HUT KE-57: RSUDPA Boyolali Gelara Pengobatan Gratis dan Sunatan Masal di Cepogo

Pengobatan gratis yang digelar RSUDPA Boyolali dalam rangka HUT ke-57 di Aula Kecamatan Cepogo Sabtu 17 November 2018. (Yulianto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-BOYOLALI-Memasuki musim penghujan warga diminta mewaspadai sejumlah penyakit yang disebabkan oleh nyamuk aedes aegipty. Mengingat datangnya musim hujan dapat memicu perkembangan nyamuk aedes aegipty.

“Ya, seiring mulainya musim penghujan masyarakat perlu mewaspadai munculnya penyakit yang disebabkan oleh nyamuk-nyamuk itu,” ujar dokter Astrid Fitrian disela kegiatan Bhakti sosial memperingati HUT ke 57 RSUD Pandan Arang di Aula Kecamatan Cepogo, Sabtu 17November 2018.

Dijelaskan, nyamuk berkembangbiak dengan memanfaatkan tempat yang terisi air hujan. Untuk itu, masyarakat diingatkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Diantaranya, menerapkan gerakan 3 M yaitu, menutup, menguras dan menimbun tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

“Sejauh ini, langkah 3M, ini cukup efektif mengantisipasi penyakit DBD,“ katanya.

Mengenai antisipasi kesehatan di musim pancaroba ini lanjut Astrid, masyarakat dihimbau untuk meningkatkan daya tahan tubuh untuk menjaga kesehatan. Sejumlah penyakit yang biasa muncul di musim pancaroba di antaranya yakni demam berdarah dengue (DBD) dan berbagai keluhan penyakit perut serta penyakit pernafasan.

Sementara, sedikitnya 200 warga Cepogo mengikuti pengobatan gratis Baksos RSUDPA, dari jumlah sebanyak itu, rata rata mengeluhkan rasa pegal pegal, sakit pernafasan, perut dan sebagian lain mengalami peningkatan kolesterol serta kadar gula.

“Kalau untuk Cepogo, peningkatan kolesterol dan gula ini merupakan penyakit gaya hidup. Artinya penyakit ini bisa saja disebabkan karena pola hidup orang itu sendiri,” papar dia.

Selain pengobatan gratis, sebanyak 15 anak mengikuti sunatan massal di Bhakti sosial tersebut.  Sunatan dimulai sekitar pukul 08.00. Anak-anak dari berbagai daerah di Cepogo. Dengan memakai seragam baju koko dan peci putih, para peserta tampak duduk rapi di kursi. Kemudian, mereka antri masuk untuk disunat. Terdapat sejumlah paramedis atau bong sunat.

Ada yang berani, namun ada pula dari mereka yang takut-takut. Bahkan sempat menangis sebelum disunat. Selain disunat gratis, para peserta juga masih mendapat bingkisan. “Peserta mendapat bingkisan berupa sarung dan uang saku,” imbuh Kabag Umum RSUDPA, Raditya Sumarno.