Fokus Jateng – BOYOLALI,-Munculnya penyakit Antraks yang menyerang sapi di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, membuat Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Boyolali langsung bergerak cepat mengantisipasinya.
Ahmad Gojali, Plt Kepala Disnakkan Kabupaten Boyolali, menyatakan mengintensifkan pemeriksaan dan pengawasan komoditi yang masuk dari luar Boyolali.
“Ternak sapi dari luar seperti Gunungkidul, Pacitan dan Wonogiri yang masuk ke Boyolali dipantau secara ketat. Sehingga jika diketahui terkena antraks bisa cepat diketahui,” ujarnya. Kamis 22 Oktober 2026.
Dia menambahkan pantauan dilakukan secara ketat mengingat wilayah Boyolali sendiri pernah terjangkit antraks pada tahun 2011 lalu. Beruntung, hingga kini, kasus serupa tidak terjadi lagi di Boyolali.
“Kami juga rutin melakukan sosialisasi dan edukasi kepada para pedagang dari luar tersebut,” ujarnya.
Kabid Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Boyolali Afiany Rifdania menambahkan, antraks merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Bakteri ganas ini sangat rentan menginfeksi hewan ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba.
Berdasarkan kasus pada 2012 silam, ada lima daerah endemis antraks. Yakni, Desa Banyuanyar, Ampel; Desa Karangmojo dan Sumberagung, Klego; Desa Gunung, Simo; Desa Sempu, Andong. Dampak antraks kurun 2011 – 2012 menyebabkan 28 ekor ternak positif antraks. Bahkan penyakit zoonosis ini menyebar ke manusia di daerah Klego.
”Jadi kalau bakteri antraks terkena oksigen diudara dia akan membentuk spora. Nah, spora itu yang ada di tanah dan bertahan puluhan tahun. Makanya kenapa kok kita sampelnya dari tanah, meski hewannya sudah tidak ada. Selanjutnya, sampel dibawa ke laboratorium di Wates, Kulonprogo. katanya.
Kendati saat ini, Boyolali bebas penyakit antraks, namun dinas tetap melakukan antisipasi dan meningkatkan kewaspadaan. Diantaranya melakukan vaksinasi maupun membuat surat edaran ditandatangani Sekretaris Daerah (Sekda) Boyolali, M. Syawalludin.
Edaran tersebut ditujukan kepada para blantik dan peternak sapi. Mereka diminta agar tidak membeli ternak dari daerah yang terkena antraks.
“Dalam edaran dikatakan sementara ini jangan kulakan di tempat yang endemis antraks, terutama Gunungkidul dan daerah endemis lain. Bukan hanya ternak, tapi produk ikutannya seperti daging hingga kulit,” katanya. (yull/**)
