‎Dunia Tanpa Bullying: Mahasiswa KKN Gelar Sosialisasi Anti-Bullying untuk Siswa SMPN 4 Satu Atap Sumberlawang ‎

Oleh: Difa Uswatun Chasanah

‎Mahasiwa Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Slamet Riyadi Surakarta

 

‎FokusJateng- SRAGEN- Bullying merupakan salah satu permasalahan serius yang dihadapi dunia pendidikan. Untuk mengatasi hal tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Slamet Riyadi Surakarta melaksanakan program kerja individu berupa sosialisasi anti-bullying bagi siswa SMPN 4 Satu Atap Sumberlawang, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen.

‎Program yang berjudul “Dunia Tanpa Bullying: Mengajak Semua Teman untuk Berani Tampil Beda, Berani Berbuat Baik, dan Berani Menjadi Pelindung bagi Sesama” ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa tentang dampak negatif bullying sekaligus menginspirasi mereka untuk menjadi pelindung bagi teman-teman yang menjadi korban perundungan. Kegiatan melibatkan seluruh siswa tingkat menengah pertama dengan metode pembelajaran yang interaktif dan menyenangkan.

‎Memahami Bullying dan Dampaknya

‎Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak memahami berbagai bentuk bullying mulai dari perundungan fisik, verbal, cyberbullying, hingga bullying sosial. Mahasiswa KKN menekankan bahwa bullying bukan sekadar “bercanda” atau “main-main”, melainkan perilaku yang dapat meninggalkan trauma mendalam pada korban.

‎”Bullying dapat mempengaruhi kesehatan mental, kepercayaan diri, prestasi akademik, dan bahkan menyebabkan hal-hal yang lebih tragis. Itulah mengapa kita semua perlu memahami serius tentang masalah ini,” ujar mahasiswa KKN dalam penyampaian materi. Siswa juga diajak membayangkan bagaimana rasanya menjadi korban bullying melalui berbagai skenario dan studi kasus nyata.

‎Tiga Pilar Perubahan: Berani Tampil Beda, Berbuat Baik, dan Menjadi Pelindung

‎Program ini berfokus pada tiga pilar utama. Pertama, mengajak siswa menghargai dan menerima perbedaan, karena setiap individu memiliki keunikan yang patut dihormati. Kedua, mendorong siswa untuk berbuat baik dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan-tindakan kecil yang bermakna seperti memberikan senyuman, mengajak teman yang sendirian, atau mendengarkan teman yang sedang sedih.

‎Ketiga, mengajak siswa menjadi “upstander” bukan “bystander”. Upstander adalah orang yang berani membela dan membantu korban bullying, sementara bystander adalah orang yang melihat kejadian bullying tetapi diam saja. Program juga memberikan strategi praktis tentang bagaimana cara aman menjadi pembela tanpa membuat situasi menjadi lebih buruk.

‎Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan dan cerita-cerita pribadi yang mereka bagikan. Beberapa siswa mengakui pernah menjadi korban bullying, sementara yang lain berkomitmen akan lebih berani membela teman-teman mereka di kemudian hari.

‎Dukungan Sekolah dan Harapan Perubahan

‎Kepala Sekolah dan guru-guru SMPN 4 Satu Atap Sumberlawang memberikan sambutan positif terhadap program ini. Mereka menilai bahwa inisiatif mahasiswa KKN sangat relevan untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih sehat. “Program seperti ini membantu kami menangani permasalahan bullying dari sisi preventif dan edukatif,” ujar Kepala Sekolah.

‎Para guru berkomitmen untuk terus memperkuat nilai-nilai anti-bullying di kelas mereka melalui pembelajaran sehari-hari. Melalui program “Dunia Tanpa Bullying” ini, mahasiswa KKN Universitas Slamet Riyadi Surakarta berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih aman dan mendukung bagi semua siswa, serta membangun generasi yang memiliki empati, keberanian, dan tanggung jawab sosial. ( ist/**)