FOKUSJATENG.COM, KARANGANYAR – Menyikapi status Kabupaten Karanganyar yang masuk dalam lingkaran rawan bencana di Indonesia, upaya mitigasi tidak hanya mengandalkan teknologi canggih. Pendekatan ramah lingkungan hingga kearifan lokal seperti ilmu titen kini menjadi benteng utama masyarakat lereng Gunung Lawu dalam menghadapi potensi ancaman alam.
Ancaman bencana di Karanganyar memang nyata. Berada di kawasan lereng gunung, wilayah ini menyimpan potensi tanah longsor, tanah bergerak, hingga banjir di area dataran rendahnya. Namun, di balik risiko tersebut, ada langkah-langkah mitigasi menarik yang diterapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karanganyar.
Salah satu metode unik yang diterapkan terjadi saat menyikapi fenomena tanah bergerak di Desa Koripan, Kecamatan Matesih. Sebagai dampaknya dari gempa Pacitan beberapa waktu lalu, retakan tanah di lokasi tersebut diantisipasi dengan cara yang ramah lingkungan: mengisinya menggunakan campuran tanah dan sampah organik agar struktur tanah kembali merekat.
Tak hanya langkah teknis, kesadaran warga juga terus dipupuk. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengingatkan pentingnya masyarakat memanfaatkan ilmu titen—kearifan lokal masyarakat Jawa untuk mengamati kebiasaan hewan dan tanda-tanda perubahan alam sebelum bencana terjadi.
”Kami berharap pemerintah dan masyarakat dapat memperkuat lereng, menjaga kelancaran drainase, serta tetap mengasah ilmu titen dalam membaca tanda-tanda alam,” ungkap Teuku.
Untuk menguatkan kapasitas warga di lapangan, BPBD Karanganyar juga menggandeng akademisi dari UNS, UMS, hingga BRIN guna menggelar Sekolah Lapang di berbagai daerah rawan. ( bre)
