, juga mengikuti rapat secara daring dan menyampaikan pesan mengenai pelaksanaan pekerjaan.

Penambahan Tembok Baru Ditiadakan

Salah satu hasil pembahasan di lapangan adalah ditiadakannya rencana penambahan tembok baru. Revitalisasi diarahkan untuk mengembalikan kondisi bangunan seperti aslinya, bukan menambah konstruksi yang dapat mengubah karakter kawasan.

“Keraton Kulon ini merupakan bagian yang sangat inti di keraton. Karena itu, yang disepakati adalah mengembalikan bangunan seperti aslinya. Bangunan yang rusak diperbaiki, bagian yang rapuh diperkuat kembali, tanpa penambahan-penambahan baru,” ujar Eddy.

Dia menjelaskan, fasilitas pendukung tetap dapat dipertimbangkan jika memang diperlukan. Namun, penambahannya harus dibatasi dan tidak mengubah karakter bangunan bersejarah. Pembaruan fasilitas, seperti kamar mandi, misalnya, perlu disesuaikan dengan kebutuhan tanpa mengabaikan keselarasan arsitektur kawasan.

Aspek pelestarian juga menjadi perhatian dua arkeolog yang terlibat dalam peninjauan. Mereka mengingatkan pentingnya memeriksa kondisi bangunan sebelum melakukan pembongkaran agar bagian yang masih layak digunakan tidak langsung diganti.

“Arkeolog yang hadir tadi juga menyampaikan pesan khusus bahwa sebelum dibongkar, sebaiknya diketahui lebih dahulu tingkat kerusakannya. Jadi, kalau masih bisa digunakan, ya digunakan kembali, jangan langsung diganti,” kata Eddy.

Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk menentukan metode perbaikan berdasarkan tingkat kerusakan masing-masing bagian bangunan. Dengan begitu, material lama yang masih dapat dimanfaatkan bisa dipertahankan.

Material Atap Masih Dibahas

Selain perbaikan konstruksi, tim juga membahas pilihan material atap. Sejumlah bangunan di kawasan Keraton Kulon saat ini menggunakan genteng. Sementara itu, penggunaan sirap menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan untuk menyesuaikan karakter bangunan keraton.

Eddy mengatakan keputusan mengenai material atap belum ditetapkan. Pembahasannya masih memerlukan pertimbangan teknis dan kesesuaian dengan karakter bangunan.

“Apakah atapnya dikembalikan ke sirap atau tetap menggunakan genteng, hal itu masih perlu dirundingkan dan menjadi bahan pertimbangan dalam rapat selanjutnya,” ujarnya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah elevasi atau ketinggian tanah. Menurut Eddy, ketinggian jalan di luar kawasan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, sedangkan kawasan yang ditinjau belum mengalami peninggian sejak era pemerintahan Pakubuwana X.

Perbedaan ketinggian tersebut perlu diperhitungkan dalam perencanaan agar air dari jalan tidak mengalir masuk ke kawasan Keraton Kulon.

“Kalau leveling-nya tidak diperhitungkan, air dari jalan di luar justru bisa masuk ke Keraton Kulon. Tadi hal itu juga menjadi perhatian dalam pembahasan,” kata Eddy.

 

 

Koordinasi Teknis Sebelum Pekerjaan Berlanjut

 

Rapat PCM membahas sejumlah persiapan pelaksanaan, mulai dari kesiapan personel dan dokumen teknis hingga metode kerja serta jadwal pekerjaan. Pembahasan juga mencakup mobilisasi tenaga kerja, peralatan, dan material, pengendalian mutu, keselamatan konstruksi, serta mitigasi risiko.

Pertemuan tersebut melibatkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Revitalisasi, Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Tedjowulan selaku utusan pemerintah melalui Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 8 Tahun 2026, Gusti Moeng, serta B.R.A. Putri Woelan Sari Dewi dan Basuki Teguh Yuwono selaku staf khusus Menteri Kebudayaan.

Turut hadir kontraktor pelaksana revitalisasi Keraton Kilen, konsultan manajemen konstruksi, penanggung jawab kegiatan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Tengah, serta tim teknis PPK.

Setelah rapat daring, Gusti Moeng bersama pihak terkait meninjau lokasi untuk mencocokkan desain dengan kondisi bangunan. Sejumlah persoalan teknis, termasuk pemilihan material atap dan penyesuaian desain, masih memerlukan pembahasan lanjutan.

Dimulainya revitalisasi tiga bangunan tersebut menjadi tahap awal pekerjaan pemulihan di kawasan Keraton Kulon. Pelaksanaannya diarahkan untuk memperbaiki kerusakan dengan tetap mempertahankan komponen yang masih layak dan menjaga keaslian arsitektur Keraton Surakarta Hadiningrat. (*Thia/**)