Green Impact Project 2026: Bakti Lingkungan Djarum Bawa Inovasi Mahasiswa Jawab Krisis Lingkungan

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) menggelar final Green Impact Project 2026 di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026. (Thia*/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-SURAKARTA-Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) mendorong mahasiswa menerjemahkan gagasan tentang lingkungan menjadi aksi nyata yang memberi dampak serta dapat berkelanjutan melalui Green Impact Project 2026.

Program bertema Green Campus Sadar Lingkungan: Be There, Witness the Impact itu mempertemukan lima tim mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi pada babak final di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Director Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, mengatakan Green Impact Project menjadi ruang bagi generasi muda untuk ikut mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan lingkungan. Menurut dia, ratusan gagasan yang terkumpul menunjukkan besarnya perhatian mahasiswa terhadap isu keberlanjutan.

“Hari ini kita menyaksikan bahwa generasi muda tidak berhenti di gagasan saja, tapi berani melangkah untuk menjawab tantangan lingkungan,” kata Mutiara.

Dia berharap program tersebut tidak sekadar melahirkan ide baru, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat diterapkan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

“Harapannya Green Impact Project ini bisa melahirkan gagasan baru, tapi juga hasil dan solusi baru,” ujarnya.

Pada babak final, Tim Eco Juris dari UNS berhasil meraih juara pertama. Tim tersebut mengusung inovasi pengelolaan limbah organik kantin dengan memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF).

Maggot digunakan sebagai pakan lele melalui sistem budikdamber. Adapun kasgot dan air dari proses budidaya dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik.

Juara kedua diraih Eco Lin Craft, kolaborasi mahasiswa UNS dan STM MMTC Yogyakarta. Tim ini memanfaatkan limbah tekstil menjadi produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.

W2W Team dari Universitas Diponegoro (Undip) berada di posisi berikutnya dengan inovasi pengolahan sisa makanan menggunakan maggot. Sementara Eco Vibes dari Universitas Muria Kudus memanfaatkan limbah bonggol jagung sebagai media budidaya jamur.

Adapun Climate Warrior dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta mengembangkan inovasi pengolahan minyak jelantah menjadi sabun.

Mutiara mengatakan beragam solusi yang dihasilkan peserta menunjukkan persoalan lingkungan dapat dihadapi dengan berbagai pendekatan. Dia meminta mahasiswa tetap menjaga semangat kolaborasi dan aksi setelah kompetisi berakhir.

“Teruslah berani berpikir, berkolaborasi, menghasilkan, dan memberikan dampak,” ujarnya.

Green Impact Project 2026 merupakan bagian dari program BLDF bersama Solopos Media Group. Sebelum mencapai babak final, peserta mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari Green Narrative, Green Leader Conference hingga penyusunan dan implementasi proyek lingkungan.

Green Impact Project 2026 diikuti ratusan mahasiswa dari Solo, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung. Mengusung semangat “Bikin Aksi, Bukan Cuma Opini”, program tersebut menekankan implementasi gagasan agar solusi lingkungan tidak berhenti pada konsep, tetapi memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Wali Kota Surakarta Respati Ardi mengatakan inovasi lingkungan yang dihasilkan mahasiswa perlu dibarengi dengan perencanaan keberlanjutan. Menurut dia, pengolahan sampah tidak cukup menghasilkan produk kreatif, tetapi juga harus memiliki model bisnis.

“Yang harus ditekankan dari proyek ini adalah business model. Syaratnya, hasilnya, semuanya harus bisa berkelanjutan secara bisnis,” kata Respati.

Dia menilai produk hasil pengolahan sampah harus memiliki pengguna dan pasar agar inovasi tersebut tidak berhenti setelah mendapat apresiasi dalam sebuah kompetisi.

“Semua pengolahan sampah diproses menjadi sesuatu yang kreatif, dipamerkan, kemudian mendapat tepuk tangan. Tetapi apakah setelah itu tetap dibeli? Apakah tetap digunakan?” ujarnya.

Menurut Respati, nilai ekonomi dari pengelolaan sampah dapat menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan program sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

“Yang utama adalah business model. Hasil dari ekonomi sampah bisa menghidupkan masyarakat lokal,” katanya.

Respati juga mendorong mahasiswa memperluas edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah. Dia berharap aksi yang lahir dari Green Impact Project dapat direplikasi dan terus berjalan setelah program selesai.

“Saya berharap aksi seperti ini bisa diduplikasi dan terus dilakukan,” ujarnya.

Wakil Rektor II Bidang Sumber Daya UNS, Muhtar, berharap Green Impact Project tidak berhenti sebagai kompetisi. Menurut dia, program tersebut dapat menjadi ruang kolaborasi untuk melahirkan aksi nyata di lingkungan kampus dan masyarakat.

“Saya berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi kompetisi, tetapi juga menjadi ruang berkolaborasi dan melahirkan aksi-aksi nyata,” kata Muhtar. (*Thia/**)