Bukan Sekadar Sarjana, Rahadi Al Paluri Tantang Kader HMI Jadi ‘Raushanfikr’ di LK III Yogyakarta

FOKUSJATENG.COM, YOGYAKARTA – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) kembali meneguhkan perannya sebagai “rahim” bagi para pemimpin pemikiran. Bertempat di Yogyakarta, Sabtu (17/1/2026), Latihan Kader III (LK III) HMI menghadirkan diskusi mendalam yang membedah peran Islam sebagai mesin penggerak perubahan sosial.

Salah satu sesi yang mencuri perhatian adalah pemaparan dari Rahadi Al Paluri, senior HMI asal Solo. Mengangkat tema “Doktrin Islam sebagai Basis Transformasi Sosial dan Intelektualisme Kader,” Rahadi mengajak peserta untuk melihat Islam lebih dari sekadar ritual ibadah, melainkan sebagai ideologi pembebasan.

Kritik Terhadap Pembangunan ‘Tanpa Jiwa’

Dalam orasinya, Rahadi melontarkan kritik tajam terhadap arah pembangunan nasional saat ini. Menurutnya, Indonesia tengah terjebak dalam paradigma yang hanya mengejar pertumbuhan angka (growth-oriented), namun abai pada keadilan ekologis dan kemanusiaan.

“Pembangunan tanpa nilai akan melahirkan alienasi. Krisis hari ini, mulai dari ketimpangan ekonomi hingga dominasi oligarki, berakar dari hilangnya kompas moral dalam pembangunan,” tegas Rahadi di hadapan para kader dari berbagai daerah tersebut.

Ia menekankan bahwa konsep Tauhid harus ditarik ke ruang publik sebagai kesadaran ideologis. Tauhid, bagi Rahadi, adalah alat untuk membebaskan manusia dari penindasan kekuasaan maupun modal.

Menjadi ‘Raushanfikr’ Indonesia

Salah satu poin krusial dalam materi tersebut adalah tuntutan agar kader HMI naik kelas menjadi Raushanfikr—istilah yang dipopulerkan Ali Syari’ati untuk menggambarkan intelektual yang tercerahkan.

Rahadi menjelaskan bahwa kader tingkat LK III tidak boleh lagi hanya bangga dengan gelar kesarjanaan teknis.

“Kader HMI tidak boleh menjadi intelektual menara gading. Ilmu tanpa keberpihakan adalah bentuk pengkhianatan intelektual,” ujarnya lugas.

Kader diharapkan mampu menghubungkan konsep Insan Cita dengan tanggung jawab sejarah. Artinya, kesalehan pribadi harus berujung pada keberanian politik untuk mengoreksi struktur sosial yang tidak adil.

Zakat dan Wakaf sebagai Senjata Strategis

Tak hanya bicara teori, Rahadi juga mendorong kader untuk memikirkan alternatif nyata. Ia memposisikan instrumen ekonomi Islam seperti zakat, infak, dan wakaf produktif bukan sekadar aktivitas filantropi atau bagi-bagi sedekah semata.

Di tangan kader yang paham ekonomi-politik, instrumen ini harus dikelola secara profesional untuk membangun kedaulatan ekonomi umat dan melawan sistem ekonomi yang ekstraktif.

Pesan Penutup: Jangan Memilih Jalur Nyaman

Menutup sesi yang penuh dialektika tersebut, Rahadi memberikan pesan emosional bagi para calon pemimpin masa depan tersebut. Ia menegaskan bahwa LK III bukanlah tempat bagi mereka yang mencari posisi aman atau ingin bersikap “abu-abu” di tengah krisis.

“Di sini kalian diuji: apakah akan sekadar menjadi produk sistem, atau menjadi pengubah arah sejarah,” pungkasnya.

Kegiatan ini mempertegas kembali posisi HMI di Yogyakarta sebagai organisasi kader perjuangan yang tetap setia pada garis kemanusiaan dan keadilan, berdiri bersama rakyat, serta siap bertarung di medan pemikiran demi mewujudkan masyarakat adil makmur yang diridhai Allah SWT. ( rls/ bre )