Fokus Jateng- BOYOLALI -Lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha. Tantangan tersebut menjadi perhatian dalam menyiapkan lulusan yang kompetitif dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah. Komitmen tersebut mengiringi wisuda 422 lulusan program sarjana (S-1) dan magister (S-2) di Gedung Grha Amarta UBY, Sabtu 24 Oktober 2026.
Rektor Universitas Boyolali (UBY), Nanik Sutarni, mengatakan gelar akademik harus menjadi awal pembuktian kompetensi, integritas, dan kontribusi nyata bagi masyarakat, bukan sekadar simbol keberhasilan menyelesaikan pendidikan.
“Jangan hanya menjadi generasi pencari kerja, tetapi jadilah generasi pencipta kerja,”ujarnya.
Dijelaskan, lulusan perguruan tinggi perlu memanfaatkan ilmu pengetahuan, keterampilan, inovasi, serta perkembangan teknologi untuk menjawab tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
“Kemampuan beradaptasi, berpikir kritis, berkomunikasi, dan menggunakan kecerdasan buatan secara bijak juga menjadi bekal penting bagi lulusan dalam menghadapi perubahan zaman,” ujar Nanik.
Nanik menyebutkan wisuda tahun akademik ini, UBY meluluskan 412 mahasiswa dari berbagai program studi. Dari jumlah tersebut, sebanyak 82 mahasiswa merupakan penerima beasiswa Pemerintah Kabupaten Boyolali yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi.
UBY juga meluluskan tujuh mahasiswa Program Magister Hukum. Kelulusan tersebut menandai perkembangan penyelenggaraan pendidikan pascasarjana di kampus tersebut.
Nanik menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Boyolali atas dukungan melalui program beasiswa pendidikan.
“Sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat terus diperkuat untuk memperluas akses pendidikan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ungkapnya.
Terkait, perkembangan UBY, menurut Nanik, terlihat dari semakin luasnya jangkauan mahasiswa yang tidak hanya berasal dari Boyolali, tetapi juga berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Salah satu lulusan yang menjadi perhatian adalah Vincent Raditya dari Jakarta. Di tengah kesibukannya sebagai pilot, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana Ilmu Hukum di UBY.
Selain itu, Isnawati yang berasal dari Bali berhasil menuntaskan pendidikan pascasarjana. Dua lulusan Program Studi Peternakan, Wasiah Darojatun dan Hammam Abdullah, juga menjadi contoh mahasiswa yang mampu menyeimbangkan pendidikan dan pekerjaan.
“Keduanya telah bekerja di Australia ketika masih berstatus mahasiswa aktif,” kata Nanik.
Kisah para lulusan tersebut menunjukkan beragam latar belakang mahasiswa UBY serta upaya mereka menyelesaikan pendidikan di tengah tuntutan pekerjaan dan aktivitas profesional.
“UBY juga mencatat sejumlah prestasi mahasiswa di bidang akademik dan nonakademik, mulai dari tingkat regional hingga nasional dan internasional,” ujar Nanik.
Nanik mengingatkan bahwa tantangan setelah lulus tidak hanya berkaitan dengan memperoleh pekerjaan, tetapi juga menghadapi perubahan teknologi, ketidakpastian ekonomi, serta dinamika sosial dan kebangsaan..
“Kami mendorong lulusan agar bersikap kritis terhadap politik dan kebijakan publik, tetapi tetap menjaga moral, integritas, serta tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat,” ucapnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan secara bijak, tanpa mengesampingkan kemampuan profesional dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Kami berharap para lulusan UBY tidak hanya mencari peluang kerja di kota-kota besar, tetapi juga berani mengembangkan potensi daerah asal,” katanya.
Menurut dia, kontribusi terhadap pembangunan daerah tidak harus selalu diwujudkan melalui program berskala besar. Membantu UMKM berkembang, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan membantu masyarakat memahami hak-haknya juga merupakan bentuk pengabdian yang bermakna.
“Jangan menganggap membangun daerah sebagai pekerjaan kecil. Jangan menganggap mengabdi di kampung halaman sebagai pilihan kelas dua,” pesannya. (yull/**)
