Fokus Jateng, SRAGEN_Budidaya melon kini tak hanya mengandalkan pengalaman dan pengamatan secara manual. Sejumlah petani muda mulai memanfaatkan teknologi digital untuk memantau pertumbuhan tanaman, penyiraman, hingga kebutuhan pupuk hanya melalui telepon seluler.
Salah satunya dilakukan Bisma Rizki, petani melon yang mengembangkan budidaya melon berbasis digital. Dengan luas lahan sekitar 600 meter persegi, dia mampu membudidayakan sekitar 1.300 buah melon dalam satu kali masa tanam.
Menurut Bisma, masa tanam hingga panen melon membutuhkan waktu sekitar 70 hari. Dalam sekali panen, setiap buah memiliki bobot rata-rata 1,5 hingga 2 kilogram.
“Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, saya memberanikan diri menggunakan digitalisasi. Keuntungannya lebih efisien dari sisi waktu dan tenaga kerja. Tanaman juga bisa dimonitor melalui aplikasi dari mana saja,” kata Bisma. Rabu 7 Oktober 2026.
Dia menuturkan terdapat empat jenis melon yang dibudidayakan, yakni Intanon, Lavender, The Blues, dan Dalmantion. Salah satu tahapan penting dalam budidaya melon adalah proses polinasi atau penyerbukan bunga jantan ke bunga betina hingga menghasilkan buah.
Pemanfaatan teknologi digital membuat kondisi tanaman lebih mudah dipantau.
Penyiraman, kebutuhan pupuk, hingga kondisi tanaman dapat diketahui melalui aplikasi yang terhubung dengan telepon seluler.
“Setiap hari bisa dipantau. Misalnya penyiraman, kita bisa mengetahui apakah tanaman kekurangan atau kelebihan air. Semuanya bisa dipantau melalui HP dan dilakukan dari mana saja,” ujarnya.
Menurut Bisma, penggunaan teknologi tersebut turut meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian. Dia memperkirakan hasil produksi meningkat sekitar 20 persen dibandingkan pola budidaya sebelumnya.
Selain teknologi pemantauan, efisiensi juga dilakukan pada kebutuhan pupuk. Bisma memilih membuat pupuk sendiri sehingga biaya produksi dapat ditekan.
“Kalau dulu pupuk biasanya membeli jadi. Sekarang kami membuat sendiri sehingga lebih hemat,” katanya.
Bisma mengaku digitalisasi membuat pekerjaan petani menjadi lebih mudah, terutama dalam mengontrol penyiraman dan pemberian nutrisi tanaman. Bahkan kebutuhan unsur seperti nitrogen dan fosfat dapat dipantau melalui sistem yang digunakan.
Dia menilai teknologi tersebut tidak hanya cocok bagi petani muda. Penggunaan aplikasi dinilai cukup sederhana sehingga dapat dipelajari oleh petani dari berbagai kelompok usia.
“Untuk yang tua maupun muda sebenarnya mudah. Bentuk aplikasinya juga sederhana. Kalau saya sebagai petani muda, alhamdulillah bisa mengaplikasikannya,” katanya.
Sebelum menerapkan sistem digital, Bisma mengaku mengembangkan budidaya melon secara otodidak. Salah satu kendala yang dihadapi saat itu adalah kurangnya kontrol terhadap kondisi tanaman.
“Dulu secara otodidak, kontrolnya masih kurang. Dengan digitalisasi semuanya bisa lebih terpantau sehingga lebih efisien,” ujarnya.
Saat ini, sekitar 20 petani di lingkungannya mulai terlibat dalam pengembangan pertanian tersebut. Bisma berharap pemanfaatan teknologi digital semakin berkembang di kalangan petani, khususnya generasi muda.
“Harapannya digitalisasi bisa membantu petani muda mengembangkan bidang pertanian dan meningkatkan produktivitas,” tutur Bisma.
Dengan harga jual melon sekitar Rp30.000 per kilogram, budidaya melon berbasis digital tersebut menjadi salah satu upaya petani meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya dan tenaga dalam proses produksi. (AN/***)
