Fokus Jateng-Surakarta- Dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila tahun 2026, Forum Konsolidasi Komunitas Peduli Pancasila yang bekerjasama dengan Perhimpunan Perempuan Semesta Indonesia (P-PERISAI), Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Rumah Pancasila, BPIP, serta elemen masyarakat menyelenggarakan Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti” menghadirkan narasumber Bupati Madiun, H. Hari Wuryanto, S.H., M.Ak, kepala Bidang Sosialisasi BPIP, Andy Apriyanto, S.H., M.Si, Kepala Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) UNS Surakarta, Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum dan Kepala Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila, Ir. Prihandoyo Kuswanto yang bertempat di Monumen Pers Nasional, Surakarta, pada 10 Oktober 2026.
Pada Acara sarasehan tersebut diawali dengan sambutan dari Ketua P-PERISAI, Dra. Hj. Amy Kadiono yang menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam membentengi generasi penerus dari degradasi moral. Kegiatan Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti” dibuka secara resmi oleh perwakilan Pemerintah Kota Surakarta, yang mengapresiasi kolaborasi lintas komunitas dalam merawat nilai-nilai luhur Pancasila di tengah dinamika sosial saat ini. Acara Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti” dipandu moderator Dr. Bramastia, M.Pd dari UNS Surakarta yang dihadiri peserta dari berbagai elemen masyarakat, perwakilan universitas, hingga anggota karang taruna se-Solo Raya.
Birokrasi Pancasila
Acara Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti” menghadirkan empat narasumber utama untuk membedah Pancasila dari berbagai perspektif. Bupati Madiun, H. Hari Wuryanto, fokus menyoroti pentingnya internalisasi nilai Pancasila dan keteladanan dalam tata kelola birokrasi pemerintahan.
“Dalam istilah Bupati Madiun disebut sebagai Birokrasi Pancasila,” ujar Bupati Madiun saat paparan dalam Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti”.
Sedangkan, kepala Bidang Sosialisasi BPIP, Andy Apriyanto, memaparkan materi mengenai sejarah dan ideologi bangsa, serta pentingnya penguatan karakter bagi generasi milenial dan Gen Z dalam menghadapi arus globalisasi.
Sementara, Kepala Pusat Studi Pengamalan Pancasila (PSPP) UNS Surakarta, Prof. Dr. Triyanto, S.H., M.Hum menjelaskan napak tilas sejarah kompromi luhur bangsa dari Piagam Jakarta hingga UUD 1945 serta menegaskan bahwa sistem hukum dan negara Indonesia telah mengakomodasi nilai-nilai keagamaan secara inklusif.
Terakhir, Kepala Pusat Studi Kajian Rumah Pancasila, Ir. Prihandoyo Kuswanto, membedah realitas Demokrasi Pancasila serta pentingnya strategi untuk meminimalisir penyimpangan di pemerintahan. Dalam sarasehan bertajuk “Pancasila Kembali Çakti” ini juga diwarnai dengan sesi diskusi interaktif mengangkat berbagai persoalan penting, seperti cara mengembalikan jati diri bangsa, strategi merawat nilai Pancasila di tengah masyarakat, serta langkah sistematis untuk mencegah penyimpangan birokrasi.
Menanggapi tantangan era digital dan perubahan perilaku generasi muda, para narasumber sepakat bahwa upaya membumikan Pancasila harus dijawab melalui program nyata, literasi kritis, serta pendekatan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Melalui kegiatan Sarasehan Diskusi Publik bertajuk “Pancasila Kembali Çakti”, para peserta berharap nilai-nilai Pancasila dapat terus hidup dan menjadi pedoman utama dalam menjaga persatuan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (ist/***)
