Lindungi Obyek Cagar Budaya, Karang Taruna Wonosegoro Pasang Cungkup Atap Prasati Sarungga

Fokus Jateng-BOYOLALI,- Berada di Dukuh Wonosegoro, Desa/Kecamatan Cepogo, Boyolali. sebuah prasasti beraksara Jawa Kuno terpahat pada sebuah batu monolit yang berada di areal ladang penduduk. Batu Prasasti bernama Sarungga ini konon menjadi penanda peradaban tertua di lereng timur Gunung Merbabu.

Ketua Boyolali Heritage Society (BHS), Kusworo Rahadyan, mengatakan prasasti Sarungga yang dibuat pada 25 Mei 901 Masehi atau 1.124 tahun lalu menjadi bukti adanya budaya tulis di kalangan masyarakat lereng Gunung Merbabu era Mataram Kuno.

“Pendataan oleh BHS, ada sebanyak 413 obyek tinggalan arkeologi yang tersebar di 16 kecamatan. Berupa 73 situs, 396 benda, 14 bangunan dan 12 struktur. Prasasti Sarungga ini menjadi penanda peradaban tertua di lereng timur Merapi,” kata Kusworo.

Adapun prasasti Sarungga ini, Kuworo mengungkapkan pada 2019 lalu pihaknya telah menggandeng mahasiswa arkeologi UGM untuk membantu alih aksara pada batu yanga ada di ladang milik warga Dusun Wonosegoro, Cepogo, bernama Sarwi.

“Penelitian tersebut juga dijelaskan bahwa ditulis menggunakan aksara Jawa Kuno. Ada empat baris tulisan, sayangnya bait terakhir sudah tidak bisa dibaca,” papar budayawan Boyolali itu.

Prasasti tersebut bertuliskan, swa sti śa ka wa rṣā tī ta 8 2 3 jye ṣṭa ma sa pa ñca mi śu kla ha wa so kā la ni ki pa ta pā n ri śa rū ṅga nā mā… Yang diterjemahkan “Selamat tahun Śaka yang telah lalu 823 pada bulan Jyesta tanggal 5 bagian bulan terang. Haryang (hari bersiklus 6), Wagai (hari bersiklus lima), Soma (hari bersiklus tujuh atau Senin), pada saat ini (terdapat) pertapaan di Śarūṅga (yang) hendaklah dinamai …..”.

“Nah, setelah bagian hendaklah dinamai itu hilang tulisannya. Tapi menurut prasasti, wilayah ini disebut sebagai Sarungga,” ujar dia.

Peninggalan arkeologi tersebut, sambung Kusworo menunjukan bahwa sudah adanya peradaban yang tinggi di Lereng timur Merbabu yang sudah mempunyai budaya tulis. Tulisan yang terukir pada prasasti ini bukan hanya berfungsi sebagai dokumen pemerintahan, tetapi juga sebagai saksi sejarah yang memperlihatkan kemajuan budaya, agama, dan bahasa pada masa itu.

“Jadi hal ini menunjukan potensi Wonosegoro masih perlu digali dan dikembangkan,” imbuhnya.

Upaya pelestarian yang dilakukan dengan membangun cungkup di sekitar prasasti ini juga menunjukkan pentingnya warisan budaya. Meskipun sebagian prasasti sudah mengalami kerusakan, namun keberadaannya tetap menjadi sumber penting dalam menggali lebih dalam tentang peradaban Mataram Kuno. Karang taruna dan warga setempat didukung komunitas pecinta cagar budaya setidaknya butuh waktu satu bulan kebih untuk mempersiapkannya, mulai dari pembuatan cungkup hingga pembuatan akses jalan dan jembatan. Puncaknya, Senin, 4 Agustus 2025 cungkup itu sudah terpasang di atas Prasasti sarungga.

“Pemasangan cungkup untuk melindungi obyek cagar budaya prasasti sarungga di Wonosegoro cepogo ini, atas inisiatif karang taruna,warga Wonosegoro dan dibantu komunitas pecinta cagar budaya,” kata Yudi Mendung anggota Karang taruna Wonosegoro.

Sebagai salah satu situs arkeologi yang dilindungi, Yudi berharap prasasti sarungga bisa terus menjadi objek penelitian dan daya tarik bagi para sejarawan dan wisatawan yang tertarik untuk mempelajari sejarah masa lalu yang mempengaruhi perkembangan budaya lereng timur Gunung Merbabu. (yull/**)