Menteri PPPA: Permainan Tradisional Bisa Kurangi Ketergantungan Gadget

Suasana bermain dalam peresmian Kampung Dolanan Sidowayah sebagai Ruang Bersama Indonesia dan Kampung Pancasila di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten, Sabtu, 22 Agustus 2026. Acara dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi. (Thia/Fokusjateng.com)

Fokus Jateng-KLATEN- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menilai permainan tradisional dapat menjadi salah satu cara mengurangi ketergantungan anak terhadap gawai. Menurut dia, permainan rakyat juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kemampuan sosial anak.

Hal itu disampaikan Arifah Fauzi saat meresmikan Kampung Dolanan Sidowayah sebagai Ruang Bersama Indonesia dan Kampung Pancasila di Desa Sidowayah, Kabupaten Klaten, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Arifah mengatakan perkembangan teknologi membuat anak semakin dekat dengan gadget. Karena itu, pendekatan terhadap penggunaan gawai tidak cukup hanya dengan melarang atau membatasi waktu penggunaannya.

Menurut dia, orang tua dan lingkungan sekitar perlu menyediakan aktivitas alternatif yang menarik. Permainan tradisional menjadi salah satu pilihan karena mendorong anak berinteraksi secara langsung dengan teman-temannya.

“Anak-anak kita tidak bisa hanya dilarang, dibatasi, atau diminta mengurangi penggunaan gadget. Kita harus memberikan alternatif,” kata Arifah.

Ia mengatakan permainan tradisional memiliki unsur pembelajaran yang tidak selalu ditemukan ketika anak bermain sendiri dengan perangkat digital. Dalam permainan kelompok, anak belajar mengikuti aturan, menunggu giliran, bekerja sama, menghargai orang lain, serta menerima kemenangan dan kekalahan.

“Anak belajar jujur, anak belajar antre, anak belajar menghargai orang lain, anak belajar bekerja sama, anak belajar sportif,” ujarnya.

Arifah menilai nilai-nilai yang muncul dalam permainan tradisional juga selaras dengan Pancasila. Anak-anak dapat berinteraksi dan bekerja sama tanpa mempersoalkan perbedaan agama, suku, maupun latar belakang.

Selain membangun karakter, aktivitas tersebut dinilai dapat memperkuat kemampuan komunikasi dan hubungan sosial anak. Interaksi langsung di ruang bermain diharapkan menjadi penyeimbang di tengah semakin besarnya penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Arifah juga meminta pemerintah dan masyarakat tidak sekadar membangun fasilitas untuk anak, tetapi memberikan ruang bagi mereka untuk menyampaikan pendapat. Menurut dia, anak perlu dilibatkan dalam kebijakan yang menyangkut kehidupan mereka.

“Anak bukan sekadar objek pembangunan. Anak adalah subjek pembangunan dan bagian penting dari masa depan Indonesia,” katanya.

Ia mendorong keberadaan Forum Anak di tingkat desa maupun kecamatan benar-benar dimanfaatkan sebagai wadah partisipasi. Aspirasi anak, kata dia, perlu didengar karena solusi yang dianggap tepat oleh orang dewasa belum tentu sesuai dengan kebutuhan anak.

Dalam kesempatan itu, Arifah juga mengingatkan orang tua agar tidak hanya berorientasi pada capaian akademik. Prestasi pendidikan, menurut dia, harus dibarengi dengan pembentukan karakter dan akhlak.

Pengawasan orang tua terhadap anak juga memiliki keterbatasan, terutama ketika anak berhadapan dengan berbagai konten di ruang digital. Karena itu, Arifah menilai keluarga perlu membangun fondasi nilai dalam diri anak agar mereka mampu menentukan pilihan secara mandiri.

“Benteng yang paling kuat adalah benteng yang ada di dalam hati. Benteng itu adalah fondasi nilai-nilai agama, budi pekerti, etika, moral, dan akhlakul karimah,” ujarnya.

Arifah turut mengapresiasi Desa Sidowayah yang dinilai mampu mempertahankan karakter tradisional sekaligus mengembangkan budaya lokal. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi modal penting untuk menciptakan ruang tumbuh yang ramah bagi anak.

Peresmian Kampung Dolanan Sidowayah melibatkan pemerintah pusat dan daerah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dunia usaha, BPIP, serta masyarakat. Kolaborasi lintas sektor itu diharapkan dapat memperkuat lingkungan yang aman bagi anak sekaligus mendukung pemberdayaan perempuan.

Di akhir sambutannya, Arifah mengajak masyarakat menjadikan perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan sebagai tanggung jawab bersama, dimulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas.

 

Ketua TP PKK Kabupaten Klaten Fahrani Wahyu Diana atau Fahrani Hamenang mendorong Kampung Dolanan Sidowayah menjadi ruang aman bagi anak untuk bermain, belajar, dan mengembangkan potensi. Menurut dia, keberadaan kampung dolanan penting di tengah semakin terbatasnya ruang bermain anak dan tingginya penggunaan gawai.

Fahrani mengatakan permainan tradisional tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menjadi sarana anak belajar berkomunikasi, bekerja sama, menyelesaikan masalah, serta membangun empati. Karena itu, dia berharap konsep Kampung Dolanan Sidowayah BERSEMI dapat terus dikembangkan dan menginspirasi desa lain di Klaten.

“Anak-anak membutuhkan ruang untuk bermain, bertumbuh, dan mengembangkan potensinya. Kami berharap Kampung Dolanan Sidowayah BERSEMI terus hidup, digunakan, dan dikembangkan sehingga menjadi ruang yang aman, inklusif, serta mendukung tumbuh kembang anak,” ujar Fahrani. (*Thia/**)