Panen Raya tapi Petani Buah Melon Tak Bisa Maksimalkan Keuntungan, Ini Alasannya…

Petani melon di wilayah Kecamatan Jumantono, Karanganyar, panen raya Rabu 4 April 2018. (Suroto/Fokusjateng.com)

FOKUS JATENG-KARANGANYAR-Pengaruh tengkulak masih cukup besar bagi petani melon asal Dusun Poncol, Desa Tugu, Kecamatan Jumantono, Karanganyar. Mereka tak bisa memaksimalkan keuntungan penjualan karena harganya dipengaruhi spekulan.

“Perkilo hanya dihargai Rp 4.500 saja. Padahal ini varietas bagus dengan kualitas tak mengecewakan. Normalnya Rp 6 ribu perkilo,” kata salah seorang petani melon asal dusun tersebut, Sukadi (45) kepada awak media Rabu 4 April 2018.

Selama enam tahun terakhir, ia mengandalkan tengkulak untuk membeli panenannya. Sebenarnya ia berkeinginan menjual ke pasar swalayan dan pasar, namun tak tahu jalur distribusinya dan khawatir tidak dibayar kontan. Sehingga setiap kali tengkulak membeli dengan harga rendah, ia pasrah.

“Soalnya sebelum panen saja, sudah datang ke sini menyampaikan niatan membeli dan tawar menawar,” katanya.

Seluruh panenan miliknya di 4.000 meter persegi ladang dibeli tengkulak. Begitu pula dari ladang petani lain di sekitarnya. Pada musim ini, panenannya laku Rp 90 juta. Adapun modal bercocok tanam Rp 60 juta. Meski demikian, keuntungan ini tak sebanding dengan risiko gagal panen. Menurutnya, melon varietas action yang ditanamnya rentan diserang organisme pengganggu tanaman (OPT) dan sensitif perubahan cuaca. Varietas ini mampu menumbuhkan satu buah per batang berbobot 1,7-2 kilogram.

Terlebih, ia hanya memiliki kesempatan sekali panen melon dalam setahun dalam masa tanam selama dua bulan. Apabila menanamnya lagi, dipastikan hasilnya kurang bagus. Untuk menyiasati, ia menanam kacang panjang dan cabai di lahan sama pada musim tanam berikutnya.

“Labanya untuk modal tanam selanjutnya. Tidak banyak yang berani menanam melon karena selain harga jualnya jatuh, modalnya juga harus besar,” katanya.

Seorang buruh tengkulak, Suwarno (35) mengatakan sortir dilakukan sebelum mengangkut melon. Buah yang busuk dan ukurannya kecil disingkirkan. Dari petani melon Poncol, ia mengangkut komoditas itu menggunakan satu unit truk ke Jakarta dan dua unit mobil bak terbuka ke Pasar Legi Solo.