FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR — Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Lawu, Karanganyar, kian mengkhawatirkan. Mengedepankan keselamatan jiwa manusia di atas segalanya, tim gabungan mengambil langkah dramatis dengan menarik mundur sebanyak 350 personel pemadam dari puncak gunung pada Jumat (16/10/2026) siang.
Penarikan massal yang dilakukan sekitar pukul 14.00 WIB ini dipicu oleh kobaran api yang kian membesar, angin kencang tak menentu, serta medan terjal yang mengarah ke jurang curam. Kondisi cuaca ekstrem tersebut dinilai sudah sangat membahayakan nyawa para petugas dan relawan di lapangan.
Koordinator Posko Penanggulangan Karhutla Gunung Lawu, Muhammad Rasyid Al Fauzan (alias Cepak), menegaskan bahwa keselamatan personel menjadi alasan utama dihentikannya sementara pemadaman manual di titik api.
“Seluruh tim di atas kita tarik mundur karena kondisi angin tidak bersahabat, pemadaman tidak efektif, dan api sangat besar sehingga membahayakan keselamatan personel,” ujar Rasyid, Jumat (16/10/2026).
Penyebaran Api Capai 100 Hektar dan Mengancam Ngargoyoso
Hingga Jumat siang, diperkirakan total luas lahan yang hangus terbakar telah mencapai 100 hektar. Titik api terbesar saat ini terdeteksi berada di sebelah selatan Punthuk Gede, sementara tim di lapangan masih terus melakukan pemetaan koordinat.
Berdasarkan evaluasi pergerakan vegetasi, lidah api kini bergerak mengarah ke pos bayangan jalur Cemoro Kandang dan berpotensi kuat meluas hingga ke wilayah Kecamatan Ngargoyoso.
Sebelum keputusan penarikan mundur diambil, sebanyak 350 personel dari 42 unsur potensi gabungan sebenarnya telah bergerak sejak pukul 06.35 WIB. Mereka dibagi ke dalam enam Satuan Tugas (SRU) utama dan dua SRU bayangan untuk membendung laju api.
Perketat Syarat Personel: Hanya Yang Berfisik Prima Boleh Naik
Dinamika cuaca di puncak Gunung Lawu yang tergolong ekstrem membuat situasi di lapangan sangat sulit diprediksi. Menanggapi risiko tinggi kecelakaan kerja, pihak posko kini memberlakukan aturan ketat bagi siapa saja yang hendak diterjunkan ke lokasi pemadaman.
“Cuaca di atas sangat dinamis. Api yang tadinya kecil bisa tiba-tiba membesar ketika kita berbalik arah. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, hanya personel berfisik prima, sehat jasmani, serta mengenakan APD dan peralatan keselamatan lengkap yang diizinkan naik,” tegas Rasyid.
Strategi Penyekatan dan Kesiapsiagaan Posko
Meski pemadaman langsung di titik api dihentikan sementara, perjuangan belum berakhir. Tim gabungan beralih ke strategi penyekatan jalur untuk menahan laju perimeter api agar tidak terus meluas.
Dua Pos Aju telah didirikan di Tambak (Ngargoyoso) dan Cemoro Kandang, sementara Pos Induk dipusatkan di Gondosuli.
Untuk operasi lanjutan pada Sabtu esok, tim berencana memperlebar jarak penyekatan di area jalur pendakian Tambak hingga 3–4 meter guna mencegah loncatan bara api yang terbawa angin. Saat ini, dukungan logistik untuk operasional terus disalurkan melalui sinergi Kesbangpol, BPBD, dan unsur Forkopimcam setempat. ( bre )
