Pengusaha Genteng Tanah Liat Hanya Bisa Bertahan

FOKUS JATENG- BOYOLALI- produsen pembuatan genteng tanah liat di Boyolali tetap bertahan penuhi permintaan di tengah pandemi COVID-19.
Menurut salah satu produsen genteng tanah liat, Widodo mengaku tetap memproduksi genteng press untuk memenuhi pesanan konsumen.
Warga Desa Karanggeneng, Kecamatan/Kabupaten Boyolali  itu mendapat permintaan dari toko bangunan dan konsumen yang akan membuat rumah.
Kendala yang dihadapi produsen genteng tanah liat, selain adanya pergeseran penggunaan bahan bangunan. Semula bahan bangunan pasangan dengan genteng tanah liat berupa kayu dan bambu. Seiring perkembangan zaman, baja ringan dikombinasikan dengan asbes, atap spandek, atap galvalum pasir atau genteng metal banyak dipilih.
Widodo mengaku tak patah arang, sebab setiap bahan bangunan memiliki kelebihan dan kekurangan. Bagi warga pedesaan, memakai atap genteng masih jadi pilihan.
Hanya saja, Selama pandemi COVID-19 ini, ia menyebut, permintaan akan genteng turun drastis.
Ekonomi masyarakat yang masih sulit, disebut-sebut penyebab utama tak banyak masyarakat yang membangun rumah.
“ Penjualannya turun 50 persen lebih, ya gimana lagi, masyarakat saat ini banyak yang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.”
Sebelum pandemi COVID-19 lalu, lanjut Widodo, sebulan bisa mengeluarkan lebih dari 20 ribu genteng. Namun saat ini, bisa menjual 6 ribu saja dalam sebulan itu sudah bagus.
Belum lagi, soal cuaca belakangan ini. Proses pengeringan yang biasanya hanya butuh 2-3 hari saja, saat ini 5-6 hari genteng baru bisa kering dan bisa dibakar. “Saya kan punya tiga mesin pres. Biasanya sebulan itu (produksi) dari satu mesin bisa dibakar. Tapi sekarang produksi genteng dari tiga mesin  baru bisa dibakar,” jelasnya.
Meski terjadi penurunan yang cukup drastis, namun usaha gentingnya harus tetap beroperasi.
“Lha 4 karyawan saya ini juga membutuhkan hasil, untuk mencukupi kebutuhan. Jadi meskipun sulit, tapi tiap hari harus selalu produksi,”katanya.
Sri Juwarti perajin lain mengatakan dalam sehari bisa memproduksi 300 buah genteng.
Setelah melalui proses pengeringan hingga pembakaran, genting ini dijual dengan harga Rp 1,2 juta per 1000 buah genteng.
“ Harga itu ambil di sini. Kalau nganter ke lokasi beda lagi, ada ongkosnya sendiri untuk muat dan kendaraan,” jelasnya.
Warga Dukuh Randusari ini menambahkan, untuk menghasilkan genteng ini, dibutuhkan tanah liat dengan kualitas bagus.
Tanah itu pun didatangkan dari berbagai daerah di Boyolali dan sekitarnya.
“ Tanahnya ini beli. Satu rit, harganya Rp 500 ribu. setelah itu tanah di olah dengan mesin hingga menjadi potongan balok-balok yang selanjutnya di potong sesuai ukuran dan di pres dengan alat pengepresan.”