Umat Hindu Lakukan Kirab Melasti di Pura Suci Saraswati Ngaru-aru Pengging Banyudono Boyolali

Umat Hindu di Boyolali melakukan Melasti Sabtu 21 Maret 2020. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Di tengah kewaspadaan penyebaran virus corona, para umat Hindu melakukan kirab dari Pura Suci Saraswati, Desa Ngaru-Aru, Pengging, Banyudono, menuju mata air Umbul Guyangan, Dukuh Karangduwet, Desa Bendan, Kecamatan Banyudono dalam ritual Mendhak Tirta atau Melasthi, untuk mengambil air suci atau air kehidupan yang akan digunakan dalam ritual Tawur Kesanga di Candi Prambanan, Selasa (24/3/2020). mendatang.

Hanya saja, kali ini dilaksanakan secara sederhana dengan jumlah peserta yang terbatas. “Sesuai imbauan dari Pemerintah dan kebijakan dari organisasi Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) Pusat, yang mana untuk kegiatan keagamaan yang mengumpulkan massa sebisa-bisa dikurangi,” kata Ketua Panitia Melasti Kecamatan Banyudono, Boyolali, Tri Atmono kepada para wartawan disela-sela acara Sabtu (21/3/2020).

Pada tahun lalu, ritual ini diawali dengan doa dan tetabuhan kendang dan gamelan yang sekilas menyiratkan suasana di pulau Dewata Bali, sebanyak 400 hingga 700an umat Hindu dari Boyolali, Surakarta, dan Sukoharjo berpakaian adat khas Hindu dengan hiasan bunga di telinga melakukan kirab kurang lebih 1 km menuju sumber mata air, mengawal pengambilan air suci. Beragam gunungan hasil bumi dibawa sebagai wujud syukur atas limpahan kesejahteraan dan kedamaian seluruh umat.

“Jika dalam pelaksanaan tahun lalu ada arak-arakan dengan pentas seni dan kirab budaya, kali ini ditiadakan. Pesertanya kita kurangi. Namun tidak mengurangi makna dari melasti,” ujarnya.

Pihaknya berkeyakinan dengan ritual melasti ini merupakan satu hal untuk menghilangkan segala kotoran yang ada pada diri kita maupun yang ada di lingkungan. Sehingga diharapkan terhindar dari segala bencana termasuk terhindar dari wabah virus corona.

Dijelaskan, air dari Umbul ini adalah satu dari tujuh mata air yang akan digunakan dalam Tawur Kesanga. Enam sumber mata air lainnya, lanjut Tri, antara lain diambil dari Salatiga, Semarang, Klaten, dan Sragen. Air dari ketujuh mata air tersebut akan digunakan sebagai sarana penyucian diri umat hindu dengan alam semesta, sebagai persiapan Nyepi. Dimana umat hindu akan melakukan ritual Catur Brata sebagai wujud introspeksi diri, yakni tidak melakukan kegiatan selama sehari penuh, termasuk tidak makan dan tidur.

Sementara itu Ketua PHDI Boyolali, Pinandita Sutarto, mengatakan mendak tirta kali ini terfokus pada ritual dengan peserta yang minim dan sederhana. Hal itu sesuai anjuran pemerintah untuk mengantisipasu penyebaran virus covid-19.

“Kita antisipasi (virus corona), kita berharap melalui ritual keagamaan ini, senantiasa Tuhan memberikan anugerah sehingga segala bentuk bencana, penyakit, wabah dan segera mereda,” pungkasnya.