Sikap Pemilih Pemula yang Cuek saat Pemilu

Ketua MPC Pemuda Pancasila, Diza Ageng Alifin, Ketua Bapera Karanganyar, Ilyas Akbar Almadani serta kandidat Ketua KNPI Karanganyar Yanuar Faisal Muhammad. (istimewa/Fokusjateng.com)

FOKUSJATENG – KARANGANYAR – Partai politik harus mulai memberikan tempat berkiprah bagi pemuda. Sebab ada 30-35 persen pemuda yang nanti merupakan pemilih pemula, yang mereka betul-betul blank dalam pilihan politik dan demokrasi.

Hal ini terungkap dalam diskusi polititik yang disenggarakan Bawaslu Karanganyat yang menghadirkan tokoh tokoh milenial, yaitu Ketua MPC Pemuda Pancasila, Diza Ageng Alifin, Ketua Bapera Karanganyar, Ilyas Akbar Almadani serta kandidat Ketua KNPI Karanganyar Yanuar Faisal Muhammad.

‘’Mereka perlu didekati termasuk tugas lembaga-lembaga pemilu seperti KPU (Komisi Pemilihan Umum) maupun Bawaslu. Mereka perlu mendapatkan sosialisasi memadai agar melek terhadap politik sehingga pengetahuan mereka lebih terbuka. Dan ini akan lebih baik jika ada figur yang bisa menjadi panutan mereka,’’ kata Diza kepada wartawan, Kamis (20/5/2021).

Diza mengatakan, pengalamannya saat terjun di 17 kecamatan di Karanganyar untuk kampanye salah satu Parpol dan membantu bapaknya yang menjadi Caleg, diperoleh data bahwa pemuda justru kelompok cuek dan tidak peduli pada parpol dan caleg.

Mereka hanya tahu kapan harinya nyoblos, datang ke tempat pemungutan suara, mencoblos siapa yang memberinya uang, yang kebetulan dia kenal, setelah itu pulang. “Sangat simple dan ada unsur transaksional di situ,” kata Diza, “Tidak ada pendekatan sama sekali lewat Karang Taruna, sekolah, apalagi tempat mereka berkumpul dan lainnya. Sangat minim informasi yang mereka terima. Sehingga jika tidak segera didekati mereka akan terus menjadi massa mengambang yang blank serta cuek pada perkembangan politik.”

Lebih lanjut Diza memberi contoh yang dia lakukan lewat Pemuda Pancasila. Keberadaan organisasi pemuda sangat penting untuk memberikan pemahaman agar serba sedikit mereka juga peduli politik. Dia selalu mengajak agar anggota Pemuda Pancasila bukan pemilih yang bodoh, namun tahu makna pilihannya dan tidak sembarangan memilih.

Diza menambahkan perlunya parpol untuk menampilkan lebih banyak pemuda sehingga kiprahnya diketahui dan menjadi idola, figur yang bisa dicontoh serta menjadi panutan pemuda. Dan ini perlu untuk mendekati pemuda.

Untuk itu, dia mengajak agar pemuda berfastabiqul khoirot untuk menjadi figur yang bisa diandalkan untuk mengisi kebangkitan bangsa ini di masa depan.

Yanuar Faisal menambahkan, pemahaman transaksional dalam pilihan politik itu merupakan sebuah kabar buruk yang ada di dalam diri pemuda. Sehingga jika dibiarkan, pemuda akan semakin cuek dan menjadi kelompok masa depan yang selalu transaksional.

‘’Ini perlu pendekatan agar mereka berubah menjadi kelompok peduli, kelompok yang mengerti makna memilih. Dan organisasi pemuda merupakan wadah yang pas untuk memberikan pemahaman politik itu. Dan ini tugas berat agar organisasi pemuda menjadi menarik untuk berkiprah,’’ kata dia.