Fokus Jateng, SURAKARTA— Sebanyak 220 tim akan ambil bagian dalam Benning Padelions di Zink Padel Solo pada 2-4 Oktober 2026. Turnamen yang digelar Lions Club Solo Bengawan bersama Benning Klinik ini tidak hanya mempertemukan pemain padel dari sejumlah daerah, tetapi juga membawa kegiatan komunitas, hiburan, bisnis dan misi kemanusiaan.
Mengusung tema Play with Purpose, Serve for Humanity, turnamen tersebut diikuti sekitar 440 pemain. Mereka berasal dari Solo dan sejumlah daerah lain seperti Yogyakarta, Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Semarang hingga Surabaya.
Ada pula peserta asal Prancis yang kini berdomisili di Jakarta. Pemain tersebut sebelumnya aktif bermain padel di Filipina.
Project Officer Benning Padelions, Alan Adhi, mengatakan jumlah peserta tersebut menunjukkan perkembangan olahraga padel di Solo. Ia melihat pertumbuhan olahraga itu tidak hanya terjadi di lapangan, tetapi juga melalui komunitas yang terbentuk di sekitarnya.
“Potensi padel itu tidak cuma pertandingan. Di balik pertandingan ada komunitas,” kata Alan.
Menurut dia, komunitas tersebut kemudian membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak. Karena itu, Benning Padelions dirancang tidak berhenti pada pertandingan dan penentuan juara.
Turnamen itu mempertandingkan tujuh kategori berdasarkan level kemampuan pemain dengan total hadiah Rp100 juta. Penyelenggara juga menyiapkan photobooth, photoshoot, games, penampilan DJ serta opening show bersama Solo Batik Carnival.
“Jadi kami ingin event padel ini tidak sekadar pertandingan, selesai lalu pulang. Kami ingin ada lifestyle, komunitas, entertainment dan bisnis,” ujar Alan.
Peserta Luar Kota dan Perputaran Ekonomi
Dokter Kristian Sanjaya dari Benning Klinik melihat turnamen olahraga yang mendatangkan peserta dari luar daerah juga dapat memberikan dampak terhadap sektor usaha di Kota Solo.
Para peserta yang datang dari luar kota membutuhkan akomodasi, makanan dan transportasi. Aktivitas mereka selama berada di Solo juga berpotensi menggerakkan usaha lain, termasuk pusat oleh-oleh.
“Kalau orang-orang dari luar kota datang ke Solo, tentu ekonomi di Solo akan semakin bergerak. Hotel laku, makanan juga laku, dan mereka bisa berbelanja oleh-oleh dari Solo,” kata Kristian.
Menurut dia, perkembangan padel dapat menjadi salah satu bagian dari upaya memperluas aktivitas ekonomi berbasis olahraga. Ia berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan secara berkelanjutan sehingga Solo memiliki posisi lebih kuat sebagai tujuan kegiatan olahraga.
“Kalau bisa, Solo menjadi center olahraga padel, bahkan kalau memungkinkan se-Jawa Tengah dan Indonesia,” ujarnya.
Kristian mengatakan Benning Klinik sejak berdiri pada 2010 juga memiliki visi mengembangkan medical tourism di Kota Solo. Klinik tersebut mengembangkan layanan kesehatan, termasuk bidang bedah plastik.
Kolaborasi dengan Lions Club Solo Bengawan, menurut dia, memiliki irisan dengan visi tersebut karena kedua pihak ingin berkontribusi terhadap perkembangan kota melalui kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Sebagai masyarakat biasa, bagaimana kita bisa berperan dan memberikan manfaat untuk negara, khususnya untuk kota kita,” katanya.
Olahraga sebagai Ruang Pengabdian
Misi sosial menjadi bagian lain dari penyelenggaraan Benning Padelions. Presiden Lions Club Solo Bengawan Amelia Ong mengatakan kegiatan olahraga dapat menjadi ruang untuk memperluas jaringan kemanusiaan dengan mempertemukan masyarakat, komunitas dan dunia usaha.
Lions Club Solo Bengawan telah menjalankan kegiatan pengabdian di Kota Solo selama sekitar 35 tahun. Berbagai program dilakukan, antara lain pemeriksaan dan pembagian kacamata gratis, kegiatan terkait diabetes, penanganan kemiskinan dan kelaparan, pendampingan anak penderita kanker, program lingkungan dan kepemudaan hingga bantuan bagi korban bencana.
“Pengabdian selalu dimulai dari tempat di mana kami berdiri, yaitu Kota Solo,” kata Amelia.
Melalui Benning Padelions, Amelia berharap kegiatan sosial dapat menjangkau lebih banyak pihak. Anak muda, menurut dia, juga dapat mengambil bagian dalam kegiatan yang menggabungkan olahraga dan kepedulian terhadap masyarakat.
“Setiap pertandingan memiliki tujuan, setiap serve memiliki makna,” ujarnya.
Amelia mengatakan dunia usaha juga dapat mengambil peran lebih jauh daripada sekadar menjadi sponsor. Kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas dan organisasi sosial dapat menjadi bagian dari kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Ketika banyak pihak memiliki visi yang sama, sebuah kegiatan akan menjadi sesuatu yang memiliki dampak besar,” katanya.
Benning Padelions pun menempatkan olahraga sebagai titik temu berbagai kelompok. Pemain dan komunitas bertemu di lapangan, pelaku usaha mendapat ruang untuk berkolaborasi, sementara organisasi sosial membawa agenda kemanusiaan dalam kegiatan yang sama.
“Lebih banyak kolaborasi, lebih banyak kepedulian, dan lebih banyak kebaikan yang kembali kepada Kota Solo,” katanya. (Thia/***)
