FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Sejarah sering kali dianggap sebagai tumpukan kertas kusam yang membosankan. Namun, di bawah rimbun pohon beringin Situs Perjanjian Giyanti, Dusun Kerten, Karanganyar, sebuah narasi besar dibangkitkan kembali. Bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk menyembuhkan trauma mental bangsa yang telah berlangsung selama 271 tahun.
Dalam sarasehan budaya bertajuk “Ada Apa Dengan Giyanti?” yang digelar Yayasan Suket Lawu Mawiji, Senin (12/1/2026) malam, para pemerhati sejarah dan budaya berkumpul. Mereka membawa satu misi besar: Mupus Giyanti—sebuah upaya spiritual dan intelektual untuk mengakhiri mentalitas terpecah belah yang diwariskan oleh politik kolonial.
Jejak ‘Sigar Semongko’ yang Menghantui Psikis Bangsa
Sejarawan Solo, Samsul Bachri, mengingatkan bahwa Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) adalah titik di mana kedaulatan Nusantara mulai rontok melalui taktik divide et impera (pecah belah). Mataram Islam saat itu dibelah seperti semangka (Sigar Semongko) menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Namun, Samsul menekankan bahwa dampaknya jauh lebih ngeri daripada sekadar pembagian wilayah geografis.
“Pemisahan wilayah dilakukan secara acak dan berdampingan untuk mencegah konsolidasi. Dampaknya? Terjadi polarisasi budaya dan efek psikologis pada alam bawah sadar. Masyarakat kita menjadi sangat mudah diprovokasi dan diadu domba oleh kepentingan elit politik hingga saat ini,” papar Samsul di hadapan para peserta sarasehan.
Fenomena ini menjelaskan mengapa hingga era media sosial sekarang, masyarakat masih sering terjebak dalam konflik horizontal dan “perang” loyalitas yang tidak produktif. Trauma masa lalu itu rupanya masih menetap di mentalitas kolektif kita.
Mengapa Milenial Perlu Peduli?
Bagi generasi milenial dan Gen Z yang hidup di era disrupsi, semangat “Mataram Binangun” yang diusung dalam pertemuan ini menjadi sangat relevan. Di tengah gempuran hoaks dan polarisasi politik modern, sejarah Giyanti adalah cermin pahit.
Handoko, dari Yayasan Suket Lawu Mawiji, menjelaskan bahwa sudah saatnya residu energi perpecahan itu diputus.
“Secara geografis biarlah Jogja menjadi Jogja dan Solo menjadi Solo. Namun secara spiritual, benang merah perpecahan itu harus kita putus agar bisa bersatu kembali demi kejayaan masa depan,” tegas Handoko.
Gerakan ini mengajak kaum muda untuk tidak lagi terjebak pada dikotomi “kita vs mereka”. Dengan mengambil kekuatan spiritual dari Karanganyar dan Gunung Lawu, generasi saat ini diharapkan mampu membawa Nusantara kembali termasyhur (Nusantara Mawa Kuncara).
Menatap Masa Depan: Dari Giyanti Menuju Persatuan
Situs Giyanti kini bukan sekadar monumen batu dan prasasti. Ia adalah pengingat bahwa “perdamaian” yang dipaksakan oleh pihak asing (VOC) sering kali memiliki harga yang sangat mahal: perpisahan saudara.
Melalui tiga pilar utama—budaya, sejarah, dan spiritual—sarasehan ini ingin membangun benteng pertahanan mental bagi masyarakat. Tujuannya satu: agar bangsa ini tidak lagi menjadi bidak catur dalam permainan kepentingan elit atau kekuatan global.
Kesimpulannya? Mengenal sejarah Giyanti bukan berarti hidup di masa lalu. Justru dengan memahami pahitnya pengkhianatan di tahun 1755, generasi milenial bisa belajar bahwa persatuan adalah aset termahal yang harus dijaga hari ini.
Sudah siapkah kita memutus rantai “Sigar Semongko” dalam pikiran kita sendiri? ( bre )
