FOKUSJATENG.COM. KARANGANYAR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar menyiapkan langkah ambisius untuk menjadikan Kecamatan Colomadu sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Hal ini ditandai dengan pemaparan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kecamatan Colomadu untuk periode 2025–2045, sebuah cetak biru yang akan mengarahkan pembangunan wilayah agar lebih terarah dan berkelanjutan.
Dalam acara yang digelar di Ruang Anthorium Rumah Dinas Bupati pada Senin (25/8), Dr. Agus Rochani, selaku Konsultan Perencana RDTR, memaparkan bahwa posisi geografis Colomadu yang berada di antara Karanganyar dan Solo adalah keunggulan utama yang harus dioptimalkan. RDTR ini akan menjadi panduan untuk mengembangkan potensi tersebut, termasuk mendorong perputaran ekonomi melalui Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta mengembangkan sektor-sektor unggulan lainnya.
Bupati Karanganyar, H. Rober Christanto, meyakini bahwa Colomadu memiliki potensi besar yang belum sepenuhnya tergarap. “Colomadu memiliki akses yang sangat baik dengan keberadaan exit tol, dekat dengan Bandara Internasional Adi Soemarmo, dan berbagai objek wisata. Kita harus optimistis Colomadu bisa dan harus menjadi lebih baik, bahkan dari Solo Baru,” tegasnya.
Strategi Mewujudkan Kemandirian Ekonomi
Wakil Bupati Karanganyar, Adhe Eliana, menambahkan bahwa tantangan terbesar adalah bagaimana mengonversi potensi tersebut menjadi kemandirian ekonomi dan lapangan kerja yang lebih luas. Pembangunan ekonomi tidak hanya akan berfokus pada sektor modern seperti hotel dan mal, tetapi juga dengan memberdayakan sektor perindustrian dan pertanian sebagai tulang punggung masyarakat.
Adhe juga menyoroti pentingnya penataan kawasan secara terintegrasi. RDTR ini akan mengunci area-area strategis untuk pengembangan wisata, perhotelan, dan pusat pembelajaran. “Pembangunan tidak lagi sporadis, tetapi terintegrasi dan saling mendukung,” jelasnya.
Tujuan utama RDTR ini adalah mewujudkan Colomadu sebagai kawasan permukiman perkotaan yang berdaya saing, dengan mengembangkan sektor MICE (Meetings, Incentives, Collaborations, and Exhibitions) berbasis ekonomi lokal dan budaya. Proyeksi ini dibangun di atas prinsip Green City yang berkelanjutan, memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan. ( bre)
